Vaksin Merah Putih Telah Masuk ke Tahap Uji Imunitas pada Hewan

0
36
Vaksin
Vaksin Merah Putih kini memasuki tahap uji imunitas pada hewan. (Ilustrasi: Wikimeda Commons)

JAKARTA, PIJARNews.id – Ketua Tim Pengembang Vaksin Merah Putih Universitas Indonesia (UI) Budiman Bela mengatakan bahwa pihaknya telah pengembangan vaksin Merah Putih berbasis platform DNA yang saat ini sudah masuk tahap uji imunitas pada hewan.

“Saat ini kita sebetulnya masuk kepada stabilitas dan efisiensi produk produksi jadi menilai bagaimana kita membuat produksinya lebih tinggi dan efisien,” ujar Budiman dalam webinar: Tantangan dan Kebijakan Pengembangan Vaksin Merah Putih untuk Percepatan Penanganan Pandemi COVID-19, Jumat (22/1/2021).

Pada pengembangan vaksin DNA nantinya akan dibuat persiapan sebaik mungkin untuk uji praklinik dan uji klinik. UI sendiri mengembangkan vaksin COVID-19 dengan empat platform yaitu DNA, RNA, protein rekombinan subunit, dan virus like particles (VLP).

Tiap platform memiliki kelebihan dan kekurangan. Vaksin DNA, misalnya, tergolong lebih mudah dikembangkan, biaya produksi relatif lebih rendah, dan relatif stabil pada 2-8°C dan suhu ruang.

Sementara, vaksin RNA membutuhkan teknologi produksi lebih rumit dibanding vaksin DNA, dan memerlukan lebih banyak komponen dalam produksinya.

“Namun, vaksin RNA diyakini lebih aman daripada vaksin DNA, namun belum ada bukti sampai saat ini bahwa vaksin DNA misalnya terintegrasi dengan kromosom kita,” tutur Budiman.

Selanjutnya ia menjelaskan jenis platform yang dikembangkan dipilih berdasarkan pertimbangan terkait seperti keamanan, efikasi, hingga kemudahan distribusi vaksin.

Vaksin RNA dan DNA menghasilkan antigen yang bersifat endogen. Artinya yang diproduksi oleh sel tubuh sendiri. Dengan adanya antibodi endogen tersebut, maka potensi respon imun yang bisa dirangsang adalah antibodi, sel T-CD4 dan sel T-CD8.

BACA JUGA :  Chevron Hengkang dari Indonesia, Tata Kelola Migas Laut Masih dalam Tahap Negosiasi

“Ketiga-tiganya bisa dirangsang dengan baik dan sudah ada buktinya,” ujarnya.

Untuk vaksin rekombinan subunit dan VLP, ia menuturkan pihaknya telah mendapatkan informasi bahwa antibodi dan sel T-CD4 bisa dirangsang dengan baik.

“Namun yang menjadi sedikit kekhawatiran adalah bagaimana respon sel T-CD8-nya, mungkin tidak sebaik vaksin RNA dan DNA,” pungkasnya.