Pijarnews.id – Muhammadiyah garis lurus, garis serius dan garis lucu sudah biasa kita lihat dan saksikan sepak terjangnya. Terlebih, Muhammadiyah garis pilpres juga ampun ampun seru dan ganasnya kita sudah merasakannya. Diaspora dan varian manusia Muhammadiyah ini adalah sunnatullah dengan harapan dakwah ada di mana mana, perbaikan dan tindakan pharresia (berani bertindak benar) agar tak ada matinya. Namun, perlu juga kita sisahkan hardisk otak dan memori tindakan kita untuk membicarakan tindakan pro kelestarian ruang hidup penduduk planet ini.

Alhamdulillah, kesempatan ini saya ingin mengapresiasi kelahiran anak anak Muhammadiyah garis hijau yang bernama Kader Hijau Muhammadiyah (IG: @kaderhijaumuhammadiyah). Sekumpulan kader ini Lahir di Surabaya, tepatnya di tahun-tahun bencana lingkungan. Surabaya adalah ekosistem perjuangan dan kepahlawanan yang menyejarah. Walikota Surabaya adalah pahlawanan taman kota, dan kader Muhammadiyah hijau adalah pahlawan teologi lingkungan. Semoga menjadi inspirasi AMM di mana-mana untuk bersegera terlibat lebih luas dan kreatif akan urusan ini. Begitu kira-kira idealisasi dan hebatnya kader Muhammadiyah di kota sejuta bonek ini. Rupanya ada pula bonek beraliran ekologis.

Muhammadiyah Hijau

Sejatinya Islam adalah agama hijau (green deen, meminjam istilah Abdul-Matin), juga islam yang memberi fondasi amanah menjaga keseimbangan lingkungan (filosof Islam ekologis, Syed Husain Nashr) sehingga gerak gerik ummat Islam haruslah dipandu dan dipadu dengan kesadaran tingkat tinggi akan penyelematan lingkungan hidup. Tanpa itu, manusia beragama hanyalah makhluk yang terlatih senantiasa merusak dan menumpahkan bencana di planet bumi ini. Muhammadiyah juga mengemban amanah ‘memanusiakan lingkungan’ sebagai manifestasi teologi yang cukup tangguh.

Muhammadiyah garis ekologis atau hijau senantiasa mengupayakan dengan sungguh sungguh untuk pertama, kerja membangun kesadaran lingkungan melalui sosialisasi yang kreatif termasuk muatan kurikulum, khutbah, siaran radio, TV, majalah, social media dan lain sebagainya.

Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27) adalah seruan dan panduan mengantisipasi persoalan ekologi yang tetap relevan sampai kapan pun. Seruan nahi munkar di bidang lingkungan adalah karena ”Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum: 41-42).

Di saat bencana lingkungan yang terus membesar dan meluas. Aktualisais Islam ramah lingkungan adalah sebuah keniscayaan: Islam hijau, Islam ekologis, islam rahmatan lil alamien. Islam hijau adalah Islam yang menyelamatkan dan memastikan “Seorang muslim adalah seseorang yang menjamin muslim lainnya agar selamat dari ganguan lisan dan tangannya” (HR. Muslim no. 64, Bukhari no.10) dan juga harus memastikan tindakan kita tidak membahayakan keselamatan makluk hidup lainnya baik manusia maupun non manusia. Karena itu kiranya Muhammadiyah perlu merumuskan Matan Keyakinan dan Cita-Cita Muhammadiyah Hijau  (MKCMH) sebagai pelengkap MKCHM (Matan Keyakinan dan Cita-cita hidup Muhammadiyah). Hal ini akan menjadi panduan keluarga muslim hijau yaitu panduan hidup terbaik yang mengandung makna mengutamakan dan mendahulukan keselamatan lingkungan.

Kedua, kegiatan pemberdayaan lingkungan agar menjadi rahmat yang berjangka panjang dan lestari. Ada contoh yang baik yang bisa diambil dari kisah pesantren hidayatullah. Ustadz Abdullah Said mendirikan pesantren Hidayatullah tahun 1976 di Balikpapan dan mendapatkan kalpataru (pahlawan penyelamat lingkungan) pada tahun 1984 tepatnya 5 Ramadhan 1406 H. Pesantren ini telah berkontribusi besar di tengah bencana pembakaran hutan di Kalimantan. Lahan kering, tanah mati, dan hamparan daratan yang memenatkan mata diubah menjadi danau tadah hujan raksasa, kolam ikan, kebun buah dan taman bunga. Abdullah Said memberi hikmah atas kalpataru agar manusia menjaga karya cipta Allah dengan lebih baik lagi. Di saat kemarau panjang, seperti nabi Nuh, pesantren malah membuat “danau” atau “rawa buatan” yang tentu kurang masuk akal. Tapi tak lama kemudian hujan turun dan hiduplah tanah air dan menciptalah flora fauna pada ekosistem pesantren. Saya kira ustadz Abdullah Said ini adalah Islam garis hijau, atau disebut juga kanan ekologis. Cerita  ini saya sarikan dari buku biografi berjudul Mencetak Kader karya Manshur Salbu (2009) diterbitkan oleh Hidayatullah Publishing.

BACA JUGA :  Arus Politisasi dan Kompetensi Kepemimpinan Sekolah

Contoh lainnya, misalnya di Muhammadiyah ada gerakan sedekah sampah, sekolah sungai, memanen air hujan dan ecomasjid (pilot projek tiga masjid di Yogyakarta). Beberapa sekolah Muhammadiyah juga mendapatkan kehormatan sebagai sekolah Wiyata Mandala karena praktik pengelolaan lingkungannya.

Mumpung bulan puasa, Ramadhan adalah bulan mulia dimana kegiatan Ramadhan seharusnya menjadi syiar kebaikan multidimensional termasuk urusan ketahanan Lingkungan. Perlu disadarkan, masalah sampah naik 20% tiap Ramadhan dan ada sekitar 4. 500 ton makanan terbuang selama kegiatan Ramadhan. Sampah sisa buka puasa dan sahur di jalan tak terkelola secara baik. Inilah concern kita semua. Sedekah sampah adalah solusi jangka pendek, perlu dipikirkan jangka menengah dan panjangnya.

Ada tiga hal yang mesti diperhatikan untuk mewujudkan habitus ekologis Islam. Pertama, setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan. Kedua, memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan serta, ketiga yaitu menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir dan israf. Tabdzir adalah menyia-nyiakan barang/harta yang masih bisa dimanfaatkan menurut ketentuan syar’i ataupun kebiasan umum di masyarakat. Sedangkan, israf adalah tindakan yang berlebih-lebihan, yaitu penggunaan barang/harta melebihi kebutuhannya (Fatwa MUI No. 47/2014 Tentang Pengelolaan Sampah Untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan).

Bumi dan apa apa yang terkandung di dalamnya, seluruh isinya, semua tata surya kehidupan adalah amanah. Karena amanah, dalam islam, akan mengandung konsekuensi pertanggungjawaban di dunia dan kelak juga di akherat.

Muhammadiyah garis hijau adalah karunia besar di abad kerusakan dan bencana agar manusia tidak kufur ekologis, menjadikan kita semua untuk lebih waspada dan mawas diri atas pertanyaan Tuhan kepada kita: ‘Nikmat kehidupan mana lagi yang akan engkau dustakan?’

Terakhir, adalah kerja pembelaan. Kader Hijau Muhammadiyah (KHM) berusaha memberdayakan dan membela korban korban petaka lingkungan yang disebabkan oleh hasrat kapitalisme, hasrat melipatgandakan kenyamanan dengan menghancurkan liyan, manusia lain dan ruang hidupnya. Dampingan KHM adalah waduk Sepat di Surabaya. Anak anak muda Muhammadiyah ini berjejaring dengan kelompok hijau lain untuk advokasi dan jihad ekologis di lingkungan terdekatnya. Barangkali inilah seberat beratnya jihad zaman ini. Wallahu ‘alam bi ashowab.

Oleh: David Efendi, Fasilitator Kelas Pemuda Ekoliterasi –  Rumah Baca Komunitas (RBK) dan Fasilitator Kader Hijau Muhammadiyah (KHM).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here