Pengungsi eks Timtim saat konferensi pers (Prasetyo/PIJARNews.ID).

Editor: Ahmad

MALANG, PIJARNews.ID – Warga eks Timor Timur (Timtim) ungkap dugaan penembakan oleh oknum kepolisian kota Kupang dalam aksi damai menuntut pemberian kepastian status tanah bagi WNI eks pengungsi Timtim 10 Desember lalu. Bertepatan dengan peringatan hari HAM Internasional, pernyataan tersebut disampaikan dalam video konferensi pers pada Sabtu (12/12).

Sekitar lebih dari 600 keluarga dari masyarakat yang mengungsi dari Timor Leste selama dua dekade sejak tahun 1999, merasa belum mendapatkan kepastian atas tanah, dalam hal ini untuk tempat tinggal dan lahan garap.

Menurut Ramos Paz, Koordinator masyarakat eks pengungsi Timtim, mereka tersebar di beberapa kamp seperti Noelbaki, Tuapukan, Naibonat, Haliwen dan Ponu.

“Sebagian besar masih menghuni rumah darurat yang dibangun sejak tahun 1999, dengan dinding bebak yang miring dan lapuk, juga atap yang bocor. Mirisnya, ada 2-3 keluarga tinggal dalam satu rumah”, kata Ramos dalam video konferensi pers yang dikirim kepada PIJARNews.ID.

Merasa kondisinya ditelantarkan, para pengungsi melakukan aksi damai kembali dilaksanakan pada hari peringatan Hak Asasi Manusia 10 Desember 2020 di kamp Tuapukan. Ramos menambahkan, aksi itu bertemakan Berikan Kepastian Status Tanah bagi WNI eks pengungsi Timtim.

“Aksi kali ini mendapatkan tindakan represif dari aparat. Satu orang tertembak dan lima orang lainnya terluka”, ujar Ramos.

Ia menjelaskan bahwa aksi tersebut berlangsung dengan damai dari awal. Dilansir dari REQnews.com, ia pun menceritakan kronologi kejadian tersebut. Sekitar pukul 09.00 WITA massa aksi kurang lebih berjumlah 100 orang bergerak menuju tempat aksi, yaitu mimbar bebas di jalan Timor Raya sambil meneriakkan yel-yel. Polisi pun mendatangi tempat acara.

Orasi, kata Ramos, dilaksanakan secara bergiliran. Pukul 10.10 polisi berusaha membubarkan massa dengan paksa. Salah seorang masyarakat atas nama Egidius dipukul hingga terjatuh dan kepalanya bocor.

“Mulai terjadi aksi saling dorong. Polisi memukuli massa laki-laki dan perempuan, dan mulai melepas tembakan. Satu orang tertembak peluru tajam dan beberapa lainnya luka, di antaranya perempuan. Polisi terus melepas tembakan dan membuat massa berlarian”, kata Ramos.

Adapun daftar nama korban antara lain yang tertulis dalam rilis pers yang dibuat:

  1. Bribato Soares (tertembak di lutut bagian kanan) umur 29 tahun;
  2. Edigio Soares (luka di dahi dan hidung) umur 36 tahun;
  3. Armindo Soares (luka robek di kepala) umur 46 tahun;
  4. Ramoz Paz (bengkak di bagian perut) umur 30 tahun;
  5. Armindo Soares (luka di lutut) umur 40 tahun; Deolinda Belo (luka di bagian kepala sebelah kanan) umur 45 tahun.

Mereka menyayangkan hak berpendapat yang direpresi, padahal harusnya dijamin oleh negara dan selayaknya diberi ruang dengan baik. Ramos menambahkan penjelasan mengenai status para pengungsi melalui videonya.

“Warga eks Timor Timur di kamp pengungsi Tuapukan adalah korban perang Timor Timur yang dilupakan oleh negara Indoneisa tanpa memperhatikan hak dasar seperti tanah. Kami berada di Indonesia karena pada tahun 1975-1999 membela tanah air Indonesia di Timor Timur, tapi setelah tiba di Indonesia, kami tidak memiliki tanah dengan status yang jelas selama 21 tahun. Hal ini yang membuat kami menuntut, tapi tuntutan kami dijawab negara dengan represi yang serius”, tambah Ramos.

Para pengungsi menuntut kepastian hak atas tanah yang ditempati selama 21 tahun 3 bulan di indonesia.

“Kami bukan meminta tanah rakyat yang lain, tapi hanya meminta kepastian status hak atas tanah yang kami tempati selama 21 tahun 3 bulan di Indonesia, kepada negara sesuai konstitusi dan undang-undang agraria pemerintah Indonesia”, pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here