OPINI, pijarnews.id – Di bulan puasa kita mencoba sekuat tenaga untuk bertindak, beribadah, dan mengekpresikan cinta secara tidak konvensional—jauh dari kebiasaan yang sudah-sudah atau yang lumrah pada bulan selain Ramadhan. Jika pada bulan biasa, ummat Islam terkesan lepas kontrol untuk menyalurkan hasrat konsumsi, hasrat ibadah yang jauh dari orientasi cinta manusia dan lingkungan hidup—maka di bulan training nan istimewa ini kita diharapkan untuk bertindak lebih sportif, lebih selektif, dan lebih emansipatif. Puasa bukan hanya ritual biasa, tetapi ritual yang dituntut memberi kemaslahatannya bagi semesta raya. Puasa harus move on dari ritual ibadah nafsi-nasfi atau individual menjadi ritual sosial dan ekologis. Buku yang baik sekali dibaca untuk menghijaukan praktik keagamaan kita itu adalah berjudul Green Deen karya Abdul Matin dari Amerika yang mengkisahkan bagaimana Islam mengajarkan kita memperoteksi planet dengan narasi-narasi keseharian warga muslim di New York. Islam harus dibawa lebih dekat kembali dengan lingkungan hidup—bringing back islam in to our environmental issues. Islam sejati haruslah dilekatkan kepada orang muslim yang sangat sangat peduli terhadap masalah planet bumi dan alam raya.

Setahun terakhir ini banyak sekali ‘tuduhan’ dan bahkan temuan hasil riset yang menempatkan kelompok beragama sebagai penyumbang besar atas munculnya beragam permasalahan lingkungan hidup khususunya sampah plastik yang ada di lautan, di sungai-sungai dan selokan, dan juga plastik kemasan yang terus memadati daratan. Juga masalah persampahan yang diakibatkan oleh pola konsumsi berlebihan di kalangan masyarakat yang terlalu toleran terhadap kemubadziran dan sampah. Berdasarkan laporan kementerian lingkungan hidup tahun 2019, setiap hari bangsa Indonesia membuang sebanyak 10,7 juta Ton sampah, terbanayak adalah sisa makanan yang menempatri prosesentase terbesar. Namun bukan berarti sampah plastik sebanyak 16% harus dinomorduakan penanganannya. Karena plastik punya persoalan yang tak terperikan dan dapat mengancam kehidupan jangka panjang.

Masalah ini terus menerus terjadi dan membesar seolah tidak ada jalan keluar. Ibarat lingkaran setan, maka salah satu cara paling efektif melawan setan adalah dengan jalan puasa—dengan kerja ibadah yang penuh kesungguhan. Bulan Ramadhan adalah bulan paling memungkinkan untuk memulai menyelesiakan persoalan lingkungan akibat pola konsumsi yang nir-qur’ani dan nir-ekologi. Puasa hijau—sebuah paradigma bahwa puasa haruslah mengutamakan dimensi ekologi untuk menjadikan nilai ibadah puasa benar-benar mendorong kemuliaan sesama, lingkungan dan agama.

Bulan Ramadhan hijau ini dapat dimaknai secara transformatif dengan mempelrihatkan tiga aspek utama. Pertama, mengurangi konsumsi berlebihan. Bulan puasa sejatinya adalah secara radikal mengurangi konsumsi makanan, pakaian (mengurangi cuci laundry), plastic, dan energi tidak terbarukan sehingga puasa yang kita lakukan punya dimensi proteksi terhadap tubuh, proteksi terhadap sesama, proteksi terhadap kedaulatan lingkungan hidup. Semakin baik puasa seseorang dapat diukur dari seberapa besar pengurangan terhadap konsumsi yang biasa dipraktikkan. Puasa yang baik adalah puasa yang dapat mengurangi residu yang berdampak buruk bagi ekosistem. Sebagai contoh, beberapa masjid menggunakan piring untuk berbuka dan tidak menggunakan kertas plastik untuk bungkus makanan, juga penyediaan gelas untuk minuman dan tidak menggunakan air kemasan mineral sekali pakai. Kita bayangkan, dari 800-an ribu masjid ada ribuan masjid melakukan kegiatan berbuka bersama dan potensi ramah lingkungan itu dimulai dari sini, dari praktik buka puasa bersama. Itu belum termasuk Lembaga atau kantor kantor yang mengadakan buka bersama. Jika tidak dibangun habitus ini, tentu ummat Islam akan didakwa sebagai ummat yang tidak peduli terhadap lingkungan hidup.

BACA JUGA :  Membincang Revitalisasi dan Ortodoksi Manhaj Muhammadiyah

Kedua, memperkuat ibadah-ibadah dengan domensi profetik seperti menjauhkan diri dari perbuatan yang merusak alam, merusak ekosistem dan sumber daya air. Pola ibadah yang mempraktikkan konservasi ketimbang hasrat untuk berlebihan. Semakin baik puasa adalah diikuti dengan semakin banyaknya ibadah-ibadah yang membangun kesadaran konstruktif sebagai hamba—ibadah yang semakin banyak diprioritaskan untuk kemaslahatan lingkungan hidup yang pada akhirnya juga pastilah untuk kemaslahatan manusia. Sholat di bulan Ramadhan semakin diperbanyak, sehingga kemaksiatan terhadap alam juga dapat dicegah sedemikian radikalnya. Sholat yang berdimensi ekologis dimulai dari penggunaan air wudhu yang efektif dan bijak. Selain itu, tempat ibadah baik masjid, musholla dan Rumah juga sangat baik didesain menjadi tempat yang memungkinkan untuk peduli pada lingkungan setiap saat dan setiap waktu. ‘Menghijauhkan’ Ramadhan dapat dimulai dari penghijauan cara kita beribadah, cara memperlakukan fasilitas dan menggunakan fasilitas serta sarana ibadah. Bulan Ramadhan seharusnya mendorong semakin banyak eco-masjid yang dijadikan model tata kelola ibadah jangka panjang. Bulan puasa adalah kesempatan pertaubatan ekologis, taubat nasuha agar tidak mengulangi lagi perbuatan merusak lingkungan demi ambisi keuntungan ekonomi atau kepuasan jasadi yang selama bertahun tahun tidak kita disadari. Puasa haruslah mendidik, menyadarkan, memberdayakan kita untuk hidup lebih ramah dan manusiawi kepada lingkungan hidup.

Terakhir, adalah aspek cinta pada kemanusiaan dan lingkungan hidup. Kemauan berbagi bukan hanya dalam aspek makanan di bulan Ramadhan baik untuk takjil atau berbuka puasa dan santap sahur. Kecintaan terjadap manasia dan atau sesama juga dapat diwujudkan dalam bentuk sedekah sampah, berbagi udara segar dengan tidak menambah polutan, berbagi air bersih dengan tidak mengotori dan menggunakan secara tidak bijak, dan masih banyak lagi praktik pro lingkungan untuk memastikan bahwa kemuliaan bulan puasa adalah kemuliaan bersama sebagai manifestasi dari rahmat bagi seluruh aspek sekalian alam. Dengan kesadaran baru akan lingkungan yang semakin menguat, misalnya sudah ada panduan Green Ramadhan dari beragam Komunitas muslim di dunia, juga eco-masjid oleh Majelis Ulama Indonesia, gerakan sedekah sampah oleh Muhammadiyah tentunya kita berharap akan muncul praktik empirik seperti dimulai dari tagline #ramadhantanpapplastik #FreePlasticIftar #BukaPuasaTanpaPlastik #puasaHijau dan seterusnya untuk memulai mengkampanyekan tindakan benar di bulan ramadhan.

Apabila puasa kita sudah berkarakter hijau sebagaimana pembahasan di atas, karena kita telah menjadi hamba yang amanah untuk merawat ekosistem kehidupan alam raya, maka derajat ketaqwaan adalah buah puasa hijau yang dapat dengan paripurna kita dapatkan. Inilah kesadaran puasa yang diilhami oleh kesadaran ketuhanan (God Consciousness) yaitu spirit taqwa yang terus dikontekstualisasi dalam kehidupan aktual ummat manusia.

Oleh: David Efendi (Serikat Taman Pustaka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here