Oleh: Nurbani Yusuf*

Bagi kami umat Islam, pengakuan bahwa Allah punya anak adalah pelecehan dan penghinaan besar, anakku bertanya: apakah Tuhan akan marah dan suatu dosa ketika huruf pertamanya ditulis dengan huruf kecil?

Ka’ab bin Ahyar berkata: Malaikat akan murka, api neraka akan panas menyala ketika mereka menyuarakan apa yang mereka katakan.

Mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS. Maryam: 88-92).

Tidak ada sesuatu pun yang lebih sabar dari bentuk disakiti yang ia dengar selain Allah. Mereka menyatakan bahwa Allah memiliki anak. Meski demikian, Allah masih memaafkan mereka dan tetap memberikan mereka rezeki.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kitab tafsir Alquran Al Azhiem Ibnu Katsier bertutur: Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya. Allah tidaklah memiliki anak dan istri. Tidak ada yang semisal dengan-Nya. Allah itu Al Ahad, Ash Shomad (Maha Esa dan semua makhluk bergantung pada-Nya)”.

Tidak hanya pada soal konsep ketuhanan–bahkan dalam urusan binatangpun masing-masing agama berselisih: Sapi dianggap sebagai binatang suci dalam beberapa agama seperti Hindu, Jainisme dan Zoroastrianisme.

BACA JUGA :  Ironi Kenakalan Remaja

Orang-orang Mesir kuno menganggap babi sebagai binatang suci dan sebagai dewa penting. Babi dengan bulu tegak dianggap mampu mengatasi badai, kekacauan, dan kegelapan. Celtic juga menyembah ‘dewa babi’ bernama Moccus. Menurut zodiak China, babi merupakan satu dari dua belas binatang menguntungkan.

Di zaman kuno di Suriah, kambing ditutupi dengan kalung perak dan dibiarkan berkeliling kota selama pernikahan raja.

Apa benar ajaran Agama memang saling ‘melecehkan’ ? apa yang menjadi iman orang Kristiani adalah aib bagi umat Islam, pun sebaliknya. Al Ahad, Ash Shomad adalah prinsip ketuhanan yang diimani umat Islam, berlawanan dengan konsep Trinitas yang diimani orang Kresten.

Begitu pula dengan binatang-binatang yang dikeramatkan oleh agama atau keyakinan tertentu kemudian berbalik menjadi binatang konsumsi. Sapi dan kambing misalnya, binatang yang dianggap suci dan sakral oleh orang Hindhu dan kepercayaan pagan di Syuriah menjadi hewan berdaging lezat bagi umat Islam.

Lantas bagaimana bersikap, ketika yang tertutup menjadi sangat terbuka dan menjadi milik public, disitu rumitnya. Saya tentu tak nyaman mendengar Khutbah di gereja, begitu pula dengan umat Kristiani tentu juga tak nyaman mendengar Khutbah kami di masjid. Meski toleransi terus diupayakan, tapi tak juga bisa membuat hidup berbeda iman bisa tenteram, mungkin bersabar dan saling menahan diri itu lebih baik.

*) Komunitas Padhang Makhsyar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here