Oleh: Sholihul Huda, M.Fil.I*

Ideologi keberagamaan di Muhammadiyah tidak tunggal (variatif). Secara organisasi, ideologi Muhammadiyah adalah tunggal sebagaimana dalam buku-buku rumusan ideologi Muhammadiyah. Namun dalam proses pemahaman terhadap rumusan ideologi terdapat beragam varian pemahaman di kalangan warga Muhammadiyah. Konsekuensi dari ragam varian pemahaman ideologi, berdampak pula pada keragaman sikap keberagamaan warga Muhammadiyah di masyarakat.

Hal ini dapat teramati dari hasil penelitian Munir Mulkhan di Wuluhan Jember yang membagi empat varian orang Muhammadiyah dari prespektif sosiologi-keagamaannya. Pertama, Muhammadiyah-Ikhlas, kedua; Muhammadiyah-Kiai Ahmad Dahlan, ketiga; Muhammadiyah-NU (MuNu), keempat; Muhammadiyah-Marhean (MarMud). Studi ini di perkuat dari hasil penelitian Biyanto, yang menemukan dua varian pemikiran dan sikap Kaum Muda Muhammadiyah terhadap wacana Pluralisme agama.

Pertama; kaum muda Muhammadiyah yang menerima (setuju) terhadap Pluralisme agama. Argumentasi yang di gunakan adalah dalam memahami pluralisme agama harus di bedakan dengn pluralitas dan diversitas agama, sebab pluralisme keagaamaan lebih sekedar pengakuan secara pasif terhadap keragamaan keyakinan dan agama lain. Kedua; kaum muda Muhammadiyah yang menolak tegas wacana Pluralisme agama, argumentasi yang di gunakan bahwa pluralisme agama adalah paham yang mengajarkan semua agama benar dan ini bertentang dengan keyakinan bahwa agama yang paling benar di sisi Allah hanyalah Islam bukan yang lain. Artinya dari dua studi di atas, dapat di pahami bahwa antara “teks idealiatas” (teks ideologi Muhammadiyah) dengan realitas prilaku sosial keberagamaan Muhammadiyah itu berbeda, sangat variatif. Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa fenomena itu terjadi dan bagaimana model varian ideology keberagamaan di Muhammadiyah?

Ada beberapa latar yang teramati, Pertama, Muhammadiyah adalah “teks” realitas sosial keagamaan yang hidup dan dinamis, sehingga terus mengalami dialektika pergerakan dan perubahan di masyarakat. Artinya, Muhammadiyah akan terus di konstruksi oleh para anggotanya untuk di sesuaikan dengan realitas sosial kekinian, biar tidak di anggap stagnan, jumud “tradisional”. Apalagi dengan mengusung gerakan pembaharuan Islam (Tajdid), maka semakin mempengaruhi alam berfikir warga Muhammadiyah untuk di tuntut berfikir dan berprilaku modern, dan ini membutuhkan pembacaan ulang terus-menerus terhadap Muhammadiyah.

Kedua, posisi struktur sosio-kultur pengikut Muhammadiyah bervariasi. Pada awal berdirinya Muhammadiyah banyak di back up oleh mayoritas pedagang dan priyayi (abdi dalem Keraton Ngayogyokarto), kemudian bergeser pada Pegawai Negeri Sipil (PNS) terutama  guru dan dosen yang mayoritas tinggal di perkotaan, sehingga Muhammadiyah lebih cepat berkembang di Perkotaan daripada di Pedesaan. Perkembangan selanjutnya, dakwah Muhammadiyah mulai menyasar masyarakat pedesaan dan beragam komunitas sosial mulai Pekerja Seks Komersial (PSK), Petani, Buruh, Nelayan, Blogger, Eksekutif Muda, Pengusaha Artis dan sebagainya. Kondisi ini tentu berdampak bagi Muhammadiyah, mereka mengkonstruksi Muhammadiyah sesuai “alam berfikir” dan latar sosio-kulturnya, sehingga punya warna tersendiri di kalangan Muhammadiyah.

Ketiga, ragam pemahaman terhadap pemikiran ideal Kiai Ahmad Dahlan yang di kaitkan dengan realitas sosial. Muhammadiyah adalah wujud dari cita-cita ideal Kiai Ahmad Dahlan dalam membangun masyarakat Islam dengan di landasi pada spirit nilai-nilai Islam, “welas asih” dan reformasi (tajdid). Cita-cita ideal inilah yang terus di konstruksi dengan beragam metodologi dan kepentingan untuk menemukan konstruksi se ideal mungkin dengan cita-cita Kiai Ahmad Dahlan dalam menjawab problematika masyarakat. Karena beragama metodologi dan kepentingan, maka secara otomatis hasil konstruksi pemahaman tersebut juga bervariatif. Ragam ini tentu mempengaruhi konstruksi ideal terhadap Muhammadiyah.

Keempat, paradigma dan metodologi keilmuan yang berbeda dalam memahami realitas sosial Muhammadiyah dengan problem masyarakat kontemporer. Warga Muhammadiyah beragam latar pendidikan, mulai tidak sekolah sampai Profesor. Polarisasi latar ini berdampak pada paradigma dan metodologi yang digunakan dalam memahami dan menyikapi persoalan di Muhammadiyah. Fenomena ini dapat di amati ada sebagian warga Muhammadiyah yang masih berkutat pada pembahasan hukum Qunut Sholat Shubuh, TBC, Tahlilan, Ziarah Kubur, Tingkepan, dan sebagaianya,  namun ada juga yang sudah membahas internasionalisasi Muhammadiyah di aras global.

Potret di atas menggambarkan bahwa struktur sosio-kultur warga Muhammadiyah tidak tunggal. Kondisi ini secara alamiah mempengaruhi polarisasi pemahaman dan sikap keberagamaan di internal Muhammadiyah. Artinya, walaupun secara konsep, rumusan ide dan strategi perjuangan (ideologi)  di sepakati bersama dan tunggal melalui keputusan organisasi, tetapi dalam proses pemahaman terhadap ideologi bervariatif, sehingga menimbulkan sikap sosial-keberagamaan yang bervariatif. Semisal ada ber-Muhammadiyah dengan paham ideologi Islam Moderat, Islam Puritan, Islam Liberal bahkan Islam Radikal “garis keras”.

Polarisasi paham ideologi tersebut juga berpengaruh terhadap pemahaman dan penyikapan diskursus pemikiran Islam di kalangan Muhammadiyah. Wacana hangat yang jadi perdebatan di kalangan Muhammadiyah:

Pertama, penyikapan terhadap isu-isu pemikiran Islam kontemporer, seperti masalah liberalisme, sekulerisme, pluralisme, gender, kebebasan beragama (freedom of religion)  HAM, demokrasi, toleransi antar non-Muslim, radikalisme dan sebagainya.

BACA JUGA :  Hijrahku Keren: Dari Republik Menuju Khilafah

Kedua, penyikapan terhadap relasi Islam dan politik, persoalan ini hingga saat ini masih menjadi perdebatan hangat terutama berkaitan dengan konsep Negara Islam (dawlah Islamiyah), Khilafah Islamiyah, Formalisasi Syariat Islam, dan sebagainya.

Ketiga; penyikapan terhadap idealisasi model dakwah amar ma’ruf nahi mungkar di masyarakat, persoalan ini juga menjadi pewacanaan di kalangan aktivis Muhammadiyah, terutama berkaitan dengan aktualisasi dakwah Muhammadiyah di tengah kemungkaran sosial dan problem akibat modernitas dan westernisasi.

Wacana di atas dipahami dan di konstruksi oleh warga Muhammadiyah secara beragam. Konstruksi itu sangat di pengaruhi oleh konstruksi ideologinya. Pada kajian ini dapat di potret varian ideologi keberagaman Muhammadiyah dari prespektif pemahaman ideologinya.

Pertama; varian ideologi keberagamaan Moderat. Varian ini memahami ideologi Muhammadiyah secara terbuka (inklusif). Maksudnya, keberdaan Muhammadiyah di masyarakat tidaklah sendiri, tetapi berhimpit dengan gerakan sosial keagamaan yang lain (NU, PERSIS, AL-Irsyad, Syiah, FPI, HTI, dll), sehingga harus saling menghormati dan toleran. Kelompok ini terbuka dengan perubahan baru, namun tetap memperhatikan tradisi puritan Muhammadiyah. Kelompok ini mendasarkan pemahamannya pada kaidah Ushul al-Fiqh “al-Mukhafadhatu ‘ala qadhimi al-ashlah wal akhdzu ala jadidi al-ashlah” (Menjaga yang lama yang baik dan mmengambil yang baru yang baik). Varian ini dapat menerima wacana Liberalisme, Sekulerisme, Pluralisme, toleransi namun tidak harus diikuti semua, apabila ada yang baik maka dapat di adopsi dengan tradisi Muhammadiyah.

Kedua, varian ideologi keberagamaan puritan.  Varian ini memahami ideologi Muhammadiyah secara tertutup (ekslusif), artinya ideologi Muhammadiyah sudah final dan terbaik kebenaranya daripada ideologi keagamaan yang lain. Ideologi Muhammadiyah adalah ideologi yang berdasarkan al-Qur’an Hadits, dan berIslam itu harus “murni” berdasarkan pedoman al-qur’an-Hadits dan hasil putusan Tarjih Muhammadiyah. Putusan Tarjih Muhammadiyah dipahami sudah sesuai dengan al-Qur’an-Hadits, tidak boleh dicampur dengan tradisi Tahayul, Bid’ah dan Khurufat (TBC). Varian ini paling fundamentalis dan konsisiten dalam mempraktekan Islam murni ala Majelis Tarjih, atau pinjam istilah Munir Mulkhan adalah Kelompok “Muhammadiyah Al-Ikhlas” atau disebut juga Muhammadiyah “Tus”.

Ketiga; varian ideologi keberagamaan Liberal. Varian ini memahami bahwa ideologi Muhammadiyah harus di dekonstruksi ulang karena, di anggap kurang relevan untuk dapat menjawab problematika kontemporer. Konsep-konsep ideologi Muhammadiyah di anggap produk masa lalu, sehingga Muhammadiyah dianggap stagnan, ketinggalan, jumud, gagap dan sebagainya. Oleh karena itu jika Muhammadiyah ingin maju “modern”, maka di perlukan dekonstruksi ulang ideologi dengan mengadopsi penuh tradisi Barat. Semisal pemikiran tentang Liberalisme, Sekulerisme, Pluralisme, HAM,  demokrasi dan sebagainya. Varian ini melakukan dekonstruksi ideologi Muhammadiyah dengan menggunakan perangkat keilmuan kontemporer, semisal filsafat, sejarah, sosiologi, antropologi, psyikologi, politik dan sebagainya.

Keempat; varian ideologi keberagamaan radikal “garis keras”. Kemunculan varian ini dilandasi pada kajian posisi Muhammadiyah dengan penegakkan Syariat Islam (Khilafah Islamiyah) di Indonesia serta wacana aktualisasi ideologi dakwah amar ma’aruf nahi mungkar  Muhammadiyah di masyarakat.

  1. Wacana penegakkan Syariat Islam Indonesia, varian ini beranggapan ideologi Muhammadiyah tidak tegas dalam memperjuangkan penegakkan Syariat Islam di Indonesia “abu-abu” tidak seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam lainya seperti Hizbut at-Tahrir (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), KISDI, Komite Penerapan Syariat Islam (KPSI) dan sebagainya.
  2. Wacana aktualisasi dakwah amar ma’ruf nahi mungkar di masyarakat, varian ini beranggapan ideologi dakwah Muhammadiyah hanya berkutat pada dakwah “amar ma’ruf” amal baik, namun tidak tegas dan jelas pada aktulaisasi dakwah “nahi mungkar” terkesan gagap dan membiarkan, tidak seperti yang di lakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) yang lebih tegas dan keras dalam dakwah “nahi mungkar”. Konstruksi pemahaman ideologi tersebut menjadikan mereka mengambil langkah dengan mengadopsi ideologi kelompok Islam radikal, bahkan terlibat juga di dalamnya. Sehingga, pola ini kemudian mempengaruhi sikap keberagamaan mereka di Muhammadiyah cenderung radikal dan keras mirip “gaya” kelompok Islam radikal yang di anggap lebih Islami dari pada Muhammadiyah.

Daftar Pustaka:

Biyanto, Pluralisme Keagamaan dalam Perdebatan ; Pandangan Kaum Muda Muhammadiyah, Malang: UMMpress, 2009.

Jainuri, Achmad Ideologi Kaum Reformis; Melacak Pandangan Keagamaan Muhammadiyah Periode Awal, Surabaya; LPAM, 2002.

Kinioch, Graham C.  Ideologi and the social Science, t.tp: Greenwoon Press, 1981.

Ma’arif, A. Syafii , Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia,  Jakarta: Mizan, 1993.

Mulkhan, Munir. Marhaenisme Muhammadiyah:Ajaran dan Pemikiran Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan, Yogyakarta: Galang Press, 2013.

PP Muhammadiyah, Model Dakwah Pencerahan Berbasis Komunitas, Yogyakarta: Gramsurya, 2015.

Syam, Nur, Islam Pesisir, Yogyakarta: LKiS, 2004.

*) Direktur Kedai Jambu Institute & Dosen FAI UMSurabaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here