Mukayat Al-Amin, M.Sosio Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya dan Penikmat Film

PIJARNEWS.ID

Oleh :

(Mukayat Al-Amin, S.Sos.I, M.Sosio)

Perfilman Indonesia saat ini telah menunjukkan perkembangan yang positif. Hal ini bisa dilihat dari jumlah produksi film dari tahun ketahun mengalami pertumbuhan yang cukup baik, meskipun dari data statistik bisa kita lihat lebih banyak film impor yang diputar dibanyak bioskop daripada film produksi dalam negeri.

Menurut data dari Kharisma Jabar Film, jumlah film Indonesia dan film impor yang di putar di bioskop 2009-2012. Jumlah film Indonesia yang di putar mencapai 333 film sedangkan film impor mencapai 573 film. Pendek kata dua banding satu (2:1), yakni lebih banyak film impor. Tahun 2001 jumlah produksi film Indonesia mencapai 4 film, tahun 2002 mencapai 9 film, tahun 2003 mencapai 12 film, tahun 2004 mencapai 21 film, tahun 2005 mencapai 33, 2006 mencapai 33 film, 2007 mencapai 53 film, tahun 2008 mencapai 88 film, tahun 2009 mencapai 65 film, tahun 2010 mencapai 81 film, tahun 2011 mencapai 83 film, dan tahun 2012 mencapai 84 film (Lembaga Sensor Film dan Kharisma Jabar Film, tahun 2012).

Walaupun masih tertinggal tetapi melalui statistik yang di lakukan tahun 2012. Periode tahun 2000-an menunjukan bahwa perfilman Indonesia terus membaik. Setiap tahun menunjukan peningkatan dan puncaknya pada tahun 2008 yang meningkat hampir 40% dari tahun sebelumnya dan stabil hingga 2012. Dari hasil survei ini memberikan peluang untuk industri hiburan di bidang film di Indonesia untuk terus berkembang.

Ada beberapa persoalan cukup mendasar yang menjadi argumentasi atas persoalan disparitas produktifitas dan jumlah penonton atau ekspektasi penonton antara film impor dan film lokal.

Pertama, masih rendahnya kualitas film lokal secara rata-rata dan kurangnya pekerja film berkualitas hal ini disebabkan karena terbatasnya sekolah-sekolah film di Indonesia sehingga produktifitas kuantitas pekerja film tidak begitu banyak yang lahir baik itu sutradara, produser, pemain, kameramen, koreografi yang mumpuni dan handal tidak begitu banyak stoknya sehingga mengakibatkan kwalitas produksi film-film kita tidak kurang menggigit serta diminati publik. Hal ini menyebabkan adanya ketergantungan yang tinggi akan kehadiran film-film impor. Sehingga secara umum, film-film Indonesia  masih kurang bisa bersaing jika dihadapkan dengan film-film blockbuster dari Hollywood.

Meski banyak talent atau sutradara baru bermunculan, akan tapi pertumbuhan produksi film (produser) tidak sebanyak yang diharapkan. Sebab, posisi sutradara terlihat lebih glamor, dan semua orang sepertinya ingin jadi sutradara daripada menjadi produser. Padahal, fungsi dan peran produser sangat vital dalam sebuah produksi. Produser tentunya bukan hanya menginisiasi sebuah proyek, namun mengamankan pembiayaan, terlibat dalam menjaga proses kreatif, hingga urusan distribusi dan penjualan film. Jika filmnya tidak laku, pihak bioskop tentu akan menurunkan film tersebut.

Meskipun awalnya perfilman Indonesia dianggap mati suri, dan bangkit dengan hadirnya film horor Indonesia, pun kurang mendapat tempat di hati penonton. Hal ini dikarenakan film-film bergenre horor tidak memberikan alternatif pilihan film yang lebih menarik. Misal, film horor Indonesia lebih menyisipkan nafsu birahi dan mengumbar adegan yang kurang pantas. Film horor Indonesia juga lebih banyak dibintangi oleh Suzanna Martha Frederika van Osch, seperti film Sundel Bolong (1981), Nyi Blorong (1982), Telaga Angker (1984), dan Malam Jumat Kliwon (1985).

Ketatnya persaingan dalam industri film horor, maka sang produser mencari inovasi dan gebrakan baru terhadap film horor, sehingga filmnya berbeda dengan lainnya. Muncullah bintang film dewasa dari Jepang, seperti Rin Sakuragi, Maria Ozawa, dan Sora Aio yang digunakan oleh rumah produksi Maxima Pictures dengan Produsernya Ody Mulya Hidayat, serta bintang film dewasa dari Amerika, seperti Tera Patrick, Sasha Grey, dan Vicky Vette yang dikontrak oleh rumah produksi K2K Production dengan produsernya yaitu KK Dheeraj. Adanya bintang film dewasa yang terlibat dalam film horor Indonesia, maka perannya pun sangat dekat dengan hal-hal yang berbau pornografi.

Menurut Karl Heider seks merupakan salah satu dari tiga formula ampuh yang digunakan dalam film horor Indonesia, yaitu seks, komedi, dan religi. Tahun 2000-an film horor berjalannya waktu mendapat hati dengan munculnya film Jelangkung (2001) yang mencapai  5,7 juta penonton dan Kuntilanak (2006) 2,4 juta penonton. Namun, secara terus menerus dengan genre yang tidak beda jauh, tidak dapat dipungkiri penonton Indonesia mulai merasa bosan dengan genre-genre perfilman Indonesia.

Dari hasil survei secara acak terhadap pengunjung bioskop 21 Dieng, Malang yang membahas mengenai perbandingan jenis film pilihan penonton ketika hendak menonton di 21 Dieng, Malang yang dilakukan, ada 120 responden yang diambil sampelnya. Sekitar 60 penonton lebih memilih film Hollywood, 24% Film Indonesia, 13% film Eropa dan 2% memilih film Asia. Dari hasil wawancara singkat yang dilakukan mengenai film pilihannya enggan menonton film Indonesia yaitu variasi genre film yang ditawarkan kebanyakan horror yang menjurus ke sex, ceritanya kurang menarik dan banyak pesan yang tidak sampai ke penonton, kualitas suara dan teknik pengambilan gambar terlalu buasa, penggunaan efek visual juga masih rendah, promosi film yang minim, sehingga banyak yang tidak tahu jika ada satu atau beberapa film Indonesia yang sedang tayang di bioskop, serta film Indonesia tidak lama setelah diputar di bioskop juga akan tayang di televisi.

Kebanyakan sineas Indonesia membuat film bergenre aksi, drama, horror dan komedi menciptakan kejenuhan bagi penikmat film Indonesia. Kejenuhan ini juga dipengaruhi kualitas film yang diproduksi kurang baik, karena hanya mementingkan keuntungan yang besar. Salah satu contoh pada film “Hantu Tanah Kusir”, film horror ini menggandeng bintang porno jepang Maria Ozawa atau yang akrab disapa Miyabi. Kehadiran Miyabi difilm garapan Findo Purnowo HW itu secara garis besar hanya sebagai bumbu sensual saja. Semakin jenuhnya masyarakat dalam melihat film-film produksi film dalam negeri yang hanya monoton bergenre horor-sek-relegi membuat publik penonton lebih banyak tertarik dan melihat film-film impor yang relatif relatif lebih bagus baik dari sekenario, tampilan, isi cerita dan aktor – aktor yang terlibat dalam memerankan film tersebut.

Kedua, kurangnya layar dan akses ke bioskop. Saat ini, jumlah layar bioskop di Indonesia ada 1.117 layar dengan persebarannya yang tidak merata. Dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, Indonesia memiliki ratio per kapita yang sangat rendah. Riset yang dilakukan oleh portal film indonesia.or.id menunjukan, hanya 13 persen kabupaten dan kota yang punya akses ke bioskop. Ketimpangan persebaran bioskop juga terjadi dengan 87 persen layar terpusat di Pulau Jawa, dan 35 persen layar berada di DKI Jakarta.

Ketiga, rendahnya kesadaran masyarakat dalam menghargai kekayaan intelektual sehingga pembajakan film secara fisik maupun digital masih merajalela. Dalam sebuah penelitian terkait masifnya penjualan pembajakan film dari 102 pusat perbelanjaan di DKI Jakarta. Masih ada 23 pusat perbelanjaan yang membiarkan kehadiran pedagang DVD bajakan. Padahal, UU 28 tahun 2014 Hak Cipta memberikan tanggung jawab dan sanksi pidana ke pengelola pusat perbelanjaan.

BACA JUGA :  Khazanah Islam, Rasulullah Pun Berpeluh Sakit Saat Sakaratul Maut

Pembajakan merupakan hantu yang cukup menakutkan bagi produsen film karena hal ini akan berdampak pada pendapatan atau penghasilan perusahaan yang secara otomatis juga akan mempengarui proses produksi perfilm di masa yang akan datang. Pembajakan ini merupakan masalah klasik yang tidak pernah selesai. Mental sebagian penonton Indonesia adalah yang penting bisa nonton murah. Padahal, harga DVD yang mahal disebabkan oleh pembayaran pajak dan juga royalti. Oleh karena itu Sebagai masyarakat Indonesia, kita harus lebih bisa dan mau menghargai karya-karya anak bangsa.

Disisi yang lain atas persoalan ini pemerintah seolah melakukan pembiaran terhadap DVD bajakan membuat secondary market film mati, sehingga produser tidak mendapatkan pendapatan tambahan di luar bioskop dan televisi. Akan tetapi untuk saat ini, dengan munculnya penyedia jasa nonton online berbayar juga mampu mendongkrak pertumbuhan bisnis film. Pada Tahun 2016 adalah salah satu tahun terbaik Indonesia secara market share maupun secara angka penonton. Secara market share, Indonesia menembus angka 34 persen. Sekitar 140 film diproduksi dalam satu tahun itu (2016). rekor terbanyak. Hal ini membuhtikan gairah orang-orang untuk memproduksi dan menonton sedang tinggi-tingginya.

Keempat, teknologi dalam dunia perfilm sangat dinamis dan selalu berubah dari masa kemasa karena dunia perfilm penuh dengan persaingan yang sangat ketat sehingga di butuhkan inovasi-inovasi baru mulai alur cerita sampai dnegan hal-hal teknis berupa tehnologinya. Saat ini, teknologi berkembang sangat pesat di berbagai bidang termasuk dunia perfilman. Studio film semakin bertambah karena dunia perfilman ini memang cukup menjanjikan. Studio film adalah perusahaan yang berfungsi untuk mendistribusikan film, namun sebenarnya studio film tidak hanya bertugas untuk mendistribusikan film tetapi juga membuatan film tersebut sehingga bisa didiistribusikan setelah film tersebut selesai digarap. Beberapa studio film yang terkenal adalah 20thCentury Fox, Columbia Pictures, Dream Works SKG, Paramount Pictures, Pixar Animation Studios, Sony Pictures Entertainment, Universal Studios, Walt Disney Picture.

Perubahan dalam industri perfilman, jelas nampak pada teknologi yang digunakan. Jika pada awalnya, film berupa gambar hitam putih, bisu dan sangat cepat, kemudian berkembang hingga sesuai dengan sistem pengelihatan mata kita, berwarna dan dengan segala macam efek-efek yang membuat film lebih dramatis dan terlihat lebih nyata. Film tidak hanya dapat dinikmati di televisi, bioskop, namun juga dengan kehadiran VCD dan DVD, film dapat dinikmati pula di rumah dengan kualitas gambar yang baik, tata suara yang ditata rapi, yang diistilahkan dengan home theater. Dengan perkembangan internet, film juga dapat disaksikan lewat jaringan superhighway ini.

Film 3 D semakin banyak diciptakan saat ini, tetapi sayangnya perkembangan teknologi 3 D baru berkembang pesat di film-film Hollywood. Sekarang ini Indonesia belum memiliki teknologi yang memadai untuk membuat film dengan kualitas tiga dimensi yang baik. Adapun film “Meraih Mimpi” merupakan suatu film animasi 3 D dari Indonesia dengan kulaitas Internasional, namun belum bisa menyaingi film 3 D Hollywood. Film animasi ini merupakan salah satu kemajuan penting dalam perkembangan film tiga dimensi dan animasi di Indonesia. Walaupun hasil cukup lumayan, tetapi masih membutuhkan dukungan dari pemerintah demi kemajuan perfilman Indonesia.

Kelima, kurangnya dukungan pemerintah, dukungan pemerintah menjadi hal yang sangat penting dalam pembuatan film Indonesia. Film Indonesia yang tentu dibuat di Indonesia dan oleh para sineas Indonesia ini pasti sangat memerlukan dukungan pemerintah Indonesia. Jika pemerintahnya kurang mendukung, para pembuat film tidak akan semangat lagi untuk memproduksi film selanjutnya. Pun jika mereka masih bisa membuat film selanjutnya, kualitasnya akan dipastikan sama saja, cenderung pasaran, atau bahkan bisa lebih buruk. Selain itu, pemerintah juga harus turut mengontrol importir film dari luar agar film Indonesia tidak kalah saingan dengan film luar.

Dari berbagai persoalan yang muncul tersebut menjadi menjadi sangat penting unjuk menguarai benagkusust persoalan perfilman ini untuk mencandra Masa depan Perfilman Indonesia menjadi lebih baik.

Oleh karena itu menurut penulis industri perfilman Indonesia mempunyai potensi pasar yang cukup besar hal ini bisa dilihat dari bonus demografi dimana diperkirakan Indonesia akan menikmati bonus demografi pada tahun 2020 hingga 2035. Oleh karena itu industri perfilman bisa memanfaatkan bonus demografi dengan baik. Pasalnya, bonus demografi jarang sekali terjadi di suatu negara. Bonus demografi merupakan keadaan di mana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk non produktif (usia di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun). Dengan tingginya prosentasi usia produktif masyarakat Indonesia berarti kedepan indutri hiburan akan semakin ramai karena rata-rata di usia produktif itulah konsumsi terhadap hiburan sangat tinggi.

Menjadi keniscayaan kiranya industri perfilman harus segera berbanah untuk terus berinovasi guna memenagkang persaingan atau kompetisi dengan baik dalam negeri maupun dengan luar negeri.

Tidak mungkin memang membiarkan indrustri perfilman nasional berkompetisi sendiri dengan industri laur yang sudah jauh lebih maju dan dengan disokong dana yang cukup kuat. Oleh karena itu pemting kiranya pemerintah ikut memberikan support konstrukstif tehadap perbaikan indusrti perfilman nasional dengan cara apa?. Menurut hemat penulis dengan cara memberikan keberpihakan regulasi serta tata kelola industri perfilman yang labih baik. Pemerintah harus ikut campur untuk mendukung industri perfilman nasional. hal ini karenakan, industri perfilman merupakan industri kreatif yang bisa mendatangkan pendapat yang laur biasa serta punya potensi yag sangat besar.

Salah satu dukungan dan campur tangan pemerintah selain membuat dukungan regulasi yang memihak bisa juga dengan memberikan dukungan dengan mendirikan sekolah perfilman yang cukup representatif guna melahirkan sineas-sineas yang punya berkualitas. Tidak bisa dipungkiri bahwa sedikitnya sekolah perfilman membuat stok senias berkualitas di indonesia tidak terlalu banyak, oleh karena itu menjadi sebuah keniscayaan adanya sekolah perfilman di Indonesia.

Beban untuk peningkatan kualitas untuk mendukung perfilman Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan para sineas serta para pelaku industri perfilman akan tetapi juga menjadi menjadi tangung jawab mayarakat untuk saling mendukung prodak-prodak film dalam negeri dengan cara tidak melakukan plagiasi atau melakukan pembajakan. Selain itu memberikan apresiasi menjadi sebuah keharusan bagia kita bagi produk perfilman dalam negeri dengan cara menonton film produk-produk indonesia. Dengan dukungan semua pihak penulis optimis industri perfilman Indonesia akan semakin produktif dan berkualitas.

*Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya dan Penikmat Film

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here