Mahasiswa di Malang Rancang Alat Trash Conveyor

0
18
UMM
Pemaparan Alat Trash Conveyor oleh tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang, Senin, (1/2/2021). (Rama/PIJARNEWS.ID)

MALANG, PIJARNEWS.ID – Tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Mahdan Razaq, Sulthan Dzulfiqar Adham, dan Arief Hidayat, merancang alat penyaring sampah otomatis, Trash Conveyor.

Kepada PIJARNEWS.ID, Mahdan menuturkan, ide pembuatan alat tersebut berawal saat dirinya sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Sambigede, Malang. Mahdan melihat sungai-sungai tercemar oleh tumpukan sampah.

“Kemudian saya mengajak beberapa teman saya untuk membuat alat pembersih sampah otomatis dan mengaplikasikannya di Desa Sambigede,” ujarnya dalam forum zoom, Rabu (3/2/2021).

Sayangnya, ide Mahdan tidak bisa direalisasikan karena terhalang perizinan yang sulit. Ia kemudian mengajak beberapa teman jurusan dan mengajukannya ke Pekan Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) tahun 2020.

Mahasiswa jurusan Teknik Industri tersebut kembali menjelaskan, Trash Conveyor memanfaatkan aliran air sungai yang jatuh dari bendungan untuk memisahkan sampah dari air. Cara kerja Trash Conveyor juga cukup simpel.

“Setelah air sungai dan sampah jatuh dari bendungan, sampah akan jatuh ke Main Conveyor. Selanjutnya, sampah akan dibawa ke Secondary Conveyor. Dari sinilah sampah dibawa ke tempat pembuangan yang sudah diletakan di samping bendungan,” jelas Mahdan.

Sama seperti beberapa edisi sebelumnya yang didanai Ditjen Dikti tahun 2020, ada beberapa perubahan terkait pelaksanaan PKMT ini, salah satunya adalah hasil PKMT tidak berupa alat namun berupa video animasi dan desain produk.

BACA JUGA :  Ada Percobaan Delegitimasi Kepada Penyelenggara Pemilu, Direktur KJI: Rakyat Bersama KPU

“Tim kami sangat kesulitan untuk membuat desain dan video animasi. Akhirnya kami meminta tolong pada salah satu teman dari jurusan teknik mesin untuk membuatkan video animasi untuk PKM ini,” ungkap mahasiswa kelahiran Sulawesi Tenggara tersebut.

“Sebenarnya pemerintah telah memiliki alat pembersih sampah yang bernama Interceptor 001. Namun alat ini memiliki beberapa kelemahan seperti penggunaan alat hanya terbatas di sungai-sungai besar, pemasangannya yang rumit, dan membutuhkan banyak tenaga kerja untuk mengoperasikan alat tersebut,” imbuhnya.

Mahdan berharap, dengan hadirnya inovasi ini mampu membantu mengurangi permasalahan sampah yang ada di sungai. Selain itu semoga dapat diterapkan di berbagai daerah yang ada di Indonesia. (ram/mad)