Kholifah Magfiroh
Kholifah Magfiroh (Doc. PIJARNews.ID).

PIJARNews.ID – Sekolah adalah hal yang sangat sering kita dengar, tetapi apakah arti sebenarnya dari kata sekolah? Alkisah, orang Yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan, memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Mereka menyebut kegiatan itu dengan kata atau istilah skhole, scola, scolae atau schola (Roem Topatimasang, 2013).

Keempatnya mempunyai arti sama, yaitu “waktu luang yang digunakan khusus untuk belajar”, dimasa sekarang sekolah tidak semata-mata menjadi lembaga yang digunakan untuk mengisi waktu luang, karena desakan perkembangan hidup, menjadikan sekolah sebagai sebuah lembaga yang mendidik, memberikan ilmu, dan juga mendapatkan teman.

Akhirnya seiring berjalannya waktu orang tua terbiasa untuk mempercayakan pengasuhan putra putri mereka kepada sekolah. Ah, kalau begitu, mudah saja menerangkan bagaimana kiranya kata “sekolah” yang semula cuma berarti “pengisian waktu luang”, kini bermaka dan mewujudkan diri sebagai suatu sistem kelembagaan pendidikan yang –kadangkala dan celakanya sekaligus—diartikan sebagai wujud hakikat pendidikan itu sendiri.

Pergeseran Makna Sekolah

Dari kutipan di atas, sudah dapat diartikan bahwa makna dari sekolah sudah terjadi pergeseran. Dari kegiatan yang mengisi waktu luang menjadi suatu lembaga pendidikan. Sekarang makna sekolah sudah berbeda. Sekolah adalah suatu lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.

Sekolah sekarang menjadi simbol untuk orang yang berpendidikan. Seakan-akan dikatakan begini: “jika ia bersekolah maka ia berpendidikan, dan sebaliknya, jika ia tidak bersekolah maka ia tidak berpendidikan”. Padahal untuk mendapatkan pedidikan tidak harus berada didalam kelas, duduk dengan rapi, lalu mendengarkan penjelasan guru. Pendidikan bisa didapatkan dimana saja. Dan juga tidak semua pendidikan diajarkan disekolah.

Seperti bagaimana menghargai kemampuan orang, bagaimana menghadapi orang-orang yang memiliki perhatian berbeda. Contohnya, disekolah banyak sekali persaingan yang tidak penting, pelabelan. Jika kamu mampu menguasai di satu pelajaran, maka kamu dianggap pintar, tetapi jika kamu tidak mampu menguasainya, maka kamu dianggap bodoh, ini biasaya terjadi pada pelajaran tertentu. Padahal setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, bakat yang berbeda beda, dan minat pun berbeda beda.

Sekolah tidak bisa mengajarkan bagaimana menghadapi dan menghormati pilihan seseorang yang berbeda. Sekolah juga tidak membolehkan siswa mempelajari mata pelajaran yang ia mampu dan minati, alih-alih disuruh mempelajari sesuatu yang belum tentu penting di masa mendatang. Tidak ada budaya antikorupsi, karena itulah tidak heran bahwa saat mereka tumbuh dewasa, lalu menggeluti dunia politik dan melakukan korupsi.

BACA JUGA :  Bullying; Si Noda Kehidupan Sosial

Sex education yang tabu tidak diajarkan di sekolah, padahal hal seperti ini penting sekali untuk mempelajarinya sedini mungkin. Paradigma yang berkembang di masyarakat seringkali membatasi pemahaman kita tentang makna pendidikan yang hanya formal saja. Sehingga, mereka diarahkan untuk ikut sebuah kurikulum, sebuah metode yang belum tentu minat mereka. Bahkan tidak tahu akan dibutuhkan atau tidak dimasa mendatang.

Sekolah tidak mengajarkan tentang keterampilan hidup (life skills) yang sebenarnya lebih dibutuhkan anak untuk mengatasi masalah secara mandiri tanpa bantuan orag tua. Di sini, penulis sangat setuju dengan film captain fantastic yang disutradarai oleh Matt Ross. Karena, disana menceritakan bahwa tanpa sekolah bukan berarti anak tidak bisa dididik, justru dia lebih pandai karena belajar semua ilmu hidup dan keterampilan hidup, dan juga bagaimana mengatasi konfliknya secara mandiri.

Bahkan sex education pun diajarkan sejak dini mungin, dan membebaskan anak-anaknya untuk mempelajari hal-hal yang mereka minati. Dengan seperti itu kelihatannya akan lebih bermanfaat, daripada mempelajari hal yang tidak tahu disukai anak atau tidak.

Ijazah Itu Fana

Ijazah sebagai jaminan kesuksesan rasanya fana sekali. Dan banyak hal krusial lainnya. Di sekolah pasti diajarkan tentang matematika, fisika, biologi, kimia, dan lain sebagainya. Hal yang menjadi sebuah tanda tanya besar, pentingkah pelajaran tersebut bagi setiap anak?.

Matematika itu penting bagi anak yang berminat ataupun merasa matematika menjadi sebuah tantangan bagi dirinya, atau bahkan dia berbakat dalam bidang tersebut. Tetapi, matematika menjadi tidak penting bagi seorang yang lebih tertarik dalam dunia seni. Begitupun yang terjadi pada bidang pembelajaran lainnya yang bertentangan dengan nilai dan minat yang mereka minati.

Selaras dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, pelopor pendidik dan pendiri taman siswa “setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah”. Maka murid diberi kebebasan untuk belajar dari sumber yang beragam, dari guru, teman-teman, orang tua, buku, internet, dan sebagainya. Sesuai dengan minat dan kenyamanan mereka, serta bisa saling bahu membahu dalam pendidikan, mengajar dan bertukar pikiran sesama siswa. Sehingga menjadikan ranah pendidikan sebagai tempat yang benar-benar penting, bukan sekedar mengisi waktu luang saja. Namun tetap memberi manfaat bagi setiap orang di dalamya.