Usaha Bunga Kering dan Buatan Tetap Sibuk Ditengah Pandemi

0
16
Surabaya
Ketua Asosiasi Pengrajin Bunga Kering dan buatan (Aspringta) Kota Surabaya, Siti Retnanik (63), menata salah satu kerajinannya yang terbuat dari bunga kering. (Rama/PIJARNEWS.ID)

SURABAYA, PIJARNEWS.ID – Ditengah pandemi Covid 19, sejumlah dunia usaha mengalami keterpurukan hingga penurunan laba secara drastis. Seperti usaha cafe, restoran, travel, dan hotel. Kondisi tersebut mengakibatkan para pelaku usaha memutar otak agar roda perekonomiannya tetap jalan.

Namun, ada satu bisnis yang sama sekali tidak merumahkan karyawannya ketika diterpa badai Covid 19. Ketua Asosiasi Pengrajin Bunga Kering dan buatan (Aspringta) Kota Surabaya, Siti Retnanik (63), mengucapkan rasa syukurnya, lantaran tidak merumahkan karyawan dan tetap bekerja di tempat usahanya.

“Usaha saya daur ulang sampah kresek sampah daun. Ada buyer saya tetap pre order setiap bulan. Walaupun buyer lokal berkurang 50 persen,” ujarnya, Selasa malam (26/1/2021).

Meski sempat mengalami penurunan omzet ditengah pandemi, lantaran tidak tidak ada kegiatan pernikahan, serta jadwal pengiriman barang ke luar negeri yang dibatasi, Asosiasi yang beranggotakan lebih dari 60 tersebut kembali mendapatkan pesanan pernak pernik manten mulai bulan Agustus. Hanya saja jumlahnya yang masih sedikit.

“Cuma 100 200 kalau dulu bisa 500 700 1000. Karena digelar di hotel dan gedung. Sementara yang pesan saat ini pernikahannya di rumah,” ungkapnya.

Untuk menggeluti usaha jenis tanaman hias dan bunga kering, diperlukan modal kesabaran dan ketekunan. Tanaman juga makhluk hidup yang membutuhkan kasih sayang. Apabila salah dalam penanganannya, maka menjadi layu dan mati.

“Kalau penuh dengan kasih sayang serta menyirami tumbuhan tepat waktu. Maka, tumbuhnya juga baik. Begitu juga dengan bunga kering, dengan perasaan yang baik, Hasilnya akan menjadi bagus juga,” terangnya.

BACA JUGA :  Situasi Pandemi, A. Fathur Rozi Pemuda di Lumajang Justru Meraup Omset Jutaan Rupiah

Untuk tanaman hias, lanjut Nanik, Anggrek adalah tumbuhan yang membutuhkan perhatian ekstra. Sedangkan tanaman Janda Bolong, dan Beras Tumpah yang kini sedang tren, merupakan tumbuhan yang paling mudah tumbuh.

“Anggrek butuh perlakuan khusus. Jangan sampai penuh akarnya, harus dipecah, habis berbunga bekasnya dipangkas supaya tumbuh lagi. Kalau daun daunnya yang jatuh tidak dibuang tapi saya buat kerajinan,” terangnya.

“Kalau tanaman hias yang dibutuhkan pot, pupuk, media tanamannya Rp 100 sampai Rp 200 ribu sudah cukup. Dari tanaman itu bisa dikembangkan atau dijual lagi. Kalau bunga kering bisa diambil dari kresek. Tapi harus dipercantik penampilannya dan dikombinasikan dengan batu batuan. Harga jualnya lebih tinggi karena dikemas dengan eksklusif dan elegan,” jelasnya.

Keuntungan yang bisa didapat lebih dari 50 persen. Hanya saja modalnya harus rajin dalam pembuatan dan memasarkannya. Karena bukan berkategori bahan pokok. Terutama ketika menghadapi konsumen berbagai karakter.

Aspringta tengah berfokus kepada ibu-ibu untuk belajar dan mengembangkan bisnis tersebut. Mengingat, mereka memiliki banyak sekali waktu luang. Buatlah sebuah produk dan yakinlah bahwa itu akan diminati oleh konsumen. Jangan bergantung kepada suami. Tuntutan ekonomi juga tinggi.

“Harus optimis. Modal itu mudah. Buatlah produknya dulu. Nantinya akan ada kesempatan yang datang dan terbuka secara lebar. Dulu modal saya dari almarhumah suami. Bahkan menjadi sebuah perjudian kalau gagal bisa tidak ada kebutuhan makan. Kalau ada yang beli yakinlah keuntungan bisa berlipat-lipat,” pungkas perempuan yang sudah menggeluti usaha ini selama 24 tahun tersebut. (ram/mad)