Fajrul Islam Ats-tsauri (Rik/PIJARNews.ID).

Editor: Suhartatok

PIJARNews.ID – Mohamed Salah adalah seorang pemain sepak bola asal Mesir yang namanya cukup fenomenal saat ini. Pemuda 28 tahun itu muncul menjadi idola baru para fans sepakbola seluruh dunia. Karena sentuhan emas kaki kirinya dan kecepatan larinya, Salah berhasil membawa klubnya Liverpool ke puncak kejayaan. Menjadi juara Liga Champions Eropa musim 2018/2019. Juara Liga Inggris musim 2019/2020, yang mengakhiri dahaga gelar kompetisi domestik selama 30 tahun untuk klubnya. Torehan manis ini dilengkapi pula dengan menjadi kampium Piala Super Eropa tahun 2019 dan juara Piala Dunia Antar Klub di tahun yang sama.

Prestasi ini semakin lengkap dengan penghargaan pribadi yang diterima oleh Salah. Pemain terbaik Liga Inggris musim 2017/2018. Top scorer Liga Inggris musim 2017/2018 dan 2018/2019. Pemain terbaik Afrika dua tahun berturut-turut yaitu tahun 2017 dan 2018.

Dengan prestasi yang ditorehkan oleh Salah di klubnya, ia menjadi pemain yang dielu-elukan oleh Liverpudlian sebutan suporter Liverpool. Dalam suatu pertandingan, Liverpudlian gegap gempita penuh kegembiraan menyanyikan chant di stadion Anfield kandang Liverpool. Mereka ingin menjadi muslim jika Salah terus mencetak gol.

” Mo Salah lah lah lah lah. Mo Salah lah lah lah lah. If he’s good enough for you. He’s good enough for me. If he scores another few. Then I’ll be Moslem too. If he’s good for you. He’s good enough for me. Sitting in the mosque. That’s where I wanna be. Mo Salah lah lah lah lah. Mo Salah lah lah lah lah “. Begitu chant dari Liverpudlian.

Di cabang olahraga yang berbeda, Khabib Nurmagomedov muncul tak kalah sensasional. Ia menjadi idola baru setelah secara meyakinkan mengalahkan Connor McGregor pada ronde ke empat dalam duel memperebutkan title juara UFC (Ultimate Fighting Championship) kelas ringan pada tahun 2018. Pertarungan yang dilabeli ‘ Terbesar dalam Sejarah UFC ’. Khabib memegang rekor bertanding 27 laga tanpa sekali pun kalah. Sementara Mc Gregor bertarung 24 kali. Menang 21 kali, dan tiga kali kalah.

Minggu, 24 Oktober 2020, Khabib memberikan kejutan besar bagi penggemar UFC. Setelah mempertahakan gelar juara dengan mengalahkan Justin Gaethje di Abu Dhabi. Kemenangan yang begitu emosional bagi Khabib, setelah kematian sang ayah, bulan Juli 2020 akibat covid-19. Ayah yang juga mentor sekaligus sahabat. Setelah dinyatakan menang secara submission (lawan menyerah) di ronde kedua, Khabib tak kuasa menahan kebahagiaan bercampur kesedihan. Ia memilih bersimpuh ketimbang selebrasi jumawa, ia langsung bersujud syukur.

Pria kuat itu pun tak kuasa membendung air matanya. Khabib secara emosional mengumumkan pengunduran dirinya di atas ring oktagon yang melambungkan namanya. “Hari ini pertarungan terakhir saya, Ibu tidak ingin saya bertarung tanpa ayah, tapi saya berjanji padanya ini menjadi laga terakhir saya.” Khabib mundur dipuncak karir. Umur 32 tahun meninggalkan arena oktagon dengan rekor 29 kali menang dan belum terkalahkan.

Keteladanan Beragama

Salah dan Khabib, dua-duanya adalah atlet kelas dunia yang tetap mempertahankan jati dirinya sebagai muslim sejati. Mereka dikenal sebagai Muslim yang taat, tekun beribadah, dan membaca Al-Qur’an. Khabib memiliki ritual senantiasa mengangkat kedua tangannya berdoa di pinggir ring sebelum bertanding. Alhamdulillah merupakan kata-kata favoritnya ketika jumpa pers sebelum maupun sesudah pertandingan. “ Kemenangan saya adalah kehendak Allah ” tak pernah alpha ia ucapkan pada sesi wawancara. Ia berusaha menagkis segala ujub, riya’, dan takabbur. Di tempat berbeda, Salah tak pernah segan menunjukkan identitas Islamnya dengan berdoa di lapangan sebelum dan sesudah pertandingan. Ia selalu mengekspresikan kegembiraanya mencetak gol dengan bersujud syukur.

Perangai yang baik tidak hanya ditunjukkan di lapangan dan ring, namun juga di luar gelanggang. Di tengah kehidupan glamour pesohor olahraga dunia, Khabib dan Salah tetap mempertahankan kehidupan sederhana.

Keduanya mempunyai jiwa kepedulian sosial yang tinggi. Khabib menyumbangkan pendapatannya dalam pertarungan mempertahankan gelar melawan Dustin Poirier ke lembaga sosial lawannya tersebut. Salah memiliki banyak kegiatan amal yang didekasikan untuk membantu orang miskin. Melalui yayasan amalnya Salah Charity Foundation , ia membantu menyediakan bahan makanan dan peralatan medis bagi kaum papa. Salah juga mendanai pembangunan rumah sakit dan sekolah khusus perempuan di kota kelahirannya. Ia juga memberi bantuan dana kepada para mantan pemain nasional Mesir yang mengalami masa sulit pasca pensiun. Salah adalah air mata baru ribuan orang muda Mesir yang sudah dibantu olehnya. mereka adalah contoh kesalehan hidup.

Akar Islamophobia

Belakang ini fenomena Islamophobia di dunia barat (Eropa-Amerika Utara) kembali menguat. Pertanyaannya? darimana pandangan negatif barat terhadap Muslim ini berasal? Apakah muncul secara alamiah? Atau ada usaha memunculkannya dari beberapa pihak yang mempunyai kepentingan ekonomi-politik tertentu dalam isu anti-Muslim?

BACA JUGA :  Cerita dari Waduk Sepat Surabaya

Nathan Lean dalam bukunya The Islamophobia Industry: How the Right Manufactures Fear of Muslims menjawab pertanyaan di atas. Pasca kekakalahan komunisme pada perang dingin, Barat membutuhkan lawan tanding baru. Sosok ‘ monster ’ baru disematkan kepada Islam. Teori ini mirip dengan Clash Of Chivilization -nya Samuel P. Huntington. Setelah Soviet ambruk musuh utama Barat adalah Islam.

Namun pada dasarnya menjadikan Muslim sebagai sosok monster, ialah dengan cara mempersepsikan Muslim sebagai yang lain. Muslim dianggap anti-demokrasi, anti kebebasan, kejam, bengis.

Menurut Lean, monster bisa berganti rupa dari komunisme menjadi Islam, namun tujuannya hanya satu, memelihara ras takut. Karena dengan rasa takut akan sesuatu yang tak mudah terjelaskan (seperti monster), maka masyarakat mudah dibuat percaya dengan segala kata-kata dan rencana pihak-pihak yang menuding sosok monster tersebut.

Pihak-pihak tersebut, bagi Lean, tak hanya bekerja terpisah, namun ia seperti sebuah industri. Industri yang memelihara rasa takut publik akan kehadiran monster yang menakutkan, yang mengancam kehidupan mereka. Ketakutan dan prasangka Barat terhadap Islam adalah dagangan menarik untuk dijual terus menerus. Maka sebuah industri bekerja untuk menciptakan Islamophobia. Industri Islamophobia adalah sebuah industri yang bernilai jutaan dollar.

Menurut Lean, industri ini memang tidak berwujud corporation, namun lebih dinamis dan fleksibel. Walau demikian, pihak-pihak yang bergerak di bidang ini dapat dengan mudah diidentifikasi. Mereka terhubung secara singnifikan baik dalam isu maupun finansial. Pertama adalah kelompok dan politisi sayap kanan. Kedua adalah media massa beridelogi konservatif. Ketiga adalah jaringan kebencian online (blog dan medsos).

Pertanyaannya, apa korelasi Islampohobia dengan Salah dan Khabib? Fakta menunjukkan keberadaan Salah di Liverpool ternyata berdampak positif bagi kehidupan masyarakat Muslim di Inggris. Para peneliti dari Stanford University dan ETH Zurich mengobservasi kasus kejahatan rasial yang terjadi tahun 2015 hingga 2018 di Merseyside ( homebase bagi Liverpool). Selain itu, para peneliti juga menganalisis cuitan bernada anti-Muslim di twitter yang dilakukan Liverpudlian.

Penelitian ini berusaha untuk mencari tahu apakah paparan seorang tokoh yang sukses dari kelompok yang mengalami stigma buruk bisa mengurangi prasangka buruk orang-orang terhadap kelompok itu pada umumnya?

Hasilnya, sebagaimana dipaparkan dalam laporan riset bertajuk ‘ Can Exposure to Celebrities Reduce Prejudice? The Effect of Mohamed Salah on Islamophobic Behaviors and Attitudes ‘ ada korelasi antara keberadaan Salah dengan penurunan sentimen buruk terhadap Muslim dan Islam di wilayah Merseyside. Kejahatan rasial yang ditujukan terhadap orang-orang Muslim mengalami penurunan 18,9%. Angka penurunan tersebut dihitung sejak Salah resmi bergabung dengan Liverpool pada tahun 2017 lalu. Di samping itu jumlah tweet bernada anti-Muslim dari supporter Liverpool juga menurun, dari 7,2% menjadi 3,4% sejak keberadaan Salah di Liverpool.

Dari riset ini menunjukkan, bahwa paparan positif terhadap anggota terkenal dari kelompok luar (Salah dan Khabib) dapat mengurangi sikap dan perilaku berprasangka.

Sebagai publik figur yang mempunyai pengaruh besar kepada fans disadari pula oleh Khabib. Dia berusaha sebaik mungkin menjadi teladan sebagaimana yang pernah ia tuturkan, “Di akhir zaman, anda harus memikirkan generasi muda. Saya ingin jadi orang baik. Saya tahu hal ini sangat sulit, tidak ada manusia sempurna, setiap orang berbuat salah, tapi saya ingin jadi contoh yang baik untuk generasi muda,” ucapnya dalam sebuah wawancara.

Di lain kesempatan Khabib berujar, “Orang Non-Muslim tidak membaca Qur’an dan Hadits, yang mereka baca adalah dirimu. Maka, jadilah cerminan Islam yang baik,” ujarnya.

Ucapan dan gerak-geriknya dilihat, dinilai, serta diteladani penggemarnya. Dengan ceruk penggemar UFC di seluruh dunia yang jumlahnya 285 juta orang bukanlah angka yang kecil.

Salah dan Khabib mencounter Islamophobia langsung di jantung peradaban Barat, tidak dengan amarah, umpatan dan caci maki. Tidak dengan tindak kekerasan dan kerusakan, tetapi melalui pribadi yang santun, kesederhanaan, kerendahan hati, dan kepedulian ditunjang dengan karya dan prestasi. Mereka berhasil menampilkan wajah Islam yang moderat (tawassuth), toleran (tasamuh), berkeadilan (ta’adul).

Inilah dakwah dalam bentuk bil hal (perbuatan). Dari mereka kita dapat belajar bahwa cara terbaik melawan stigma negatif tentang Islam adalah dengan menunjukkan diri sebagai Muslim yang berprestasi dan berkontribusi pada peradaban, serta menampilkan citra Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Mampukah kita mewujudkannya? Semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here