ITS Ciptakan Pakan Ikan dari Ekosistem Perairan

0
21
Surabaya
Tim pengabdian masyarakat ITS sosialisasi pembuatan pakan ikan berupa pelet kepada warga Desa Kedung Cowek, Kamis sore (28/1/2021). (Rama/PIJARNEWS.ID)

SURABAYA, PIJARNEWS.ID – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), melalui Tim Pengabdian Masyarakat, mengolah limbah dari kerang, dan perut ikan, menjadi pakan ikan berupa pelet yang diberi nama TI-Rang, Desa Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya, Kamis sore (28/1/2021).

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, IDAA Warmadewanthi, menuturkan, jumlah kalsium dalam cangkang dan adanya protein yang besar di dalam limbah perut ikan menjadi alasan kuat mengapa dipilih sebagai pelet. Dengan tambahan dedak dan vitamin, pelet ini sangat berguna untuk pertumbuhan ikan.

“Ada beberapa proses untuk mengolah limbah ini. Mula-mula kotoran perut ikan direbus untuk menghilangkan baunya dan kemudian dikeringkan. Sedangkan limbah cangkangnya cukup dihaluskan saja,” kata Warma.

Kedua bahan tersebut, lanjut Warma, kemudian dicampur dedak padi, vitamin, dan ragi dengan perbandingan yang telah ditentukan. Setelah proses fermentasi selesai selama satu hari, adonan bisa dimasukkan ke dalam mesin cetak pellet.

Wanita yang juga alumni ITS tersebut juga mengatakan, satu kilogram TI-Rang bisa dijual seharga Rp 13.000. Saat ini, pengolahan limbah kerang dan perut ikan sudah disosialisasikan kepada masyarakat oleh tim Pengabdian Masyarakat ITS.

“Dengan bantuan beberapa mahasiswa KKN, sosialisasi telah dilakukan kepada masyarakat. Hal ini dikarenakan masih banyaknya limbah cangkang dan usus yang kurang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar,” imbuhnya.

ITS juga menyediakan mesin pencacah dan pencampuran limbah kerang kepada masyarakat yang sebagian besar adalah nelayan, untuk mempermudah proses pembuatan TI-Rang.

BACA JUGA :  Tim Antasena ITS Rancang Roda Kemudi Ramah Lingkungan

“Sehingga diharapkan nelayan tetap bisa mendapatkan penghasilan saat tidak bisa melaut karena cuaca buruk,” harapnya.

Terakhir, Warma menyampaikan, program ini sebenarnya merupakan kerjasama dengan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) sejak April lalu. Namun, pandemi Covid-19 membuat mahasiswa NTUST tidak bisa datang ke Indonesia untuk melaksanakan program tersebut. (ram/mad)