Fahrul Wiwis Syarifuddin
Fahrul Wiwis Syarifuddin. (Dok. Pribadi/PIJARNews.ID)

PIJARNews.ID – Dampak globalisasi membawa kemudahan dalam pertukaran sebuah budaya. Teknologi sendiri adalah produk kebudayaan yang diciptakan dengan tujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Semakin berkembangnya teknologi maka kerja manusia akan menjadi semakin mudah. Teknologi kini telah memasuki fase lanjut dan akan semakin berkembang setiap harinya. Kondisi ini berjalan seirama dengan perkembangan budaya perfilman di tanah air yang juga telah mengalami kemajuan sedemikian pesatnya.

Dengan adanya deretan beberapa bantuan teknologi yang paling canggih saat ini diantaranya seperti efek suara, animasi 3D (3 dimensi), animasi clay (animasi gerak yang terfokus pada karaktek yang dibuat dari bahan plastisin/playdough), efek CGI (Computer Generated Imagery) dan sebagainya, akan semakin memudahkan para pelaku dalam dunia industri film untuk meramu dan mengembangkan ide-ide baru, yang lebih kreatif, modern serta konstruktif sehingga film tersebut layak untuk dijadikan tontonan yang menghibur dan berkualitas.

Pun demikian halnya dari sisi penikmat film. Dengan kemajuan yang ada, film akan semakin mudah untuk ditonton dan menonton film dengan mudah akan menjadi budaya. Lewat sebuah gadget yang ada digenggaman, kita benar-benar akan dimanjakan dengan berbagai platform film digital yang menawarkan berbagai macam film, ide cerita dan genre, baik yang berbayar maupun yang free, kapanpun dan dimanapun cukup dengan satu “klik” pada ujung jari kita, semua akan terbuka dan tersedia. Karena prinsip kerja teknologi saat ini terfokus pada big data yang terakomodir lewat jaringan internet. Dengan internet kita sekeluarga ibarat sedang diajak berjalan-jalan dan berbelanja di “toko super besar” yang serba ada dan kita bebas untuk memilih dan menikmati film yang kita mau. Yap!, “dunia dalam genggaman”.

Dari semua kemudahan yang ada, perlu kita ketahui tentang “efek samping” dari berkembangnya teknologi. Karena perkembangan teknologi biasanya tentu juga akan dibarengi dengan perubahan perilaku dan budaya dalam diri masyarakat. Sebagaimana jamak kita ketahui, maju dan berkembangnya arus informasi telah merubah cara interaksi masyarakat terhadap apa yang mereka tonton. Sedangkan tontonan (film, televisi, iklan, dll.) sedikit banyak pasti akan mempengaruhi penonton.

Menurut Undang-undang nomor 33 tahun 2009 Pasal (6) tentang perfilman, ada enam poin sensitif yang perlu menjadi perhatian para penikmat film. Pertama kekerasan, ancaman dan sadisme yang mudah ditiru. Kedua, pornografi. Ketiga, diskriminatif (SARA, gender, stereotype). Keempat, agama (intoleransi, pelecehan, penodaan, dan penistaan). Kelima, mendorong seseorang melakukan perbuatan melawan hukum. Dan yang Keenam, merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan. Enam poin ini sangatlah penting mengingat berangkat dari sinilah perkembangan klasifikasi tontonan sesuai umur diberikan regulasi secara khusus oleh pemerintah yang tertuang pada pasal (57) ayat 1-3, pada undang-undang yang sama.

BACA JUGA :  Gunung Raung Kembali Menunjukkan Aktivitas Vulkanik, BPBD Lakukan Pemetaan Titik Evakuasi

Karena film yang kita tonton cukup mempunyai dampak tentu kita perlu waspada. Yaitu dengan cara menambah kapasitas diri memperbanyak literasi serta secara sadar dan sukarela menjadi benteng kemandirian sensor bagi diri dan keluarga kita agar terhindar dari pengaruh negatif yang ada pada film. Menjadikan sensor mandiri sebagai budaya ini dimaksudkan agar masyarakat memiliki kemampuan serta kesadaran dalam memilah dan memilih tontonan sesuai dengan klasifikasi usia. Pada era globalisasi dewasa ini, film dapat menjadi alat penetrasi kebudayaan, sehingga adanya perlu dijaga dari konten-konten negatif yang tidak sejalan dengan norma-norma dan adat-istiadat yang berlaku.

Mengutip pernyataan dari Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati (www.antaranews.com/04/11/2020) “Sosialisasi budaya sensor mandiri menjadi bagian penting dalam upaya perlindungan dan pemenuhan hak masyarakat untuk mendapatkan tontonan dan film yang bermutu. Tontonan untuk anak juga harus menjadi tuntunan. Film bukan sekedar menjadi hiburan bagi anak, melainkan juga menjadi sumber informasi, hingga fungsi budaya dan pendidikan”. Pernyataan tersebut diatas mensiratkan kepada kita semua bahwa budaya sensor mandiri bertujuan merubah mindset masyarakat agar dapat memilah dan memilih sebelum menonton tayangan yang sesuai dengan klasifikasi umur, mempunyai unsur mendidik, dan informatif.

Salah satu fungsi daripada film adalah sebagai media komunikasi massa yang sejatinya merupakan sarana untuk mencerdasan kehidupan bangsa, mengembangkan potensi diri, membina akhlak mulia, memajukan kesejahteraan masyarakat, serta wahana promosi budaya Indonesia didunia Internasional. Dengan kekayaan budaya yang kita miliki tentu kita akan bisa berbicara banyak dipanggung dunia. Film sebagai karya seni budaya mempunyai peran yang strategis dalam mempertahankan budaya bangsa.

Lewat film-film karya anak bangsa kita tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang berkomitmen kuat terhadap budaya. Karena hanya bangsa dengan komitmen budaya yang lemah akan mudah terpengaruh oleh budaya asing, dan akan cenderung kepada hilangnya jatidiri. Perlindungan budaya hanya dapat dilakukan dengan membangkitkan kesadaran internal warga masyarakat, yang salah satu jalanya adalah melalui budaya sensor mandiri. Budaya sensor mandiri adalah wujud kepribadian bangsa. Wallahua’lam..!!!