Ikan Cupang
Abdullah Mas'ud (24) sedang menunjukkan ribuan ikan cupang hias yang ditempatkan dalam aquarim di dalam rumahnya. (Rama/PIJARNews.ID)

SURABAYA, PIJARNews.ID – Disaat masyarakat mengeluhkan kebijakan pemerintah tentang Pemberlakuan Pembatasan Masyarakat (PPKM), akibat lonjakan kasus positif virus corona. Namun, pemuda di Surabaya tetap meraup untung meski berada ditengah pandemi.

Ribuan aquarium ikan hias cupang terpampang dengan rapi di dalam rumah Abdullah Mas’ud, Keputih Tegal Bhakti 3B Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya, Minggu sore (10/1/2021). Budidaya itu ternyata sudah digeluti oleh Abdullah Mas’ud (24) sejak Juni 2017 lalu.

Banyak sekali jenis ikan yang dipamerkan. Antara lain Koi Galaxy, Nemo Galaxy Multicolor, Sunrise, Sunrise Avatar, Fancy Copper, hingga Fancy tengah dirawat dan diberi pakan oleh Alumni Universitas Dr Soetomo tersebut.

Ikan Cupang Hias berasal Ikan Cupang Alam yang dikawin silang beberapa kali. Untuk mendapatkan, Mas’ ud membeli bibit dari peternak spesialis ikan cupang hias.

“Awalnya jumlah ikan hias cupang sebanyak 600 ekor. Kini sudah lebih dari 1200 ekor. Rencana, akan saya tambah sebanyak 2000 ekor,” ujarnya.

Dengan dibantu bersama temannya, Anton Wijaya (29) selaku admin, dan pemasaran di akun instagram falsabetta, surabaya, Ia mengaku modal usaha yang dibutuhkan Rp 1,5 juta.

“Kendalanya ketika cuaca panas yang ekstrim. Kesulitan cari pakan hidup seperti kutu air, cacing sutra, jentik nyamuk. Saya biasa nyari di Kodiklatal Krembangan. Kalau kena panas pakan bisa rusak,” jelasnya.

Jika pada saat musim hujan, Mas’ud sering tidak menemukan pakan tersebut lantaran terbawa arus air. Dalam sehari ia bisa menampung sebanyak 7 liter kutu air, cacing sutra dan jentik jentik nyamuk.

“Ikan Cupang Hias di usia 0 sampai 4 hari tidak diberi makan dulu. Karena sudah ada cadangan pakan di dalam telur ikan. Baru usia 5 hari sampai 1 bulan diberi kutu air,” paparnya.

BACA JUGA :  Ratusan Santri Ponpes Karangasem Dipulangkan

Budidaya ini juga rawan dari sasaran hewan predator. Terkadang dirumahnya dimasukin ular, dan kodok yang akan menyantap hidup hidup ikan cupang hias. Mas’ud kemudian menaruh ikan ikan cupang hias di ruangan tanpa celah, tertutup, dan tersedia ventilasi diatas.

“Keuntungan per ekor Rp 200 sampai Rp 700 ribu. Tergantung warna, bentuk sirip, ekor, ukuran. Semakin bagus warna sampai membentuk motif, semakin cerah dan tajam, maka harganya semakin tinggi,” ungkapnya.

Jika kondisi ikan ngedok, ekornya semakin lebar hingga lebih dari 180 derajat, semakin besar ukuran badannya. Bisa mempengaruhi harga ikan tersebut.

“Untuk perawatan yang diperhatikan adalah air. Semakin bagus kualitas air, ikan akan hidup dengan sehat dan nyaman. 3 hari sekali air diganti. Sebelum dipakai buat ikan air diendapkan dulu semalaman. Dikasih garam ikan, dan daun ketapang yang sudah diolah. Kalau saya pakai air pam,” paparnya.

“Jika ditotal per bulan, keuntungan yang diraup mencapai Rp 1 juta setengah dan Rp 2 juta setengah. Jadi dalam pandemi Covid 19 tidak berimbas sama sekali,” imbuhnya.

Untuk pangsa pasarnya, Mas’ud menyebutkan tidak terbatas. Segala umur dari pemuda sampai tua 20 sampai 40, luar pulau seperti Palangkaraya, Balikpapan, Banjarmasin sering membeli produknya. Lalu di jatim dan jateng antara lain, Jember, Kebumen, Tegal, dan Pati.

“Pengirimannya lewat jasa Tiki dan Pos. Pengemasan plastik rangkap 3 ditempat dan stereofoam serta kardus. Sampai 6 hari diterima masih hidup garansi dead on arrival bisa ditukar dengan ikan,” ucapnya.

Untuk satu ekornya ia memberikan tarif kisaran Rp 200 sampai Rp 700 ribu per ekor. Jika membeli partai ia mematok 10 ekor ikan jantan. Sedangkan untuk sepasang ikan bisa Rp 400 ribu sampai Rp 1,5 juta. (ram/mad)