environment
Environment | PIJARNEWS.ID

Indonesia adalah negara yang sangat luas, dari sabang sampai merauke memiliki ciri khas, budaya, bahasa yang sangat banyak. Indonesia memiliki 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Melihat sumber daya alam yang melimpah, dan alam yang masih terlihat asri, dengan kemungkinan besar ketika 2 musim ini ada pasti kita sudah bisa mencegahnya dengan beberapa cara.

Kita selaku generasi muda dan milenial selain menikmati alam yang ada kita juga harus menjaganya, termasuk ketika alam kita sudah diburu habis-habisan dan diperlakukan tidak sewajarnya maka kita berhak melarang dan memberhentikan tindakan tersebut. Sebagai contoh musim penghujan, ketika musim penghujan datang pastinya kita sudah berusaha mempersiapkan dengan cara menanam pohon agar nanti air yang turun bisa diserap oleh pohon.

Begitupun dengan cara seperti membuat waduk atau tempat air yang besar. Sama halnya dengan musim kemarau datang, kita sudah mempersiapkan tandon-tandon buat menampung air seperti membuat sumur dan mengandalkan waduk yang terisi air. Hal itu adalah upaya kita untuk menghadapi sebuah bencana yang nantinya tidak bisa kita duga datangnya. Seperti yang terjadi sekarang, banjir dan bencana alam yang sedang melanda Indonesia.

Berada di Nomor Berapa Kepedulian Kita dengan Alam?

Kejadian tersebut sebenarnya bukan hanya ujian yang datang dari Allah namun keteledoran dari sifat manusia dalam menggunakan alam sangat berlebihan tanpa melihat akibatnya. Ketika nanti yang disalahkan adalah ulah manusia, manusia sendiri akan mengelak bahwa banjir diakibatkan datangnya curah hujan yang tinggi sehinga berakibat banjir. Nah kali ini kita tak perlu membahas panjang lebar terkait saling menyalahkan dan saling menuduh ini itu.

Kita polakan dalam diri kita sendiri, mulai lingkungan sekitar rumah dengan menjaga dan memanfaatkannya dengan baik. Kita harus sadar bahwa alam dan lingkungan ini telah memberi manfaat dalam kehidupan sehari-hari buat kita, lantas selain diri kita sendiri siapa yang mau jaga?, Toh bukan alam yang butuh, yang butuh adalah manusia sendiri. Sudah banyak relawan, gerakan, komunitas dalam membahas hal ini, dan itu sebenarnya bisa kita manfaatkan dengan baik segala kegiatan yang ada di dalamnya.

Maunya Alam Lestari tapi Minim Aksi

Banyak gerakan atau komunitas yang mewadahi namun masih minim juga kesadaran untuk aksi menjaga lingkungan. Bisa diperkirakan gerakan lingkungan bekerja ketika bencana sudah datang, entah dengan aksi donasi atau yang sejenisnya. Hal tersebut sangat boleh dilakukan untuk membantu saudara yang sangat membutuhkan, namun perlu diperhatikan juga apakah seperti ini gerakan milenial yang diharapkan?, apakah mereka baru terbangun ketika saudaranya mengalami kesusahan?.

BACA JUGA :  Ramadhan Hijau: Puasa, Ibadah dan Cinta

Sebenarnya anggapan seperti ini tidak boleh ada ketika bencana sudah datang. Kita bisa membantu mereka yang terkena bencana dengan bantuan sosial dan aksi donasi, namun disini kita lupa bahwa aksi dan gerakan lingkungan yang minim digalakkan menjadi factor penentu. Setidaknya ketika kita sudah berupaya dan berusaha membuat tatanan untuk mencegah bencana itu lebih baik dari pada kita diam dan berdiri tanpa ngapa-ngapain.

Sekiranya sosok seperti apa dan bagaimana yang bisa menyadarkan gerakan lingkungan seperti ini, saya ingatkan lagi bahwasannya yang butuh disini adalah manusia sendiri, kita-kita sendiri bukan alam yang butuh kita. Selain membantu saudara yang terkena musibah, kita juga bisa menyiapkan penanggulangan gerakan tanam pohon, bersih-bersih sampah dan sejenisnya. Jadi perbanyak aksi ketika membahas persoalan lingkungan.

Q.S Ar-Rum ayat 41

Menjaga dan melestarikan alam dengan baik merupakan tugas manusia dan ketika tidak mau menjaganya maka tunggulah akibat dari itu semua. Dalam Al-Quran Q.S Ar-Rum ayat 41 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan  sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar”.

Dalam al-Qur’an sudah dijelaskan dengan begitu gamblang ketika lingkungan dan alam kita sudah tidak dijaga dan tidak diolah dengan baik maka akan timbul hukum timbal balik dari semua kelakukan itu. Dan Allah sudah menghendaki akibat dari kerusakan yang ada untuk dirasakan manusia, hal tersebut dilakukan agar manusia sadar dan kembali ke jalan yang benar.

Jika memang tidak bisa mengajak secara luas untuk gerakan kepedulian alam dan lingkungan kita mulai dari diri sendiri dan keluarga, termasuk kegiatan menjaga kesehatan adalah bentuk mencegah bencana dari penyakit. Apalagi buat anak yang masih kecil dan minim pengetahuan tentang alam, di sini bisa dimulai dari keluarga, karena peran keluarga salah satunya orang tua adalah acuan bagi anaknya.

Apa yang dilakukan dan dikerjakan orang tua bakal ditiru oleh anaknya, bukan hal yang biasa tapi ini sudah umum dikalanagan masyarakat. Orang tua bisa memberi pengetahuan sejak dini akibat apa yang diperoleh ketika kita menjaga alam dan akibata apa yang diperoleh ketika kita merusak alam. Generasi milenial harus sadar akan hal ini, seluruh kegiatan yang kita lakukan pada hari ini akan menentukan kondisi yang akan datang.

Editor: Angga

BACA: Pembaca PIJARNEWS.ID Menulis