Diskusi Akhir Tahun, Kelompok Cendekiawan Muhammadiyah di Malang Bahas Fenomena Muslim Kagetan

0
43
RBC
Pradana Boy ZTF (kanan) Nurbani Yusuf (kiri) sedang menjadi pembicara dalam diskusi catatan akhir Tahun di RBC Institute (Tyo/PIJARNews.ID).

Editor: Ahmad

MALANG, PIJARNews.ID – Kolaborasi diskusi akhir tahun antara Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang dan Yayasan Padhang Makhsyar, mengangkat tema yang cukup menarik, yaitu “Hasrat Kuasa Muslim Kagetan”, Rabu (23/12/2020).

Kegiatan yang digelar di kantor RBC Institute Malang ini, juga disiarkan langsung melalui kanal youtube RBC Institute.

Dr. Pradana Boy ZTF yang menjadi salah satu narasumber diskusi, mengajak kepada semua kalangan agar tidak memahami Islam secara instan, melainkan melalui proses yang panjang dan mendalam. Menurutnya, saat ini terjadi fenomena “muslim kagetan” yang secara tiba-tiba memiliki semangat keislaman tinggi namun mudah menyalahkan yang berbeda dari dirinya.

“Jangan tiba-tiba punya semangat Islam yang tinggi, lalu yang lain dianggap asing, yang beda dianggap salah,” ujar Pradana salah satu Cendekiawan Muda di Muhammadiyah ini.

Menurutnya hal yang penting di Muhammadiyah itu adalah merawat kemanusiaan. Bagi Pradana, apalagi jika menyangkut dengan ranah politik, harus bisa mengontrol diri dan memahami keadaan.

“Sama halnya dengan permainan sepak bola, ketika dalam pertandingan harus bermain dengan serius, tapi jangan pernah menganggap permainan itu serius. Karena, meskipun ada peraturan, sekali-sekali pemain akan melanggar peraturan itu. Begitu pula seharusnya kita memahami politik”, terang Asisten Rektor di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Pradana juga mengomentari masuknya Capres-Cawapres 02 di Kabinet Jokowi, sekarang ini pelaku politik 01 dan 02 sudah tidak ada, tapi pengikutnya masih ada, bahkan tetap ramai.

BACA JUGA :  UMM Masuk 10 Besar Perguruan Tinggi Penerima Hibah PKKM Kemendikbud

“Hal ini juga terjadi di warga Muhammadiyah sebagian besar yang menganggap politik adalah persoalan hidup dan mati, kalau sudah beda pilihan juga beda akidah”, kata pradana.

Karena itu, bagi Pradana, penting untuk menempatkan agama dan politik pada proporsinya masing-masing. Sebagaimana pandangan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir yang ia kutip, dimana politik sebagai muamalah dan hanya bersifat duniawiyah saja.

Dr. Nurbani Yusuf Ketua Pusat Studi Islam dan Kebijakan Yayasan Padhang Makhsyar sebagai narasumber kedua juga mengakui adanya kelompok muslim kagetan ini. “Anehnya, yang terpapar itu adalah orang-orang yang terdidik”, ujarnya.

Untuk mengikis hal itu, Nurbani mengajak warga Muhammadiyah untuk kembali meneladani sosok KH. Ahmad Dahlan. Dalam hal akidah, menurutnya, Ahmad Dahlan sangatlah eksklusif, namun dalam muamalah, Dahlan sangat inklusif.

Ia juga menyerukan agar memperbanyak kanal-kanal media dengan membuka ruang diskusi untuk merawat Muhammadiyah dengan terbuka. “Gunakan kanal yang ada untuk merawat pemikiran kyai Dahlan”, ucapnya.

Ia khawatir terkait kondisi umat jika memahami Islam dan Muhammadiyah dengan cara ‘kagetan’. “Kita coba kembali ke khittah Muhammadiyah, saya khawatir dengan model kita seperti ini, Muhammadiyah nanti akan jadi medan pertempuran ideologi”, ujarnya.

Nurbani selanjutnya mengapresiasi dan bersyukur dengan adanya diskusi ini. Baginya ini adalah upaya merawat pemikiran.