Antisipasi Kejadian Bencana Alam, BPBD Kabupaten Mojokerto Membuat Aplikasi Simona

0
30
BMKG
Tangkapan layar aplikasi Simona yang menampilkan cuaca di wilayah Mojokerto dari BMKG. (Rama/PIJARNews.id)

MOJOKERTO, PIJARNews.id – Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, Muhammad Zaini, menjelaskan, beberapa wilayah di Mojokerto juga menjadi langganan bencana alam. Mulai dari Jetis, Kemlagi, Gedeg dan Dawarblandong. Ketiga wilayah tersebut berpotensi bencana alam banjir dan angin puting beliung.

“Banjirnya dari Sungai Watudakon dan anak sungai brantas. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya normalisasi sungai. Yang paling parah di anak sungai bengawan solo yang notabenenya dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai Solo,” ujar Zaini, Rabu (20/1/2021)

Upaya yang dilakukan oleh BPBD dengan instansi terkait adalah memberikan edukasi tentang tidak membuang sampah sembarangan, dan evakuasi diri dari bencana alam banjir kepada masyarakat sekitar. Khusus di wilayah pegunungan, BPBD Kabupaten Mojokerto telah melakukan reboisasi dengan stakeholder lainnya.

Disamping alarm peringatan dini, BPBD Kabupaten Mojokerto juga membuat aplikasi android yang bernama Simona. SIMONA (Sistem Informasi Mojokerto Bencana) merupakan aplikasi yang bertujuan memudahkan masyarakat Mojokerto memantau kondisi hujan setiap desa di seluruh wilayah Kabupaten Mojokerto.

“Simona juga memudahkan penyampaian informasi peringatan dini cuaca ekstrim dari BMKG atau SimonRain App, ke seluruh masyarakat Mojokerto. Memudahkan proses pelaporan jika terjadi bencana hidrometeorologi ataupun bencana lainnya. Cukup di download di Playstore,” ungkapnya.

SIMONA
Sistem Informasi Mojokerto Bencana/ SIMONA. (Rama/PIJARNews.id)

Zaini menghimbau kepada masyarakat selalu siap siaga dengan menjaga alam dan memperhatikan kondisi di lingkungan sekitarnya.

“Semua pihak jangan buang sampah sembarangan,jangan menebang pohon seenaknya. Kita jaga alam, alam juga akan menjaga kita,” pesannya.

BACA JUGA :  Ponorogo Terima Bantuan 5.000 Tes Rapid Antigen dari Pemprov Jatim

Penyelenggaraan penanggulangan bencana di Jawa Timur dilakukan secara pentahelix dan gotong royong. Selain melibatkan pemerintahan seperti BPBD, TNI, dan Polri, juga melibatkan berbagai elemen pendukung lainnya. Seperti masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan insan media. (ram/mad)