Jakarta
Petugas medis menyuntikan vaksin COVID-19 ke seorang dokter di RS Siloam TB Simatupang, Jakarta. (Antara Foto/Wahyu Putro)

JAKARTA, PIJARNews.id – Sampai saat ini, penularan kasus Covid-19 di Indonesia masih terus meningkat, bahkan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M. Faqih pun memperkirakan puncak penyebaran kasus Covid-19 akan terjadi pada Maret-April mendatang.

Perkiraan tersebut seiring dengan pendistribusian vaksin kepada masyarakat luas yang dilakukan pemerintah. Kendati demikian, ia belum mengetahui kapan pandemi akan berakhir.

“Saya tidak yakin puncaknya Februari, namun saya berharap cepat. Mungkin puncak penyebarannya bisa bergeser ke Maret-April,” kata Daeng dalam webinar Lembaga Survei KedaiKOPI bertajuk Darurat Cegah 1 Juta Penderita COVID-19 di Tanah Air, Selasa (19/1/201).

Daeng mengatakan bahwa para ahli perlu mendukung pembuatan model baru tentang kurva epidemiologi. Pemodelan tersebut nantinya disusun berdasarkan perencanaan penanganan pandemi, mulai dari vaksinasi hingga penguatan protokol kesehatan.

Ia juga memprediksi total kasus Covid-19 di Indonesia akan menembus angka psikologis 1 juta kasus dalam 10 hari ke depan. Hal ini kemungkinan dapat terjadi bila tambahan kasus harian mencapai lebih dari 10 ribu kasus.

Daeng pun menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi sebagai dampak dari berbagai peristiwa pada Desember lalu, seperti pilkada hingga libur panjang. Di mana dampak penularan Covid-19 akibat kegiatan tersebut akan terlihat hingga akhir Januari.

Kendati demikian, ia menyampaikan kepada berbagai pihak agar tidak perlu khawatir selama pemerintah siap dan bertanggung jawab penuh dalam menghadapi lonjakan kasus Covid-19. Persiapan yang dilakukan seperti memperbaiki strategi pelayanan fasilitas kesehatan hingga memastikan ketersediaan tenaga medis dan obat.

BACA JUGA :  Anam Ingatkan Kepala Daerah Dilarang Mutasi-Angkat Pejabat Sejak 8 Januari

“Kami dengan Kemenko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) dan Kementerian Kesehatan akan terus mengakselerasi tenaga yang harus ada, bahkan kalau perlu protokol kesehatan direvisi, diperkuat, kita perbaiki,” pungkasnya. (fzi/mad)