Menilik Film “Rumah Aya” Karya Mahasiswa PSTF UNEJ

0
59
Rumah Aya
Dua Sutradara saat memaparkan maksud pembuatan film. (Andi/PIJARNEWS.ID)

JEMBER, PIJARNEWS.ID – 2 Februari 2021 Mahasiswa Program Studi Televisi dan Film (PSTF) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) untuk kesekian kalinya unjuk karya. Kali ini film fiksi berjudul ‘Rumah Aya’ tayang di Kota Cinema Mall (KCM) Senin malam (1/2/2021).

Film yang mengangkat kisah bagaimana single parent mengasuh anaknya yang cerdas ini berhasil menghipnotis penonton yang hadir, diantaranya Rektor dan Dekan FIB Universitas Jember, bahkan Kapolres Jember. Tak heran jika banyak yang memberikan pujian atas karya yang merupakan tugas akhir dari duet Iqbal Mananta dan Dwi Cahyo Nugroho ini.

Rumah Aya mengisahkan sosok Bari, bapak yang berusaha keras memberikan pendidikan terbaik bagi anak semata wayangnya, Aya. Namun seringkali sikap Bari bertolak belakang dengan sang Anak, termasuk sering berseberangan dengan adiknya, Ari.

Bari, lulusan psikologi ini digambarkan berprinsip bahwa pendidikan tidak hanya sekedar angka akdemis yang diraih di lembaga formal, tapi juga mengajarkan empati dan kepekaan sosial kepada sesama.

Alih-alih diterima, sikap Bari sering dianggap Aya sebagai bentuk kungkungan baginya dalam berekspresi dan bentuk sikap yang kolot. Hal ini terlihat saat Aya mendapatkan tawaran dari gurunya untuk pindah ke sekolah yang mewadahi anak-anak cerdas sepertinya, namun ditolak oleh Bari.

Jalinan kisah berbumbu konflik hubungan bapak-anak di rumahnya ini mewarnai film sepajangang 36 menit ini. “Saya ingin menggambarkan bahwa rumah bukan melulu tentang tempat tinggal. Selama bisa merasa dicintai dan aman, itu sudah cukup disebut sebagai rumah,” jelas Iqbal yang mahasiswa angkatan 2014 ini.

BACA JUGA :  Mahasiswa ITS Ciptakan Kindcrete, Bisnis Vas Berbahan Beton

Karya Iqbal dan Dwi mendapatkan pujian, diantaranya dari Rektor Universitas Jember, Iwan Taruna yang mengaku turut terhanyut jalannya cerita. “Salut buat kawan-kawan PSTF yang sudah membuktikan mampu berkarya, hasilnya pun tak kalah dengan tayangan film yang ada. Adanya pandemi Covid ternyata tak harus mematikan kreativitas kita. Jika harus menilai, maka saya beri angka delapan,” puji Iwan Taruna yang mengaku sudah lama tak menonton bioskop gegara Covid-19 ini.

Pemutaran Film Rumah Aya di KCM mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Sementara itu menurut Dwi, hanya perlu seminggu untuk melakukan pengambilan gambar. Namun proses kelahiran ide dan proses penyuntingan yang cukup lama.

“Ide sudah ada semenjak 2018 dan mengalami proses hingga 2019. Sedangkan shooting dan editing kami lakukan di bulan Maret 2020 lalu. Apresiasi buat pemeran Aya, yakni Nafisa Ramadhani yang mampu menerjemahkan skenario dalam akting yang bagus. Tidak salah kami memberikan pemeran utama untuk Nafisa yang menyisihkan 50 peserta casting lainnya,” tutur Dwi yang bertugas sebagai editor, mendampingi Iqbal sebagai sutradara.

Pujian juga datang dari Kapolres Jember, AKBP Arif Rachman Arifin, menurutnya karya-karya mahasiswa PSTF akan mampu menggerakkan Jember sebagai Kota Industri Kreatif. Sementara Dekan FIB, Prof. Sukarno berharap film-film yang dihasilkan PSTF tidak hanya berhenti ditataran karya tapi juga akan memberikan keuntungan ekonomi. (as/mad)