Surabaya
Seorang penyintas Covid-19 sedang mendonorkan plasma konvalesen di UTD PMI Surabaya, Kamis (28/1/2021). (Rama/PIJARNEWS.ID)

SURABAYA, PIJARNEWS.ID – Terapi Plasma Darah Konvalesen kini tengah diperbincangkan sebagai salah satu upaya, meringankan gejala pasien yang sedang berjuang melawan Covid-19.

Beberapa penyintas tergerak hatinya mendonorkan Plasma Darah Konvalesen, untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Alternatif itu dinilai bisa memberikan antibodi lebih kebal terhadap keganasan virus.

Tono (27) misalnya. Pria yang berprofesi sebagai marketing bank di Surabaya tersebut mengaku baru pertama kali, mendonorkan plasma darah konvalesen. Warga Surabaya itu juga merasakan prihatin karena pandemi ini masih belum selesai.

“Ada teman saya share di sosmed bahwa temannya butuh donor konvalesen beberapa hari yang lalu. Saya lihat golongan darahnya sama, AB plus. Kemudian saya coba kirim pesan ke dia. Lalu saya dihubungkan langsung sama orang yang membutuhkan donor,” jelas Tono, Kamis (28/1/2021).

Tono juga menambahkan, ia terpapar Virus Corona awal November lalu dengan gejala ringan, ia tertular dari temannya. Tono akhirnya bisa sembuh setelah menjalani isolasi mandiri selama 10 hari.

“Selama 10 hari saya minum vitamin dan obat obatan. Hari ke 10 saya swab pcr lagi dan dinyatakan negatif,” ungkapnya.

Sebelum dilakukan donor, Tono mendaftar ke UTD PMI Surabaya mengikuti sampling terlebih dahulu. Dokter menghimbaunya agar banyak minum air putih, mengurangi makan makanan gorengan, dan beristirahat yang cukup.

“Terus dilihat imunitasnya juga. Setelah itu saya dinyatakan memenuhi syarat. Persiapan khusus enggak ada. Saya menjalaninya dengan biasa saja. Yang penting hidup sehat,” ucap Tono.

Tono berharap pandemi ini cepat segera berlalu serta, plasma konvalesen yang ia donorkan bisa bermanfaat bagi para pasien.

“Apalagi saat ini banyak orang parno takut ketular padahal proses donor plasma itu tidak menimbulkan covid. Soalnya penularan virus corona lewat droplet. Bahkan ada yang malas membagikan dengan alasan privasi,” tuntas Tono.

BACA JUGA :  DPR RI Dapil XI Slamet Ariyadi Akan Hibahkan Gaji untuk Kesejahteraan Petani

Sementara itu, Luki Handoko (42), Karyawan Swasta asal Tandes, menegaskan, ia melakukan donor plasma konvalesen lantaran panggilan hati. Tono juga telah mendonorkan plasma konvalesennya sebanyak 10 kali.

“Pertama donor tanggal 10 Juli 2020. Terakhir tanggal 11 Desember 2020. Waktu itu, rutin 14 hari sekali. Kalau saat ini sudah tidak bisa karena kadar imunitas hanya untuk diri sendiri,” terang Luki.

“Sebelum donor perbanyak minum air putih, hindari makan gorengan. Untuk sampling puasa sama minum vitamin,” imbuhnya.

Ketika donor plasma untuk pertama kalinya, Luki merasakan sedikit efek samping seperti kebas di bagian bibir dan kedinginan telapak tangan dan kaki.

“Setelah dua tiga kali tidak merasakan efek apa apa. Mungkin tubuh saya masih beradaptasi,” tuturnya.

Luki mengungkapkan, ia terkena Covid 29 Mei 2020 dengan status PDP. Kemudian tanggal 3 ia melakukan swab tes dan hasilnya keluar tanggal 10 Januari 2020 dinyatakan positif.

“Langsung dijemput dan dikarantina di Rumah Sakit Menur selama 14 hari. Tanggal 24 Juni swab terakhir hasilnya negatif,” ungkap Luki.

Luki menyebutkan, ia terpapar ketika bepergian luar kota ke Sidoarjo. Awalnya merasakan gejala ringan seperti batuk kering ,dan demam dengan suhu 39,3 derajat celcius. 4 hari kemudian demamnya menghilang namun muncul sesak nafas dan diare.

“Lidah saya mati rasa tapi kalau mencium aroma bisa. Makan nasi 3 sendok mau muntah, mual mual, perut rasanya kram. Lalu, saya konsumsi buah dan sayur serta makan protein tinggi kayak telur rebus, ikan ayam. Tapi harus dipaksakan,” keluhnya.

Luki berpesan, para penyintas Covid 19 jangan takut mendonorkan plasma konvalesennya. Karena apa yang dibayangkan atau ditakutkan tidaklah sama dengan prosesnya.

“Semoga pasien segera sembuh. Prosesnya tidak sakit. Sama pandemi covid 19 cepat pergi dari muka bumi,” ucapnya. (ram/mad)