Gambar ilustrasi ini diambil dari Tempo.co (Supatma/PIJARNews.ID).

WEBINAR, PIJARNews.ID – Kajian Kebon Jambu (KKJ) Jombang, Indonesia, menggelar Webinar via Zoom pada Jum’at malam (7/8). Diskusi yang bertajuk Politik, Hukum dan Demokrasi dalam Pemilihan Serentak Lanjutan Tahun 2020 ini menghadirkan pemateri Dr. Aribowo sebagai Pengamat Politik UNAIR dengan Arief Budiman Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia.

Pada sesi pertama Aribowo menyoroti berbagai persoalan dalam perjalanan demokrasi di Indonesia. Ia mulai menjelaskan saat awal reformasi dimana kekuatan Negara sangat rendah, bahkan tidak punya wibawa karena rakyat sudah tidak percaya dan tidak puas pada pemimpin yang berkuasa saat itu.

“Hal ini menandakan bahwa kekuatan rakyat itu besar”, paparnya.

Namun, setelah 20 tahun reformasi berjalan justru hal sebaliknya terjadi secara gradual, Negara menjadi kuat karena berhasil memanfaatkan berbagai hal, misalnya regulasi dan juga aparat penegak hukum sehingga membentuk kelompok oligarki.

Pria yang akrab disapa Ari ini juga mengatakan bahwa oligarki politik tidak hanya terjadi pada kekuasaan yang ada di pusat, melainkan juga terjadi di daerah.

“Inilah yang membuat masyarakat muak dan memutuskan untuk golput”, imbuhnya.

Selain itu faktor lain yang mengakibatkan masyarakat golput juga akibat adanya nama-nama calon pemimpin yang tidak populer, visi-misi, hingga program yang tidak menyentuh.

Ia kemudian mengambil contoh pola golput di beberapa negara, misalnya saja Amerika yang mengklaim paling demokratis, tetapi justru presentase golputnya sangat tinggi, bahkan masyarakat disana mengkampanyekan hal ini. Apalagi dengan adanya pandemi yang akan mengakibatkan tren partisipasi pemilih kemungkinan juga akan turun.

BACA JUGA :  Tes Seleksi Program Beasiswa Guru Madin di Bojonegoro
Flyer Webinar Kajian Kebon Jambu (KKJ) Jombang – Indomesia (Agus Supatma/PIJARNews.ID).

Sementara itu pada sesi kedua, Arief Budiman menekankan pentingnya suara rakyat dalam Pemilu. Ia berujar bahwa Pemilu menempatkan pemilih menjadikan negara ini kuat, hal ini dalam rangka mewujudkan cita-cita luhur bangsa.

Arief kemudian juga membeberkan sejumlah fakta bahwa di Negara kita memiliki masyarakat yang cukup unik, karena tidak pada posisi demokrasi liberal ataupun sistem totaliter, ini juga dilihat dari partisipasi pemilih pada Pemilu tahun 2019 yang cukup signifikan, meskipun banyak yang mengatakan bahwa itu sebuah anomali.

“Ini menandakan di masing-masing negara pemilihnya punya karakteristik tersendiri, tidak bisa disamakan begitu saja”, tegasnya.

Arief juga mengatakan bahwa KPU terus berupaya agar partisipasi sesuai target, meskipun dalam kondisi Pandemi Covid-19. “Upaya yang dilakukan agar pelaksanaan pemilu nanti bisa berjalan lancar, maka seluruh tahapan menggunakan protokol Covid-19”, tambahnya.

Arief juga menyampaikan jika nanti dalam hari pemilihan terdapat pasien Covid-19 yang sedang melaksanakan isolasi, maka akan tetap dilayani dengan standart yang ada, tentu saja tidak ke TPS, tapi di tempat isolasi.

“KPU akan melakukan berbagai macam sosialisasi agar pemilih dapat berpartisipasi maksimal dalam pemilihan”, tutupnya.

Reporter: Agus Supatma Editor: Afrizky Fajar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here