Ponorogo
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Ponorogo, Setyo Budiono saat memberikan keterangan kepada wartawan. (Sony/PIJARNews.ID)

PONOROGO, PIJARNews.ID – Sepanjang tahun 2020 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat jumlah bencana alam mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2019.

Tercatat pada tahun 2019, jumlah bencana alam di Ponorogo mencapai 194, dengan rincian, 26 kali terjadi longsor, banjir sebanyak 34 kali, lalu kekeringan terjadi di 10 titik, kebakaran 39 kali, angin ribut 79 kali dan tanah retak di 6 titik.

Sedangkan di tahun 2020, terjadi 170 kali bencana alam. Yakni, 52 kali tanah longsor, banjir di 53 titik, kekeringan terjadi di 1 titik, lalu kebakaran terjadi sebanyak 18 kali, angin ribut di 43 lokasi, serta tanah retak di 3 titik.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo, Setyo Budiono mengatakan menurunnya jumlah bencana alam di Ponorogo ini terjadi karena siklus musim yang tidak sama antara tahun 2019 dan tahun 2020.

“Musim kering di tahun 2019 relatif lebih lama dibandingkan dengan 2020. Sebaliknya pada tahun 2020 musim hujannya lebih panjang,” ucap Budi, Jumat (15/1/2021).

Budi membeberkan, pada tahun 2020, mayoritas bencana yang terjadi adalah bencana hidrometeorologi, yaitu banjir dan tanah longsor. Daerah yang paling sering mengalami tanah longsor adalah Kecamatan Ngrayun.

“Di Ngrayun ini memang sering terjadi longsor namun dengan skala yang relatif kecil,” jelas Budi.

Budi juga menjelaskan untuk saat ini yang menjadi fokus pengawasan BPBD adalah potensi tanah gerak dan tanah longsor di empat titik. Yakni di Desa Talun, Kecamatan Ngebel, lalu Desa Banaran, Kecamatan Pulung, dan Desa Tugurejo serta Desa Tugunongko di Kecamatan Ngrayun.

BACA JUGA :  BM PAN Ponorogo Peduli Lingkungan

“Sedangkan untuk banjir, titik-titik yang menjadi langganan adalah Kecamatan Siman, Kecamatan Kauman, dan Kecamatan Ponorogo,” tutupnya. (son/mad)