Mojokerto
Aktivitas Relawan Tagana saat memasak di dapur umum bagi warga yang terdampak banjir di Dusun Balong, Desa Banyulegi, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Senin siang (14/12/2020). (Rama/PIJARNEWS.ID)

MOJOKERTO, PIJARNEWS.ID – Sebagai Wakil Koordinator Relawan Tagana (Taruna Siaga Bencana) Kabupaten Mojokerto, Imam Syaifudin (35), telah berkecimpung di kegiatan sosial sejak tahun 2005 tersebut, mengalami berbagai rintangan. Pengalaman pertamanya ketika dikirim di Aceh dalam peristiwa Tsunami.

“Waktu itu sebagai Brigade Penolong Pramuka 1316 Kabupaten Mojokerto. Tahun 2009 mulai masuk ke Tagana,” tuturnya, Senin (25/1/2021).

Anggotanya kini berjumlah 40 orang. Dengan usia produktif, Tagana memiliki kegiatan yang meliputi 3 tahapan. Yakni, pra, bencana, dan pasca bencana. Aktivitas Pra Bencana dilakukan dalam bentuk sosialisasi pencegahan dan penanganan bencana alam di sejumlah sekolah.

“Ini disebut sebagai Tagana Masuk Sekolah. Kemudian sosialisasi kepada masyarakat yang mana tempat tinggal atau desanya rawan bencana alam, atau istilahnya Tagana Teman Masyarakat Desa,” jelasnya.

“Kami juga menggelar penghijauan dengan menanam bibit pohon di Gunung Welirang, Gunung Arjuno, dan Pundak,” sambungnya.

Ketika disinggung bencana alam banjir di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto beberapa hari yang lalu, Imam menjelaskan, pihaknya turut serta melakukan evakuasi, pendataan, serta mendirikan dapur umum.

“Di dapur umum bisa menghasilkan 4000 nasi bungkus, satu kali masak 2000 bungkus. Rata rata 600 sampai 1200 selama satu bulan. Kalau di Dawar Blandong sekali masak 300 bungkus,” paparnya.

Tagana juga siap siaga menghadapi perubahan cuaca dengan mendirikan posko yang tak jauh dengan Dinas Sosial. Termasuk berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, melihat prakiraan cuaca, serta, menerima informasi di lapangan.

BACA JUGA :  Cetak Kader Muda Muhammadiyah, PDPM Surabaya Gelar Pelatihan Imam Muda

“Anggota kami banyak yang tersebar di tingkat kecamatan,” imbuhnya.

Imam mengaku, pengalaman yang berkesan adalah ketika berada di dapur umum. Bisa berkumpul semua relawan se Mojokerto dan beraktivitas bersama sama. Seperti mengadakan reuni, kopdar atau gathering.

“Ada perbedaan ketika ditengah pandemi. Mulai cara masak dan sosialisasi menggunakan SOP protokol kesehatan. Ada pelatihan khusus penanganan pengungsi di masa pandemi. Hanya saja, kalau di Dawarblandong mereka mengungsi ke rumah kerabatnya,” tuturnya.

“Di lokasi kejadian kami berlakukan sistem shift. 20 orang shift pagi, 20 orang shift malam,” sambungnya.

Mojokerto
Relawan Tagana saat mempersiapkan bantuan makanan. (Rama/PIJARNEWS.ID)

Imam juga mengungkapkan suka dan duka ketika menjalani tugasnya. Ia sangat bersemangat lantaran bisa membantu sesama. Sehingga, menjadi bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

“Dukanya adalah meninggalkan orang yang dicintai untuk bertugas setiap saat. Pernah ketika ditugaskan di Lombok. Istri saya hamil 3 bulan. Anak juga menangis,” ungkapnya.

Imam berpesan kepada masyarakat, supaya lebih sadar diri akan bencana. Selalu mengingatkan untuk jaga diri, dan jaga kesehatan.

“Bagi relawan jangan sampai kita yang seharusnya menolong masyarakat, malah sebaliknya, jadi masyarakat yang menolong relawan,” pungkasnya. (ram/mad)