Dok. Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Wiwis/PIJARNews.ID).

Editor: Fahrul Wiwis

JAKARTA, PIJARNews.ID – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui berbagai cara, diantaranya dengan meningkatkan produksi pada semua sub-sektor pertanian. Terutama pada tanaman pangan seperti padi, hortikukultura dan juga perkebunan.

Berdasarkan data yanh dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kamis (5/11), pertumbuhan sektor pertanian pada Kuartal III tumbuh sebesar 2,15 persen (y-on-y) atau sebesar 1,01 persen (q-to-q).

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, menjelaskan bahwa peningkatan itu terjadi karena panen raya padi kedua di sejumlah daerah masih berjalan dengan baik. “Selain itu, juga dari pertumbuhan subsektor hortikultura yang dibarengi dengan peningkatan permintaan buah dan sayuran.” Ungkapnya.

Lebih lanjut, Kuntoro menyampaikan, bahwa dari sektor perkebunan juga mengalami pertumbuhan. “Perkebunan juga tumbuh yang didorong dengan adanya peningkatan permintaan luar negeri seperti komoditas kakao, karet, cengkeh dan tembakau,” terangnya.

Sementara mengenai kontraksi sub sektor peternakan, Kuntoro menyampaikan ada penurunan. “Penyebabnya adalah penurunan jumlah pemotongan hewan kurban pada Idul Adha yang lalu, serta masih rendahnya permintaan produk  ternak untuk restoran dan perhotelan sebagai imbas pandemi Covid-19.” Lanjutnya.

Meski demikian, lanjut Kuntoro, BPS mencatat bahwa nilai ekspor pertanian pada periode Januari-September 2020 mencapai US$ 2,82 miliar atau meningkat sebesar 9,7 persen jika dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya US$ 2,57 miliar.

BACA JUGA :  BAD PDPM Lumajang, Khoirul Abduh Bahas Tantangan Dakwah dalam Segala Lini

“Untuk  nilai ekspor olahan pertanian pada periode yang sama juga meningkat sebesar US$ 18,47 miliar atau 5,97 persen jika dibanding tahun lalu yang hanya US$ 17,43 miliar,” katanya.

Kuntoro mengatakan, peningkatan yang terjadi juga memiliki dampak besar pada naikknya Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Juni-September masing-masing sebesar 101,66 dan 101,74, dimana angka keduanya lebih besar dari 100.

Di samping itu, Kementan memastikan bahwa kebutuhan beras hingga akhir tahun  dipastikan dalam kondisi aman dan terkendali. Kepastiam ini terlihat dari jumlah produksi beras Januari-September tahun 2020 yang mencapai 26,06 juta ton.

Dok. Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Wiwis/PIJARNews.ID).

“Bahkan diperkirakan sampai akhir Desember 2020 produksi beras akan mencapai 31,63 juta ton atau meningkat 1 persen jika dibanding tahun sebelumnya. Dengan angka produksi tersebut maka akan ada stok di akhir tahun sebesar 7,4 juta ton,” jelasnya.

Menurut Kuntoro, salah satu faktor pendorong terhadap capaian tersebut diantaranya adalah tingginya serapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian pada periode Januari-September 2020 yang mencapai Rp 36,95 triliun atau meningkat 24 persen jika dibanding periode yang sama di tahun 2019.

“Sekali lagi, ini membuktikan bahwa pertanian merupakan sektor tulang punggung bagi perekonomian nasional,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here