Duka Bersama Atas Rentetan Bencana

0
89
gempa
Foto: AP Photo (Detikcom)

Tahun 2021 baru saja dimulai harapan demi harapan mulai ditumbuhkan, resolusi untuk setahun ke depan telah ditata kembali. Namun siapa sangka, yang diharapkan belum tentu dikabulkan. Ada yang berharap semoga pandemi segera berakhir, ada yang ingin masuk sekolah/kuliah/kerja secara luring (luar jaringan) dan tatap muka, dan yang paling diharapkan adalah semoga alam segera bersahabat dengan kita.

Tragedi Jatuhnya Pesawat

Belum tuntas kasus pandemi covid-19 yang melanda seluruh pelosok negeri, kini Indonesia tengah dirundung berbagai bencana alam. Dalam dua minggu terakhir, di awal tahun ini deretan peristiwa telah memenuhi laman berita. Pertama, dimulai dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 telah hilang kontak di Kepulauan Seribu. Pesawat tersebut dikabarkan akan melakukan perjalanan dengan rute penerbangan Jakarta-Pontianak pada Sabtu, 9 Januari 2021.

Pesawat SJ-182 mengangkut 62 orang, dengan rincian 50 penumpang dan 12 kru pesawat. Namun, Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 dinyatakan hilang kontak pada pukul 14.40 WIB dan diperkirakan hilang di ketinggian 11.000-13.000 feet. Begitu mendengar berita ini, hati saya terasa remuk. Terlebih lagi ketika melihat keluarga korban yang histeris saat mendengar anggota keluarganya ikut dalam penerbangan tersebut.

Kepulangan Seorang Syekh

Duka mendalam juga diakibatkan oleh wafatnya Syekh Ali Jaber. Hampir seluruh warga tanah air dibanjiri dengan tangisan karena kabar tersebut. Pada tanggal 14 Januari 2021, beliau wafat usai menjalani perawatan di Rumah Sakit Yarsi, Jakarta. Pada akhir tahun 2020, tepatnya pada tanggal 29 Desember 2020, Syekh Ali Jaber dinyatakan positif Covid-19. Namun, keadaan Syekh Ali Jaber dikabarkan telah berangsur membaik pada tanggal 4 Januari 2021.

Rumah Sakit Yarsi menyatakan, Syekh Ali Jaber meninggal dunia dalam keadaan negatif Covid-19. Seluruh masyarakat baik dalam maupun luar negeri menyatakan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya ulama yang dikenal sangat bijaksana dan sabar ini. Wafatnya ulama ternama ini meninggalkan duka yang amat mendalam bagi masyarakat muslim di tanah air.

Bencana Alam Mengguncang Bumi Indonesia

Kemudian, pada Rabu, 13 Januari 2021, hujan yang terus-menurus mengguyur wilayah Kalimantan Selatan. Hujan tersebut mengakibatkan banjir di beberapa kabupaten di Kalimantan Selatan, yang terparah ada di Banjar dan Tanah Laut. Hujan tersebut turun dengan intensitas yang cukup tinggi. Banyak rumah-rumah warga dan juga hewan ternak yang hanyut terbawa derasnya arus banjir. Banyak sekali masyarakat yang tidak percaya bahwa kalimantan bisa kebanjiran. Ya, memang betul ini pertama kalinya banjir sebesar itu melanda wilayah Kalimantan Selatan.

Pada hari Kamis, 14 Januari 2021 terjadi gempa berkekuatan magnitudo 5,9 dan 4,9 yang mengguncang Majene, Sulawesi Barat pada siang hari. Pada hari Jumat, 15 Januari 2021 gempa susulan berkekuatan magnitudo 6,9 mengguncang tanah Sulawesi Selatan pada pukul 01.28 WIB. Dan menghancurkan sejumlah bangunan publik seperti runtuhnya bagian depan kantor Gubernur Sulawesi Barat.

BACA JUGA :  Bersama Dinsos, Alumni SMA 2 Jombang Distribusikan Ribuan Masker Medis

Pada 9 Januari 2021, perasaan berduka diperparah dengan hujan deras yang mengguyur wilayah Sumedang, Jawa Barat membuat sebuah tebing longsor pada sabtu sore. Longsor tersebut menyebabkan sejumlah rumah warga tertimbun material longsor. Terdapat 11 orang yang tewas akibat longsor tersebut. Bahkan saat tim SAR sedang terjun ke lokasi longsor untuk mengevakuasi korban, terjadi longor susulan yang mengakibatkan beberapa tim SAR tertimbun longsoran tersebut.

Selain berita duka dan bencana alam yang saya paparkan di atas masih ada berbagai bencana alam lainnya yang datang silih-berganti, seperti  Gunung Merapi dan Semeru yang erupsi, banjir dan longsor di Manado, banjir di Aceh dan lainnya.

Eksistensi Media Sosial

Entah inikah takdir Tuhan yang telah ditetapkan atas terjadinya bencana alam di awal tahun ini atau juga karena ulah manusia yang tidak memanusiakan dirinya. Tak sedikit yang mengira bahwa banjir di Kalimantan Selatan merupakan dampak dari habisnya hutan disana dan juga pengerukan tambang yang semakin merajalela.

Banyak sekali pro-kontra warga net yang mengomentari peristiwa dan bencana alam di atas. Bahkan tak jarang warga net malah sibuk berselisih saling nyaut-menyaut di kolom komentar. Ada juga yang mengkait-kaitkan peristiwa tersebut dengan ramalan yang membuat heboh jagat maya. Padahal masih banyak kegiatan yang lebih bermanfaat daripada hanya sekedar eksis lalu ikut-ikutan membahas percekcokan yang tidak bermutu. Sebab yang diperdebatkan belum tentu terjamin kebenarannya.

Refleksi Diri Sendiri

Kita sebagai makhluk Tuhan hanya bisa berserah diri kepada-Nya atas datangnya berbagai bencana alam ini. Melihat peristiwa ini mengharuskan diri kita untuk lebih mendekat kepada Sang Maha Kuasa. Kita perlu melakukan introspeksi diri atas apa saja yang telah kita lakukan selama hidup di dunia.

Saya sendiri merasakan pilu yang amat mendalam atas seluruh peristiwa dan bencana yang menyelimuti Indonesia saat ini. Semua kejadian tak terduga terus berdatangan dari berbagai daerah di tanah air. Namun, saya yakin pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin dalam menangani bencana-bencana tersebut.

Disini, peran kita sebagai manusia yang bermoral ialah sudah seharusnya kita mengulurkan tangan kita untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana alam. Seberapa kecil atau besar bantuan yang kita berikan pasti akan sangat bermanfaat untuk mereka. Saat ini mereka sedang membutuhkan bantuan dari kita, besok mungkin giliran kita yang membutuhkan bantuan dari mereka.

Oleh sebab itu, mari saling berbagi dan mengasihi serta turut mendoakan keselamatan untuk mereka. Lupakan segala perselisihan dan perdebatan, karena di luar sana masih banyak hal penting yang patut untuk kita  tanggapi. Sedikit bantuan akan sangat berharga daripada tidak sama sekali.

Editor: Amanat

BACA: Pembaca PIJARNews.id Menulis