Otomotif
Otomotif | PIJARNews.id

Mobil menjadi salah satu produk otomotif yang paling diburu masyarakat, selain sepeda motor yang mana kendaraan tersebut digunakan sebagai sarana operasional lapangan. Bahkan mobil dan motor  tak jarang memenuhi badan jalan hingga menimbulkan kemacetan dari segi kapasitas.

Mobil jauh lebih unggul dibandingkan sepeda motor, banyak pabrikan otomotif luar negeri mendirikan pabrik di negara lain hingga mampu mengekspor produknya. Jepang menjadi salah satu negara maju di kawasan asia pasifik terutama perihal teknologi, dalam hal otomotif saja negeri sakura memiliki beberapa produsen mobil seperti daihatsu, suzuki, dan honda. Di sisi lain negara tetangga malaysia juga memiliki mobil nasional bernama proton.

Produk Proton

Dilansir dari tirto.id dan okezone.com Proton didirikan oleh mantan perdana menteri malaysia pada 1983 datuk mahathir mohammad dengan tujuan mengimbangi kekuatan industri negara maju, proton mengadopsi prototype mobil pabrikan mitsubishi,  dan membeli salah satu saham perusahaan otomotif asal inggris lotus  salah satu varian proton seperti saga, exora dll namun sebagian saham proton diakuisisi oleh perusahaan china geely. Pada 2017 proton mengalami penurunan pangsa pasar sebesar 14 persen dengan penjualan 72.000 unit.

Proton gagal menarik minat masyarakat malaysia karena minimnya kualitas produk, bahkan menurut survei J.D power 2016 malaysia customer service index menempatkan proton menjadi merek terendah kedua dari 12 merk mobil. Indonesia juga pernah mengembangkan proyek mobil nasional timor.

Masa Kejayaan Produk Indonesia

Berdasarkan laman tirto.id, kendaraan ini dikembangkan pada masa orde baru tepatnya di tahun 1996 pengembangan mobil nasional dilakukan oleh tommy soeharto, sanyoto sastrowardoyo dan tunky ariwibowo, kala itu mobil ini menjadi city car paling murah di kisaran 37 juta namun kisah mobil nasional timor berakhir setelah adanya gugatan dan pelanggaran perdagangan mengindikasikan adanya duplikasi produk mobil asal korea selatan kia sephia.

Fase pengembangan proyek mobil nasional kembali muncul ke permukaan ketika dibuatnya mobil GEA hasil pengembangan bersama PT Industri Kereta Api ( INKA) dan BPPT namun mobil tersebut meredup begitu juga Kancil yang mana produksinya mandek akibat tidak lolos uji kementerian perhubungan padahal mobil ini digadang gadang menggantikan peran bajaj dan bemo. ( kompas.com)

Kiprah Anak Bangsa

Gairah  akan kemunculan mobil nasional setelah sekian kali mengalami pasang surut bahkan nyaris tak terdengar lagi kiprahnya kembali menyeruak setelah pabrikan asal solo merakit dan memproduksi produk otomotif yang bernama ESEMKA. Sukiyat menjadi inisiator lahirnya ESEMKA beliau juga dikenal sebagai pemilik bengkel KIAT, pada 2012 Esemka rajawali menjalani uji kelayakan di kementerian perhubungan namun dinyatakan gagal lolos uji emisi.

BACA JUGA :  Pakaian sebagai Tolak Ukur Netizen +62

Esemka kembali memproduksi mobil varian SUV bernama garuda  mirip dengan pabrikan asal tiongkok foday landford. Selain itu produksi PT Solo Manufaktur Kreasi juga merambah ke jenis pickup dan dijual di kisaran 90-110 juta dengan nama Esemka Bima, namun pada realitasnya semua mobil nasional itu lenyap, pamor dan popularitas Esemka meredup tak bernyawa. Pengembangan proyek mobil nasional mengalami kegagalan pada beberapa dekade bahkan hingga saat ini.

Ketika industri maritim dan kedirgantaraan indonesia seakan berkibar hingga menembus pasar luar negeri bahkan indonesia melakukan transfer teknologi dengan pabrikan. Sehingga mampu menghasilkan produk berkualitas sebut saja PT PINDAD yang melakukan ToT dengan FNSS Turki dalam pengembangan tank medium harimau. Seakan mudah dalam pembuatan dan pengembangan akan tetapi statis dalam pengembangan kendaraan komersil.

Ketepatan Masyarakat dalam Memilih

Dalam hal ini masyarakat tidak mungkin membeli tank bahkan kapal selam untuk akses dan konektivitas antar wilayah  terutama daerah terpencil, tentu diperlukan kendaraan murah nan ekonomis yang dilirik  masyarakat sebagai upaya efisiensi waktu tempuh dari suatu wilayah ke wilayah lain. Akhir-akhir ini mencuat adanya pengembangan kendaraan taktis maung oleh PT PINDAD.

Proyek mobil nasional seakan menjadi pemanis lidah dan program yang sedikit diragukan konsistensi dan keseriusannya, mengingat hasil produksi dari proyek ini tidak tampak apalagi mengaspal di jalanan kota hingga desa. Polemik seakan terus menggerus realisasi mobil nasional ini, proyek seakan berhenti di persimpangan jalan dan  kehabisan ide untuk menjalankannya.

Lagi-lagi Masalah Penjualan

Mobil listrik juga tak berkembang setelah bibit-bibit sempat bermunculan sebut saja tucuxi dan selo, hingga akhirnya terbakar dan terpinggirkan. Banyak korporasi dan lembaga pemerintahan berhasil dalam pengembangan proyek strategis sebelumnya hingga terkomersilkan dan menjadi produk andalan. Popularitas produk tersiar hingga luar negeri, strategi penjualan dan pengembangan mobil nasional menemui banyak hambatan dan mobil siap jualpun kini menjadi minoritas dan gulung tikar tanpa pendapatan.

Sumber daya berada dalam genggaman namun tak punya kemampuan untuk mendapatkan kepercayaan, produk luar negeri kian laris memenuhi permintaan mobil nasional. Kini hanya nama secara perlahan tenggelam dalam ketidakberdayaan, seharusnya pemerintah lebih serius dalam memberi dukungan kerjasama dan transfer teknologi yang terus digalakkan bahkan menjadi sebuah kebanggaan hingga siap untuk mengaspal di jalan.

Editor: Amanat

BACA: Pembaca PIJARNews.id Menulis