Surabaya
Rizka Yuli Prasetyo (24), menunjukkan dagangan kepitingnya. (Rama/PIJARNews.id)

SURABAYA, PIJARNews.id – Rizka Yuli Prasetyo (24), Pemuda asal Kanginan, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, mencoba peruntungan sebagai Sub Distributor hewan kepiting lewat Facebook, WhatsApp (0813-5897-1323) dan Instagram.

Rizka mencoba peruntungan tersebut mulai Juni 2020. Setelah usaha sebelumnya, Tour and Travel sejak 2015 lalu mengalami kegagalan.

“Modalnya Rp 10 sampai Rp 20 Juta. Sempat mengalami jatuh bangun karena kesulitan modal. Terus seiring berjalannya waktu sudah kenal sama supplier dan pelanggan tetap,” kata Rizka, Kamis (21/1/2021).

Rizka mengenalkan produknya sesuai permintaan konsumen dengan harga terjangkau di sosmed. Kepada supplier dan pelanggannya, sekali pengambilan satu koli bisa isi 30 kg, dalam kurun waktu 2 hari sekali. Sementara keuntungannya Rp 300 sampai Rp 400 Ribu satu koli. Jika kondisinya laris, ia bisa meraup keuntungan dua kali lipat. Dengan kata lain, pendapatan kotor per bulannya bisa mencapai Rp 10 juta.

“Ada satu minggu satu kol bisa 100 kilo. Usaha ini stabil dan survive karena pangsa pasarnya adalah kelas menengah ke atas,” paparnya.

Pelanggan yang ditemui Rizka Yuli sebagian besar adalah pemilik restoran di Surabaya, Mojokerto dan Malang. Serta luar pulau yakni Kalimantan, Sulawesi dan Papua, Ia melakukan proses jual beli dan promosi lewat direct message instagram, Facebook, Google Maps. Dari sana ia juga mendapatkan kontak person yang dituju.

BACA JUGA :  Pilkada Serentak 2020 Terancam Sepi Akibat Pandemi Covid-19

“Rencana mau buat iklan dalam bentuk video. Usaha ini dibantu dua orang teman saya. Sangat jauh berbeda dengan usaha travel saya. Ini masih skala kecil belum skala ekspor. Jenis kepitingnya kepiting bakau jantan. Satu ekor Rp 180 sampai Rp 250 ribu per kilo. Tergantung ukuran bisa 500 gram sampai 1kg lebih per ekor,” terangnya.

Menurutnya, usaha tersebut kalah saingan sama harga ekspor. Harga ekspor dua kali lipat. Sebagian besar supplier lebih memilih ekspor karena kualitas dan harga dua kali lipat lebih mahal serta jumlah lebih banyak.

“Padahal konsumsi masyarakat tidak setara dengan skala ekspor.sekali pengiriman 100 sampai 1 ton,” imbuhnya

Ia juga berencana masuk ke pasar ekspor international trading untuk melebarkan sayap usahanya. Ia harus bersabar karena untuk masuk disana, modalnya jauh lebih besar. Selain itu, ia juga mengurutkan berdasarkan kepadatan daging. Jika ada kondisi yang terlalu lemas akibat jarak tempuh perjalanan yang jauh. Maka, ia harus memisahkannya dari kelompok lain

“Kesulitannya kepiting hidup punya daya tahan bisa sampai 2 hari. Tapi tergantung sortir tengkulak dan perawatannya di gudang. Kalau bagus maka tidak ada yang mati. Kalau sudah mati harus di frozen dan terpaksa dijual dengan harga Rp 50 ribu,” keluhnya. (ram/mad)