Sidoarjo
Tiga pemuda di Sidoarjo Halim Akbar Indiarto (28), Yayan (26) dan Yunus (26) memamerkan salah satu tanaman hidroponik dari usahanya yang disebut Bengkel Ponic, Selasa (2/2/2021). (Rama/PIJARNEWS.ID)

SIDOARJO, PIJARNEWS.ID – Tiga pemuda di Sidoarjo mendulang jutaan rupiah dalam situasi wabah Virus Corona atau Covid 19. Mereka terdiri dari Halim Akbar Indiarto (28), Yayan (26) dan Yunus (26).

Dengan mendirikan Bengkel Ponic bulan Maret 2020 lalu, mereka memiliki peran yang berbeda-beda. Halim berperan sebagai pemasaran. Sementara Yayan dan Yunus bertugas sebagai Instalasi serta Riset Penelitian. Saat mengawali usahanya, mereka membuka lapak di pinggir jalan. Tentu saja mereka sering terkena terik panas matahari, debu jalanan, kehujanan dan berkorban banyak waktu.

“Awalnya kami memulai usaha perbaikan, pesanan, penjualan sparepart, instalasi hidroponik, dan aquaponik ini dengan starter kit atau modal Rp 1,5 juta,” ujarnya, ketika ditemui di Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Selasa (2/2/2021).

Mereka menawarkan sejumlah sistem penanaman. Seperti sistem Deep Flow Technique (DFT) dan Nutrient Film Technique (NFT). Sistem DFT adalah teknik mengalirkan air dengan menggunakan genangan pada instalasi dan menggunakan sirkulasi dengan aliran pelan. Mulai pagi dan sore dialirkan dengan durasi setengah jam.

“Jenis tanaman yang kami miliki mulai Kangkung, Sawi Pakcoy, Daun Mint, dan Sawi Samhong,” katanya.

Kendati demikian, Yayan juga mengaku sering menemukan kendala saat memulai bisnis tersebut. Antara lain, hama, dan pemadaman listrik ketika menerapkan sistem hidroponik NFT.

“Sistem itu bergantung pada listrik untuk mengalirkan air. Jika listrik mati maka tanaman akan kekurangan air dan nutrisi,” paparnya.

Jika dibandingkan dengan teknik DFT, air terus mengantong di talang. Selain itu nilai estetika dan harga lebih bagus harga lebih bagus daripada memakai sistem paralon. Talang sendiri dibersihkan dengan cara digosok maksimal satu bulan 3 hari sekali. Dengan durasi 10 sampai 15 menit.

BACA JUGA :  Selama Pandemi, Suku Baduy Nol Kasus Covid-19

“Kelebihan sistem talang adalah membersihkannya lebih mudah. Sementara paralon lebih susah dan tidak rata pembersihannya karena masih ada lumut,” terangnya.

Halim juga menjelaskan, omset yang didapat dari usahanya mencapai Rp 3 juta sampai Rp 6 juta perbulan. Pangsa pasarnya meliputi daerah Waru Timur dengan mengandalkan Whatsapp dan Sosial Media yang bisa diakses dengan kata bengkelponic.

“Kami sendiri tidak punya latar belakang sebagai petani. Kalau saya sebagai fisio terapi. Sementara Yayan seorang mekanik, dan Yunus hobinya sebagai pemanah. Semua bisa belajar asalkan mau,” ucapnya.

Dari hidroponik mereka, banyak hasil panen yang bisa dijual dan masuk ke swalayan. Namun Halim mengungkapkan kendala. Seperti legalisasi pengujian, kendati demikian pihaknya akan ada rencana untuk mengurus dokumen pengujian. Serta, akan merambah ke salah satu pasar online ternama di Indonesia.

“Ada customer yang beli hasil panen dari kami. Lalu kami kemas per netpot dengan harga kisaran Rp 1000 sampai Rp 5000. Hidroponik tidak membutuhkan tempat luas. Bisa dilakukan di rumah,” katanya.

Hidroponik sendiri jarak antara tanaman satu dengan lainnya 10 cm. Dengan 6 lubang untuk masing masing net pot. Ini dilakukan demi tumbuh kembang tanaman menjadi besar.

“Tanaman Kangkung paling mudah. Dua minggu bisa satu bulan setengah. Tidak butuh cahaya dan air banyak. Cuma butuh vitamin. Satu bulan bisa dipanen. Kalau daun mint distek maksimal satu bulan dipanen,” jelasnya.

Sementara Sawi, Bayam Merah,Hijau, 40-60 hari dari biji atau 25-30 hari setelah tanam dari bibit. Berbeda dengan Seledri, Tomat, Melon, Cherry, dan Strawberry. Perlakuannya dan jarak tanam juga berbeda.

“Dicek tingkat suhu air, vitamin, sirkulasi buah, lebih teliti penanganannya. Tapi hasilnya sangat memuaskan,” tuntasnya. (ram/mad)