Oleh: Nu’man Iskandar*

Beberapa waktu yang lalu ngobrol dengan salah seorang yang dengan sangat ingin dirahasiakan namanya. Ingin dirahasikan namanya karena dia adalah alumni PTM dan sekarang banyak berkatifitas yang bersinggungan dengan lembaga-lembaga donor internasional. Ternyata dia selalu mengamati Muhammadiyah, dan menurut saya dia mengamati Muhammadiyah dengan sangat jeli.

Dia tahu Muhammadiyah dari dalam sekaligus melihat Muhammadiyah dari luar. Melihat Muhammadiyah secara lebih obyektif.

Dia memulai pembicaraan dengan: “Mas Nu’man sekarang, berapa umur Muhammadiyah?” Saya jawab, lebih dari seabad, lahir tahun 1912. Dalam kalender Hijriyah malah 110 tahun.

Menurutnya, Muhammadiyah sekarang terlalu banyak bereuforia pada masa lalunya. Dan dalam melihat masa depan, bangga dengan kebesarannya yang bisa disebut kebanggaan semu.

Misal ketika disebut dengan organisasi yang terkaya, warga/ pimpinan Muhammadiyah bangga dengan ini. Mereka akan menyongsong masa depan dengan kebanggaan itu. Padahal senyatanya, banyak guru-guru di sekolah Muhammadiyah jauh dari kondisi sejahtera.

Sangat kontras dan ironi. Muhammadiyah kaya tapi tidak/ belum bisa menyejahterakan guru-gurunya. Guru-guru yang telah membesarkan Muhammadiyah sendiri. Jika ingin bukti, bisa dihitung berapa jumlah guru honorer di Muhammadiyah dan berapa tingkat kesejahteraannya.

Kaya, tapi tidak/ belum bisa menyejahterakan guru-gurunya, apalagi menyejahterakan warga Muhammadiyah umumnya. Ini yang disebut kebanggan semu.

Muhammadiyah juga sering disebut sebagai organisasi modern, pembaharu, revivalis dan sebagainya. Tapi teman saya itu, dia mencoba melihat dari sudut pandang yang lain sekaligus sebagai otokritik. Dia mencoba melakukan perbandingan kecil-kecilan. Dia bertanya, “Man, sekarang coba bandingkan dengan gerakan transnasional yang lahir kemarin sore itu, Muhammadiyah sangat jauh tertinggal”. Dia kemudian menjelaskan bahwa  Muhammadiyah yang katanya besar hanya menjadi jago kandang. Predikat modernis, revivalis, berkemajuan hanya kebanggaan semata. Nyatanya hanya membandingkan dengan ormas-ormas dalam negeri.

Bagaimana dengan dunia luar? Memang ada, seperti peran MDMC. Tapi gerakan itu sangat bergantung pada sosok personal, bukan kelembagaan. Individu yang kemudian membesarkan organisasi. Pasca itu, wallahu’alam.

BACA JUGA :  Pandemi, Kebijakan Pemerintah dan Ekspresi Masyarakat

Gerakan-gerakan transnasional, mereka punya blueprint capaian mereka selama ini. Mereka juga punya target-target dalam jangka pendek, menengah dan panjang. Mereka sangat agresif dan berpengaruh dalam menciptakan opini publik. Jejaring mereka terbentuk dengan sangat masif. Bahkan, warga Muhammadiyah banyak yang menjadi pengikutnya, tanpa merasa menjadi pengikut. Muhammadiyah hanya sebagai status keorganisasian saja, tetapi soal isi dan madzhab pikiran mereka sudah yang lain. Putusan-putusan tarjih tidak banyak yang mereka kenal.

Islam moderat yang digembor-gemborkan, hanya untuk menghadapi Islam Nusantara. Selebihnya, Muhammadiyah hanya asyik dengan dirinya sendiri. Bangga dengan capaian-capaian semu yang diciptakan oleh kader-kadernya sendiri.

Coba saja, ketika bahas pendidikan dan kesehatan. Muhamadiyah boleh bangga, tapi mulai kalah dengan Kristen dan Katholik yang begitu masif. Apalagi jika membahas pertanian, sangat jauh tertinggal. Padahal warganya banyak yang menjadi petani. Petani yang menjadi warga Muhammadiyah kondisinya sama seperti manyarakat kebanyak, banyak yang masuk dalam kategori dhuafa dan mustad’afin. Muhammadiyah tidak punya blueprint pertanian.

Karena itu disebutnya, Muhammadiyah tidak punya blueprint yang jelas. Bluepritn yang jelas tentang capaian masa depan Muhammadiyah ini akan jadi apa. Muhammadiyah memang punya konsep, tetapi sering pada konsep-konsep yang mengawang-awang tanpa bagaimana teknis operasional mencapaikan. Misal, punya konsep dhuafa dan mustadafin, tapi tidak punya definisi yang jelas siapa orang miskin seperti apa, dimana misalnya Bank Dunia memiliki kriteria operasinal orang miskin yg diukur dari pendapatan.

Muhammadiyah boleh bangga, tapi Muhammadiyah akan semakin tertinggal jika masih seperti sekarang ini. Harus ada perubahan, jika tidak tunggu saja, begitu katanya.

Menjelang muktamar Muhammadiyah di Solo ke-48 nanti, harus mempertegas capaian apa yang menjadi harapan beserta tahapan impelementasi serta kesediaan untuk melakukan koreksi jika tidak sesuai dengan blueprint. Melihat kondisi ini, mari kita sama-sama diskusikan kegelisahan ini.

*) Warga Muhammadiyah & Pegiat Kedai Jambu Institute (KJI).

1 KOMENTAR

  1. Generasi Muhammadiyah harus berani dan mau merapatkan barisan. Bergerak dlm bidang masing masing sesuai potensi yg dimiliki. Dengan komunikasi, silaturahmi yg baik. Kelemahan kita di gerak nyata organisasi dipemberdayaan. Kerja nyata. Mencapai titik terbawah. Jangan hanya membangun image.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here