Panggung Perlawanan Rakyat yang digelar Aliansi Lumajang Bergerak (Mizan/PIJARNews.ID).

Editor: Ahmad

LUMAJANG, PIJARNews.ID – Penolakan terkait Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law) masih menjadi isu nasional. Sama halnya yang tetjadi di Kabupaten Lumajang, aliansi yang bernama Lumajang Bergerak terus menyatakan penolakannya.

Aksi yang bertempat di Warkop Pring Pitu pada Jum’at (30/10), Lumajang Bergerak kembali menggaungkan perlawanan yang dibalut dengan kesenian bernama Panggung Perlawanan Rakyat.

Duta salah seorang penanggung jawab pada kegiatan ini, menjelaskann jika kegiatan ini merupakan tindak lanjut aksi demonstrasi tolak Omnibus Law.

“Tujuan Panggung Perlawanan Rakyat ini adalah sebagai tindak lanjut dalam menyampaikan narasi kami terkait penolakan Omnibus Law”, ucapnya.

Dalam pangung ini, setiap perwakilan organisasi yang tergabung diwajibkan menampilkan keseniaan seperti pembacaan puisi, musikalisasi puisi, teatrikal, musik akustik, stand up comedy, hingga tari remo khas Jawa Timur.

Aliansi Lumajang Bergerak ini, merupakan gabungan dari Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) baik pelajar hingga mahasiswa seperti IMM, HMI, PMII, GMNI dan beberapa BEM kampus di Lumajang, KP2L, Lumajang Progresif, Aliansi Pelajar Lumajang, Lumajang Feminist, serta Perpus Jalanan.

Lumajang Bergerak akan terus menyampaikan narasi-narasi penolakan terkait UU Cipta Kerja melalui berbagai bentuk kegiatan. Dalam aliansi ini mereka bersepakat dan berharap pemerintah mendengarkan aspirasi rakyat guna mencabut UU Cipta Kerja yang akan menyengsarakan rakyat.

“Karena, sampai detik ini pemerintah belum mendengarkan atau menggubris penolakan ini. Terlebih, telah terjadi aksi di berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke”, tutupnya.

BACA JUGA :  PPKM Mikro Gresik Dinilai Berhasil, Pangdam V Brawijaya Apresiasi Desa Zona Hijau COVID-19