Muhammad Adalah Pemimpin Revolusi Sejati

0
362
Ali Ahmadi (Rik/PIJARNews.ID).

PIJARNews.ID – Nabi Muhammad SAW merupakan seorang tokoh pemimpin sejati dan salah satu utusan Allah yang telah dilahirkan menjadi tokoh hebat, beliau berhasil membawa titik balik perubahan peradaban dan tatanan masyarakat hingga kemudian layak menjadi idola bagi masyarakat hingga saat ini. Sejarah dibaca memang untuk melahirkan tokoh di masa lampau. Ini menjadi salah satu filosofi dari disiplin sejarah itu sendiri.

Dalam Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini menyegarkan kembali bahwa hanya ada satu tokoh kunci dan super idol dalam keyakinan kita, yakni Nabi Muhammad SAW. Maka tidak berlebihan barangkali ketika pada tahun 1978, seorang Michael H. Hart dalam The 100, A Ranking of The Most Influential Persons in History, menempatkan Nabi SAW sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sejarah. Thomas Carlyle, dalam On Heroes, Hero, Worship, and The Heroes in History, memposisikan beliau sebagai orang terpenting dari aspek kepahlawanan. Marcus Dodds, dalam Muhammad, Budha, and Christ, menyebut beliau sebagai tokoh paling berani secara moral. Will Durant, dalam The Story of Civilization in The World, menempatkan beliau sebagai orang pertama dilihat dari hasil karyannya.

Sementara, dalam Muhammad al-Rasul wa al-Risalah, Nazame Luke menempatkan ajaran Nabi sebagai yang paling perfectable, yang pasti, semuanya berkesimpulan bahwa Muhammad SAW adalah manusia teragung dalam sejarah. Penilaian ini tentu tidak berlebihan. Bahwa Muhammad SAW adalah manusia multidimensional. Sosok pemimpin yang alim, politikus yang agamawan, dan panglima yang menawan. Pemimpin yang membela hak-hak kaum tertindas.

Sejarah telah mencatat bahwa Nabi hadir di tengah-tengah masyarakat Arab jahiliah dengan visi dan misi untuk mendekonstruksi segala bentuk sistem sosiokultur yang sarat dengan benih diskriminasi. Ketika itu, masyarakat Arab masih terbelenggu fanatisme kesukuan dan klanisme, dan karenanya, tak mengherankan jika konflik antarsuku dan etnik kemudian menjadi pemandangan keseharian dunia Arab kala itu.
Namun, seiring dengan tumbuh dan berkembangnya kepemimpinan Nabi, sistem sosiokultur yang bercorak eksklusif dan tiranik itu, sedikit demi sedikit terkikis dan terkubur dalam-dalam. Nabi pun menghapus sistem sosial yang diskriminatif menjadi egaliter, karena di mata Tuhan sejatinya tak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin, antara yang berkulit putih dan hitam.

Nabi juga mengecam fanatisme suku dan etnik. Baginya, pluralisme suku dan etnik merupakan bukti kebesaran Tuhan. Karenanya, anugerah itu harus mampu disinergikan menjadi kekuatan besar untuk menjalin kerjasama guna mengatasi berbagai problematika hidup yang dihadapi. Bukan justru dijadikan dalih untuk menyulut konflik terbuka.

Ketika terjadi banjir yang meruntuhkan sebagian dinding Ka’bah dan mengakibatkan Hajar Aswad jatuh, misalnya, semua kabilah merasa berhak meletakkan ‘batu hitam’ itu. Terjadilah perkelahian antarkabilah. Tak lama kemudian, datanglah seorang tua bernama Abu Umayyah ibn al-Mughiroh al-Mahzumy untuk mendamaikan pertengakaran yang tengah bergejolak. Beliau pun menawarkan solusi agar yang meletakkan Hajar Aswad itu orang yang kali pertama memasuki Ka’bah dari pintu Bani Syaibah.

Singkat cerita, ’perlombaan’ itu dimenangkan oleh Muhammad. Tanpa diduga, ketika akan mengangkat Hajar Aswad, beliau meminta sehelai kain dan mengajak ’koalisi’ dengan menyuruh setiap kabilah untuk menunjuk wakilnya. Mereka yang ditunjuk diminta memegang pinggir kain itu dan mengangkat Hajar Aswad bersama-sama, kemudian Muhammad menempatkannya di tempat semula dengan kedua tangannya. Perebutan ‘kue politik’ pun berakhir dengan damai.

Peristiwa diatas menggambarkan betapa kebijakan ’politik’ Muhammad itu sangat adil dan demokratis. Meski telah diberi otoritas penuh untuk mengangkat Hajar Aswad tetapi karena persoalan yang sedang dihadapinya itu berkaitan dengan masyarakat, kepentingan berbagai kabilah, suku maupun golongan, maka keterlibatan semua kelompok sangat diperlukan. Pantaslah bila kemudian beliau mendapat gelar Al-Amin.

Meskipun suku Quraish (suku asal Nabi) berpredikat the best dan Islam sebagai agama dominan, tetapi mereka tidak dianakemaskan. Seluruh lapisan masyarakat duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Ideologi sukuisme dan nepotisme tidak dikenal Nabi.

Dalam aspek ekonomi, Nabi mengaplikasikan ajaran egaliterianisme, yakni, pemerataan saham-saham ekonomi kepada seluruh masyarakat. Seluruh lapisan masyarakat mempunyai hak yang sama untuk berusaha dan berbisnis. Karena itu, Nabi sangat menentang paham kapitalisme, dimana modal atau kapital hanya dikuasai oleh suatu kelompok tertentu yang secara ekonomi telah mapan.

BACA JUGA :  Melihat Esok di Hari Ini; Sebuah Keprihatinan Sekaligus Harapan untuk Angkatan Muda Muhammadiyah

Di samping faktor politik dan ekonomi, hal sangat mendasar yang ditegakkan Nabi adalah supreme of court (konsistensi hukum). Sebagai sejarawan ulung, Nabi memahami bahwa aspek hukum sangat urgen dan signifikan kaitannya dengan stabilitas suatu bangsa.

Keadilan yang berhasil ditegakkan akan mengantarkan terjadinya pencerahan peradaban. Sebaliknya, kekacauan, kekerasan, dan kejahatan, akan mencabik dan mengoyak kehidupan masyarakat (bangsa), manakala hukum dan keadilan ‘dimatikan’.

Penokohan dari semua peristiwa di atas tentunya tidak asal comot tanpa parameter dan tanpa telaah mendalam, melainkan dengan melalui proses analisa historis yang komprehensif dan tentu objektif. Bagaimana mungkin seorang Muhammad yang hidup yatim piatu, berasal dari kelaurga miskin dan seorang pengembala domba, mampu menguasai lebih dari separuh dunia. Ajarannya bahkan masih dikenang dan bergema serta kokoh di setiap jiwa umatnya sampai sekarang. Ini tentu sebuah prestasi sejarah yang tak ada tandingannya.

Ada satu hal yang kiranya perlu ditekankan dan kedepankan, bahwa kelahiran Nabi Muhammad, sesungguhnya merupakan rahmat terbesar yang telah dilimpahkan Allah SWT, atas alam dan umat manusia keseluruhannya. Hal ini sesuai dengan firman Allh Swt yang telah dinukilkan dalam Al-Qur’an tersebut adalah merupakan dasar bagi pemuliaan Muhammad yang jauh melampaui penghormatan yang biasanya diberikan kepada seorang Nabi, dan bahkan kini kaum Muslim yang taat tidak akan pernah menyebutkan sesuatu yang dimiliki oleh atau berkaitan dengan Nabi tanpa menambahkan atribut syarif (“mulia”). An-biya ayat 107, “Muhammad adalah utusan Allah”.

Meskipun Nabi Muhammad, telah tiada, tetapi warisan berharga yang ditingalkannya, Al-Qur.an dan As-Sunnah adalah dua rahmat Allah yang ditinggalkan Nabi kepada kita umatnya, untuk dijadikan pegangan hidup yang akan menuntun manusia pada jalan keselamatan dunia dan akhirat.

Membahas tentang Nabi Muhammad SAW dan perjalanan hidup beliau akan sangat panjang ceritanya, namun yang jelas Nabi Muhammad SAW yang merupakan nabi akhir zaman ini adalah seorang pemimpin yang wajib dijadikan tauladan pemimpin saat ini, mulai dari perkataan dan tindakannya serta sikap dan sifatnya yang hanya mengandung kebaikan, kebaikan dan kebaikan adalah contoh bagaimana menjadi pemimpin masa depan. Hal ini sejalan dengan Q.S. Al-Azhab : 21, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasullulah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang mengaharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.

Di sisi lain, mengenai kejayaan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pemimpin umat dan negara, kita tidak boleh terlena dengan kejayaan itu. Tugas kita sebagai pemimpin masa sekarang hanya menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri teladan untuk menjadikan diri kita sebagai pemimpin-pemimpin masa depan, pemimpin yang futuristik. Dan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi kesempatan yang tepat untuk melakukan refleksi itu. Sebab, satu hal yang mestinya dipahami bahwa regenarasi itu perlu dalam setiap pergantian zaman ke zaman. Era sekarang sangat membutuhkan pemimpin yang demikian.

Nabi Muhammad saw, akan terus dikenang dan disebut, dalam do’a dan ungkapan, yang dalam setiap ceramah dan tausiyaih , selalu mengingtkan warga masyarakat, untuk berbuat yang terbaik, bagi sesama. Seperti pepatah “Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama”.

Untuk dapat dikenang orang, tidak harus menjadi orang besar. Tetapi setiap orang dapat menjadi manusia yang dikenang, tidak hanya ketika masih hidup, tetapi juga ketika sudah tiada lagi di dunia ini. Untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, tidak ada batasan suku, budaya, kepercayaan ataupun usia. Sebagai seorang manusia, kita diberikan kebebasan oleh Sang Pencipta, untuk memilih: menjadi manusia yang dikenang karena bermanfaat bagi orang lain, atau menjadi manusia yang dilupakan, karena kehadirannya di dunia ini tidak berarti apapun bagi sesama. ada ditangan kita masing masing.

Esensi Maulid sebagai Sarana Mempererat Silaturrhami dan Ukhuwwah, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah merupakan peristiwa besar dalam sejarah Islam dan memiliki arti yang sangat penting, bukan hanya bagi kehidupan beragama tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat.

Tiada kecerdasan Tanpa Kekuatan, Tiada Kekuatan Tanpa Persatuan, Tiada Persatuan Tanpa Kebersamaan, dan Tiada Kebersamaan Tanpa Persaudaraan yang sejati dengan indah dan damai dalam Ajaran Agama Islam.