Kediri
Ira Kurniawati bersama suaminya Dany Saputra, bek sayap Persik Kediri, menunjukkan peruntungan anyar jenis usaha laundry. Kegiatan itu dimulai ketika Liga 1 2020 dihentikan oleh PSSI. (Rama/PIJARNews.id)

KEDIRI, PIJARNews.id – Kompetisi sepak bola tertinggi di Indonesia, Liga 1 2020, yang mengalami mati suri sampai waktu tidak ditentukan, membuat sejumlah pemain tengah mencoba pekerjaan sampingan baru.

Sejak diberhentikan oleh PSSI pertengahan Maret lalu, lantaran disebabkan status darurat virus corona dari BNPB, pemain juga dituntut tetap menjaga kebugaran. Seperti yang dilakukan oleh Dany Saputra.

Pemain bek sayap itu menekuni usaha laundry bersama sang istri, Ira Kurniawati, di salah satu tempat strategis, Jalan KH Wachid Hasyim, Bandar Kota Kediri. Usaha tersebt baru berjalan selama masa pandemi Covid 19. Sasaran konsumennya dari mahasiswa hingga para karyawan.

“Baru saja jalan pas liga dihentikan. Buat kegiatan kalau lagi libur,” ujarnya, Rabu (20/1/2021).

Untuk aktivitas dalam tim, lanjut Dany, saat ini telah diliburkan. Kendati demikian, mantan pemain Bhayangkara FC tersebut tetap melakukan latihan mandiri. Mulai latihan berlari, fitness dan daya tahan tubuh.

“Kadang juga ngumpul bareng buat latihan. Bisa satu minggu tiga kali. Tidak menentu waktunya. Kalau ingin menambah kekuatan, tiap pagi saya jogging beberapa kilometer,” ungkapnya.

Jika dikalkulasikan, Dany meraup keuntungan dari usahanya ditengah wabah berkisar Rp 7 sampai Rp 10 juta. Selain bersama istrinya, ia juga dibantu 3 karyawan secara bergilir dari jam 7 pagi sampai 10 malam. Dua karyawan sebagai operasional toko dan sisanya bertugas untuk antar jemput cucian.

BACA JUGA :  Unisma Jadi Pionir Pengembangan PTNU se-Indonesia

“Pastinya keuntungan yang diraih dari usaha laundry berbeda jauh sama keuntungan sebagai pemain sepak bola. Usaha Laundry buat sampingan aja. Yang pegang istri saya,” sambungnya.

Dany berharap, liga sepak bola di Indonesia bisa aktif lagi. Mengingat, sumber penghidupan klub, mulai pemain, pelatih, manajer, serta jajarannya, tidak lain dan tidak bukan berasal dari kompetisi. Apalagi, sebagian besar negara di dunia telah menjalankan kompetisinya kembali.

“Hampir semua pemain mengandalkan penghasilan dari liga sepak bola. Mungkin hanya beberapa pemain saja yang punya usaha lain. Tapi semua kembali ke tingkat atas. Sebagai pemain kami ingin kompetisi bergulir lagi,” ucapnya.

Sebaiknya, tuntas Dany, kompetisi sesegera mungkin berjalan. Pemerintah, melalui PSSI, Polri, dan PT Liga Indonesia Baru seharusnya juga memikirkan nasib para pelaku industri si kulit bundar. Jangan hanya melihat dari satu sisi saja.

“Kalau PSSI sudah menentukan tanggal mainnya liga. Maka harus segera dilakukan semaksimal mungkin. Jangan memberikan harapan terus kepada official tim. Pastinya rugi dalam urusan materi,” pungkasnya. (ram/mad)