PIJARNews.ID – Pemikiran abad kedua Muhammadiyah yang menyangkut penyelamatan lingkungan hidup, pembentukan MDMC, perumusan Fikih air, memenangkan Judicial review yang menyoal air, adalah respon Muhammadiyah terhadap kenyataan bahwa Indonesia perlu melakukan rethinking yang radikal dalam konteks menjadi bagian dari penyeimbang alam semesta. Berada di dalam Pacific Ring of Fire, menjadi keniscayaan pula jika pendekatan teologis-ekologis adalah salah satu jalan tempuh bagi masyarakat Indonesia yang notabennya hidup di tengah “pusaran potensi bencana”. Muhammadiyah juga turut merespon terkait semakin parahnya perilaku antagonis manusia dengan non-manusia. Dalam upaya mendorong kesadaran Teologis-Ekologis, Muhammadiyah bergerak dalam MDMC dan Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah. Meskipun dalam perjalanannya, isu-isu ekologi selalu melalui jalan terjal dan sunyi. Terlebih  menjadi isu yang rentan konflik karena sangat berpotensi “mengganggu” hubungan baik antara Muhammadiyah dengan pemerintah. Muhammadiyah perlu lebih berani lagi. Dalam rangka saling mengingatkan bahwa, di dunia ini bukan jabatan politis yang perlu dipertahankan secara mati-matian. Yang perlu dipertahankan secara mati-matian adalah jabatan kita sebagai khalifah fil ard. Yang mana mempunyai tugas dan peran untuk menjaga kelestarian alam dan seisinya sebagai bentuk ibadah penghambaan kepada Tuhan.

Melewati satu abad peranannya, Muhammadiyah tidak hanya telah sedikit “menampar” para politisi agar mampu membuat kebijakan yang pro-lingkungan melalui Judicial Review air. Tapi juga mendorong kesadaran bagi masyarakat Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya, untuk tetap menjaga planet ini agar jika saja terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan di masa depan, kita tidak mencari planet alternatif selain Bumi. Dimulai dari penghematan air dan mencegah segala bentuk eksploitasi alam raya ini.

Dibalik itu semua, selain telah mendorong agar manusia mempunyai hubungan baik dengan Tuhan, serta antara manusia dengan manusia. Secara amaliah, Muhammadiyah masih sangat lemah dalam mendorong hubungan baik antara manusia dengan alam. Kemajuan secara fisik atau amal usaha di dalam tubuh Muhammadiyah, tidak di imbangi pula dengan kemajuan untuk pro dengan lingkungan alam sekitar. Amal Usaha Muhammadiyah masih memposisikan diri sebagai superior dan memposisikan lingkungan sebagai yang inferior. Menghardik alam dengan terus melangsungkan antagonisme kolektif yang tidak seharusnya di lakukan dan harus cepat-cepat ditanggalkan oleh seluruh Amal Usaha demi mengejawantahkan konsep Islam Rahmatan lil ‘Alamin.

Muhammadiyah AUM-Sentris atau Muhammadiyah Ekosentris?

Menurut data Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah pada tahun 2016, tercatat sekitar kurang lebih dua puluh ribu jumlah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar di seluruh Indonesia, terdiri dari sekolah, perguruan tinggi, panti asuhan, klinik, rumah sakit, pondok pesantren dan lain sebagainya. Jika saja dalam satu hari AUM di seluruh Indonesia rata-rata menghasilkan dua kilogram sampah plastik (belum terhitung sampah yang lain), itu artinya sampah yang diproduksi oleh seluruh AUM adalah sekitar empat puluh ribu kilogram per hari! Jika di kumpulkan dalam tiga puluh hari, maka estimasi sampah plastik yang dihasilkan adalah sebanyak satu juta dua ratus kilogram! Ya benar, yang pasti adalah satu juta dua ratus kilogram. Sulit untuk kurang dari, dan besar kemungkinan jika lebih dari itu. Jumlah nominal sampah yang dikumpulkan dalam satu bulan yang bahkan lebih besar dari jumlah rata-rata nominal gaji pokok guru atau pegawai amal usaha di Indonesia itu, sama halnya ketika kita melihat dua ratus enam puluh tujuh ekor gajah ukuran dewasa yang berkumpul berhimpitan di tanah lapang. Bahkan, jika ditabung dalam satu bulan, Muhammadiyah mampu membuat dan mempunyai aset baru. Aset pulau sampah.

BACA JUGA :  Genderang Kematian Petani

Belum cukup, dari dua puluh ribu AUM yang tersebar hingga ke pelosok Indonesia tersebut, anggaplah kurang lebih sekitar paling sedikit adalah lima belas ribu yang sudah terpenuhi tenaga listrik. Berapa ton batu bara yang di gerus dan di uapkan oleh PLTU, untuk memenuhi kebutuhan energi untuk menyalakan pompa air? Kipas angin? Atau bahkan AC? berapa juta meter kubik air yang di dibutuhkan untuk keperluan setiap harinya?

Nampaknya, perjalanan panjang selama satu abad sudah cukup menyimpulkan bahwa selain kerja feeding, schooling, & healing, sumbangsih yang juga paling besar diberikan Muhammadiyah kepada Bangsa adalah wasting atau kesia-siaan, jika masih saja banyak yang berpikir kemajuan adalah persoalan membangun gedung-gebung baru, namun tidak beranjak untuk memperbaiki cara berpikir dan cara hidup yang mengupayakan ketahanan lingkungan alam yang baik! Tentu tidak sekonyong-konyong kita juga menutup mata dan mengakui kebaradaan AUM yang telah menjalankan 3R (reduce, reuse, recycle), atau bahkan telah menggunakan energi terbarukan sebagai bentuk cintanya kepada Bumi, namun keberadaan mereka masih harus ditingkatkan dan digandakan. Sangat perlu juga memberikan penghargaan kepada amal usaha yang telah mempunyai sistem untuk pro lingkungan dan tidak hanya pro pembangunan fisik semata. Muhammadiyah perlu menyeimbangkan hubungan antara manusia dengan non-manusia melalui kurikulum yang akan membentuk pola kehidupan yang ramah lingkungan dalam rutinitas Amal Usaha yang ada.

Muhammadiyah dan Gerakan Hijau

Dalam ruang pertarungan wacana, isu ekologi masih saja selalu dipaksa mengalah dengan isu-isu mainstream yang menawarkan kenikmatan sesaat seperti isu politik dan isu ekonomi. Wacana gerakan-gerakan hijau harus dimenangkan dalam ruang diskursus dan riset dengan melibatkan para komunitas akar-rumput, penggerak amal usaha, influencer, akademisi, hingga politisi. Ekologi harus dikawinkan dengan berbagai perspektif dan disiplin ilmu dan berbuah pada nilai aktivisme guna menyongsong era green Muhammadiyah di abad ini dan yang akan datang. Meskipun pada kenyataannya akan menemui banyak tantangan, tidak ada kata terlambat untuk menyelamatkan Bumi bagi warga Muhammadiyah. Tidak perlu menunggu pernyataan sikap dari pimpinan atau bahkan ijtima’ ulama untuk merubah cara berpikir dan gaya hidup yang pro-lingkungan secara radikal. Jika bukan di Bumi ini kita tinggal, lalu dimana? Jika bukan kita yang memulai, lalu siapa? Jika tidak dimulai dari sekarang, lalu kapan? Jika tidak dimulai dari hal yang terkecil, lalu bagaimana kita mampu membuat perubahan perubahan besar?. Semoga bermanfaat!!.

Oleh: Iman Permadi, Pegiat Kader Hijau Muhammadiyah (KHM).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here