Peninggalan Belanda, Loji Besuksat Tawarkan Panorama Alam yang Menawan

0
218
Wisata Lumajang
Bekas bangunan Belanda di Lumajang yang masih berdiri tegak (Mizan/PIJARNews.ID).

Editor: Ahmad

LUMAJANG, PIJARNews.ID – Suasana asri dengan hawa pengunungan langsung terasa ketika repeorter PIJARNews.ID memasuki bangunan bekas peninggalan Belanda yang bernama Loji Besuksat. Bangunan tersebut bertempat di Desa Pasrujambe Kecamatan Pasrujambe Kabupaten Lumajang, Selasa (22/12/2020).

Loji Besuksat, merupakan tempat yang digunakan pejabat Belanda dahulu untuk istirahat sekaligus memantau perkebunan kopi yang dikelola masyarakat setempat.

Bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh ini, sekarang berfungsi sebagai tempat wisata baru di Kabupaten Lumajang. Pasalnya, di samping menyuguhkan berbagai macam tanaman hias di halaman, Loji Besuksat juga menawarkan panorama gunung semeru secara lebih dekat, disertai dengan aliran sungai besuksat yang luas dan bekas erupsi semeru berupa pasir dan bebatuan.

Di sebelah barat terlihat menara perpaduan besi dan bambu pada ketinggihan kurang lebih 5 meter, yang biasanya digunakan untuk berfoto bagi para pengunjung, dengan panorama alam gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Jarak tempuh dari pusat kota sekitar 1 sampai 2 jam dengan melalui jalan berliku melintasi kebun dan persawahan warga. Sedangkam tiket masuk wisata ini tidak dipungut biaya alias gratis, dengan syarat sampah harus dibuang pada tempatnya.

Samut, seorang yang bertugas sebagai satgas keamanan menjelaskan, bangunan Loji Besuksat ini sebenarnya merupakan tempat untuk memantau aktifitas vulkanik Gunung Semeru.

“Loji Besuksat adalah bangunan yang dibuat untuk memantau aktifitas Semeru. Tapi sekarang segala macam peralatannya dipindahkan ke Gunung Sawur yang dirasa memiliki ketinggian lebih”, jelasnya.

BACA JUGA :  Pelantikan Presiden 2019, Direktur KJI: Selamat Kepada Bapak Joko Widodo dan Bapak K.H. Ma’ruf Amin

Tempat ini tidak hanya kerap dikunjungi warga Lumajang, tetapi dari luar daerah seperti Jember, Probolinggo, Malang bahkan luar Jawa. Sayangnya belum bisa dikelola secara optimal, karena area tanah masih milik Dinas Pengairan di Lumajang.

“Sempat ditawarkan untuk diajak kerjasama dengan Pemerintah Desa dalam mengelola bangunan bersejarah ini, akan tetapi sejauh ini belum ada kepastian”, tutupnya.