Oleh: Nurbani Yusuf*

Mungkin akan bertanya tentang kapan kiamat bakal terjadi. Atau tentang khilafah yang sedang dibincang ramai. Atau tentang ibadah-ibadah yang diperselisihkan dan di bid’ahkan.

Andai Rasulullah SAW masih hidup mungkin semua ikhtilaf dan selisih umat Islam tentang politik, sosiaL, budaya dan bahkan hukum musik, hukum merokok atau selisih siapa yang harus dipilih dalam Pilpres kemarin tak akan terjadi.

Tak ada lagi keributan-keributan atau konflik-konflik sesama ulama tentang berbagai hal yang membingungkan umat yang tak kunjung usai, terus datang silih berganti.

Sesama umat Islam saling melaporkan dan bangga kalau ada yang ditangkap dan bersorak menang. Terus berselisih pada hal-hal yang tidak produktif. Sementara pekerjaan-pekerjaan besar diabaikan. Lebih senang bertengkar di media sosial, ikutan menyebar isu, saling membully dan bermusuhan dengan sesama ketimbang menghadiri halaqah atau rapat-rapat membangun gedung sekolah yang macet, atau musyawarah merubah masjid yang sepi dan kotor menjadi makmur sentosa.

Nyatanya kita lebih senang bertengkar, sibuk menyelamatkan ulama yang tersandung kasus atau terpeleset lidah. Hari ini semua jadi serba terbalik, bukan para pewaris Nabi itu yang menyelamatkan, tapi umat harus bekerja keras untuk menyelamatkan pewaris Nabi yang mulia dari ancaman.

Bahkan disebutkan sebagai jihad besar, memang tak ada salah, tapi eksistensi ulama sebagai pewaris Nabi akan mengalami reduksi, kemuliaan dan kewibawaannya berkurang.

BACA JUGA :  Dua Tempat

Nabi tak pernah minta diselamatkan, sebaliknya pasang badan menjadi penyelamat bagi umatnya. Nabi SAW tak pernah lari apalagi sembunyi dari peperangan, Beliau selalu berada pada posisi paling depan melawan munkar, yang diperangi Nabi adalah orang kafir, bukan sesama muslim yang dikafirkan.

Nabi itu mendamaikan dua kelompok muslim yang berselisih, menghibur yang sedih, memberi kabar gembira kepada yang putus harapan dan memberi peringatan kepada yang lalai. Itulah manhaj para nabi, pun dengan para pewarisnya. Bersyukur 35 tahun menjadi aktifis di Muhammadiyah tak pernah direpoti ulama-ulama kami.

Jika bertemu Nabi SAW saya akan minta surga tidak yang lain. Saya abaikan semua selisih dan konflik yang tak ada ujung pangkal, saling mencaci dan mencela sesama saudara sendiri. Saya hanya ingin masuk surga bersama Nabi SAW. Wallahu taala a’lam.

*) Komunitas Padhang Makhsyar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here