Suka Duka Petugas Damkar Surabaya Ketika Menjinakkan Si Jago Merah

0
37
Damkar
Reno Komandan Regu Tiga Orong-Orong PMK Surabaya, saat memeriksa perlengkapan pemadaman kebakaran unit walang kadung Damkar Kota Surabaya, Jalan Pasar Turi, Kecamatan Bubutan, Selasa (2/2/2021). (Rama/PIJARNEWS.ID)

SURABAYA, PIJARNEWS.ID – Menjadi petugas pemadam kebakaran mempunyai resiko yang sangat besar. Disamping bertaruh nyawa demi menyelamatkan orang lain, sesak nafas dan tertimpa barang tentu akan dihadapi saat menjinakkan si jago merah.

Seperti Komandan Regu Tiga Orong Orong PMK Surabaya, Reno. Mantan pelatih paskibraka tersebut harus cepat, berhati hati dan menjaga keseimbangan, ketika mengendarai unit walang kadung. Apalagi kendaraan tersebut sering berangkat lebih dulu ke lokasi kejadian.

“Ketika dapat berita kebakaran. Kami langsung berangkat, tanpa memperdulikan unit lainnya. Paling lambat kira kira dua menit persiapannya,” ujarnya, Selasa (2/2/2021).

“Sering kami temukan akses gang sempit, pemukiman padat penduduk, atau bangunan semi permanen. Biasanya ada di kawasan utara. Bahkan sering juga dapat kebakaran alamat palsu,” imbuhnya.

Ia berpendapat, Ayu ting ting atau istilah lain dari laporan kebakaran palsu itu adalah penelpon yang iseng dan jahil. Karena tidak memikirkan bahaya ketika meluncur di lokasi.

“Padahal kami bertaruh nyawa. Bisa beresiko kecelakaan di jalan atau jatuh. Yang rugi petugas sendiri,” ungkapnya.

Jadi ketika command center menelpon pelapor dan tidak ada respon atau tanggapan. Maka bisa dipastikan itu adalah alamat palsu. Sehingga petugas yang sudah di tkp melakukan pengecekan langsung kembali ke tempat.

“Kami juga melakukan sosialisasi ke kampung yang tidak bisa dijangkau oleh mobil damkar,” tutur pria yang sudah jadi petugas damkar 6 tahun tersebut.

BACA JUGA :  Qualcomm Rilis Modem 5G dengan Kecepatan Mencapai 10Gbps

Reno juga sering dikhawatirkan oleh orang tua dan istrinya Terutama ketika memadamkan kebakaran dengan kobaran api yang besar. Biasanya, mereka memastikan memakai alat pelindung lengkap dan berdoa terlebih dahulu.

“Pertama kali takut ketika jadi petugas damkar. Waktu itu ada laporan kebakaran rumah. Tapi begitu di tempat uda selesai,” katanya.

Menurutnya, bangunan yang aman dari kebakaran harus menyesuaikan tegangan listrik yang ada. Jika berbeda dikhawatirkan akan terjadi gesekan dan menimbulkan panas lalu percikan api.

“Saran kami bangunan harus ada pemisah. Jangan berdempet satu sama lain,” ucapnya.

“Ketika musim kemarau jangan bakar bakar sampah, jangan buang puntung rokok sembarangan. Karena api cepat merembetnya,” pungkasnya. (ram/mad)