Foto Nurudin (Istimewa/PIJARNews.ID).

PIJARNews.ID – Pertanyaannya, siapkah kita pada kondisi paling buruk dalam soal pandemi covid-19? Jika belum, mulai saat ini saya menyarankan Anda untuk bersiap-siap. Bukan menakut-nakuti. Tetapi ini kemungkinan yang sangat mungkin terjadi. Apa kondisi terburuk itu? Misalnya, vaksin tidak ditemukan. Juga masyarakat sudah tidak bisa dikendalikan dan dinasihati. Pemerintah sudah kawalahan menghadapi kondisi ini; utang membengkak, komunikasi antar pejabat dalam urusan publik kacau, pemerintah mulai menyalahkan masyarakat karena mulai kewalahan, dan para elite politik sibuk berebut kekuasaan.

Lalu para kaum oligarki semakin leluasa “mengelola” negeri ini. Juga ada yang mulai melarikan dananya ke luar negeri? Lalu kita “diblokir” beberapa negara yang mulai menganggap penanganan pandemi di Indonesia tidak serius? Apakah Anda bisa membayangkan kondisi terburuk seperti ini? Ini seandainya. Hanya seandainya, tetapi membutuhkan pemikiran serius.

Sekali lagi itu pernyataan dan pertanyaan tidak untuk menakut-nakuti. Itu juga bukan menyarankan kita hidup pesimis. Tidak ada niat saya mengajak untuk itu. Hal di atas juga bukan niat untuk memberontak pemerintah yang tidak sigap dan cepat dalam menangani pandemi karena lebih banyak berurusan dengan persoalan politik. Sekali lagi bukan itu.

Semua ini hanya mengingatkan dan mengajak untuk terus waspada. Anggap saja negara ini dalam kondisi “sekarat”. Dalam kondisi begini kita akan wajib mempunyai pikiran lain dari sebuah kemungkinan demi kemungkinan. Ingat bahwa virus ini tidak pasti, tidak kelihatan. Kalau virus semacam manusia, maka ia bisa dilihat dan diajak berkelahi karena dianggap menyengsarakan banyak orang.

Siap Tidak Siap, Harus Siap

Tetapi pilihan terburuk itu tetap harus kita pikirkan bersama-sama, bukan? Janji-janji para pejabat untuk menemukan vaksin belum terealisasi. Bahkan dengan sombongnya mereka mengatakan bahwa virus ini tidak akan berkembang ke Indonesia karena kondisi alamnya. Kita bangsa kuat karena banyak berdoa. Virus ini juga tak akan masuk ke Indonesia karena “izinnya” berbelit-belit. Sebuah guyonan satir tetapi betapa menunjukkan bahwa pejabat kita aslinya sudah kewalahan.

Terkait pembicaraan pejabat, ada baiknya mengetahui apa yang tidak diucapkan. Sering kali inti pesan komunikasi itu ada pada apa yang tidak diucapkan (Nurudin, 2016).

Bukankah kita ingat jejak digital omongan para pejabat kita tersebut di atas? Silakan browsing sendiri. Lalu pertimbangan kalangan akademisi juga ditolak mentah-mentah oleh pemerintah, misalnya terkait karantina wilayah sementara waktu. Jika dulu itu dilakukan, memang berbiaya besar, tetapi wabah ini bisa ditekan dengan lebih tepat. Tetapi sekali lagi keputusan ada di tangan pemerintah, yang lain cuma usul.

Kecurigaan waktu itu mulai bermunculan. Bahwa pemerintah akan menerapkan herd immunity (kekebalan kelompok). Geger jagad media sosial. Mereka yang mencurigai pemerintah mau menerapkan herd immunity sebagai pihak yang tidak suka pada pemerintah. Maunya hanya mengkritik. Selalu menyudutkan pemerintah. Bahkan seorang teman saya pernah mengatakan bahwa mereka yang mendukung karantina wilayah kelompook yang ingin membuat negara kacau, kemudian mau mengambil alih. Sedemikian mudahnya kesimpulan sepihak diambil hanya berdasar suka dan tidak suka.

BACA JUGA :  Celoteh Harapan di Hari Tani

Sekarang apa yang terjadi? Kecenderungan herd immunity bisa menjadi alternatif yang sangat mungkin akan dipilih. Tentu saja tanpa ada istilah atau gembar-gembor herd immunity tetapi dalam pelaksanaannya terkait menghadapi pandemi covid-19 ini kita sudah melaksanakan. Jadi, bersiaplah untuk herd immynity tersebut. Ini salah satu kemungkinan terburuk tadi. Siapkah kita? Ya tentu harus siap.

Ini Pilihannya

Jadi, kemungkinan terburuk harus mulai disiapkan mulai sekarang. Bukan pesimis atau menyerah. Itu sebuah kesadaran lain dan penting dengan melihat kondisi di sekitar. Lalu apa yang harus dilakukan?
Pertama, tetap mendukung kebijakan pemerintah dalam penanganan pandemi virus covid-19, tetapi tidak perlu seratus persen percaya pada omongan pejabat. Karena mereka itu pejabat politik.

Tentu saja keputusannya akan dipertimbangkan secara politik pula. Bukan tidak percaya mereka, hanya selipkan pemikiran kita bahwa mereka tak seserius sebagaimana yang dikatakannya. Ini akan membuat kita lebih sehat. Minimal akan mengurangi kekecewaan jika apa yang diomongkan tidak terwujud. Enak kan?

Kedua, bersiap melaksanakan potokol kesehatan secara ketat. Pilihan ini tak bisa dibantah. Masyarakat harus mempersiapkan diri sendiri terkait kesehatan. Salah satunya “membentengi diri sendiri” dari penyebaran virus. Tidak usah percaya begitu saja soal vaksin. Daripada mengharapkan datangnya vaksin tetapi pada akhirnya tidak ada, lalu bagaimana? Repot bukan? Tak ada cara lain kecuali melaksanakan anjuran dokter dan tenaga medis lainnya. Mereka inilah yang lebih tahu soal virus, bukan sekadar anjuran para pejabat.

Ketiga, mulai hidup normal dengan kondisi yang lebih baru. Asumsikan bahwa virus ini bekum bisa diberantas sekian bulan, bahkan sekian tahun kemudian. Tidak usah saling menyalahkan. Yang penting dilakukan adalah apa yang bisa kita perbuat untuk bisa bertahan dengan kondisi pandemi covid-19 tetapi tetap produktif? Pilihannya, kemampuan untuk beradaptasi dan lebih kreatif, tentu saja dengan kemampuan masing-masing. Tak ada krativitas yang paling hebat. Yang lebih hebat adalah mereka yang kreatif dengan caranya masing-masing.

Keempat, virus ini meyadarkan pada kita bahwa betapa kecilnya kemampuan manusia itu. Kondisi ini menjadi sarana untuk introspeksi akan keegoan diri manusia. Pandemi ini menyadarkan pada manusia bahwa saat inilah sisi-sisi kemanusiaan seseorang perlu dibangun kembali. Rasa peduli, empati dan pentingnya rasa kemanusiaan seseorang sedang “ditelanjangi” dengan virus covid-19. Apakah manusia bisa menyerap teladan itu?

Sadar pada pilihan dan kemungkinan terburuk bukan sesuatu yang membuat kita pesimis. Masalahanya, tak jarang pilihan terburuk sering kali baru bisa membuat sadar seseorang setelah semuanya terjadi. Sejarah bangsa ini sudah memberikan banyak pelajaran. Mengapa kondisi negara yang kaya sumber daya alam dan manusia ini tidak segera maju sebagaimana bangsa lain? Kita tidak mau belajar dari sejarah karena sejarah berada dalam ketiak ego para elite politiknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here