Sriwijaya Air
Ilustrasi Pesawat Sriwijaya Air. (Ilustrasi/Shutterstock)

JAKARTA, PIJARNEWS.ID – Seiring berjalannya waktu, sejumlah fakta baru mulai terungkap pasca-insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 di Perairan Kepulauan Seribu, beberapa waktu lalu. Salah duanya: kondisi cuaca yang memburuk dan pesawat sempat berbelok ke kiri.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan kondisi cuaca pada saat kejadian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 berdasarkan observasi di Bandara Soekarno-Hatta sempat memburuk pada pukul 13.31 WIB.

“Di situ kita lihat warna kuning. Hingga menyebabkan pesawat melakukan hold boarding,” dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR di Jakarta, Rabu (3/2/2021).

Kemudian, lanjutnya, tepat pada pukul 14.36 kondisi cuaca sudah mulai membaik, sehingga pesawat oleh pengatur lalu lintas udara (ATC) diizinkan untuk tinggal landas. Namun, empat menit berselang pesawat hilang kontak.

Dwikorita mengatakan pihaknya telah memperkirakan akan terjadi hujan disertai petir antara pukul 13.00-16.00 WIB dengan tinggi awan cumulonimbus sekitar 1.800 kaki dan lebih dari 80 persen bandara akan tertutup awan pada ketinggian 1.600 kaki yang terjadi di wilayah Bandara Soekarno-Hatta.

Selain itu Direktur Utama Airnav Indonesia M. Pramintohadi Sukarno mengatakan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 sempat berbelok ke kiri sejauh 075° untuk menghindari cuaca buruk.

“Pada 14.38, SJ 182 meminta arah 075 derajat kepada ATC (Air Traffic Controller) dengan alasan cuaca, dan diizinkan untuk diinstruksikan naik ke ketinggian ke 11.000 kaki,” terangnya.

BACA JUGA :  UKM Tapak Suci STAIM Probolinggo Optimis dalam Kejuaraan Yogyakarta Championship 6 Tahun 2019

Kemudian, lanjutnya, di ketinggian 11.000 tersebut terdapat pesawat AirAsia menuju rute yang sama.

“Saat diizinkan oleh ATC diinstruksikan naik ke ketinggian 11.000 kaki, ini memang dijawab pilot clear. Karena pada ketinggian sama ada pesawat sama yang akan terbang juga ke Pontianak, yaitu AirAsia, saat ketinggian 10.600 kaki, diinstruksikan oleh ATC naik ke 13.000 kaki dan masih direspons baik oleh Sriwijaya SJ 182,” katanya.

Ia pun menjelaskan bahwa selama proses komunikasi dengan ATC sejak 14.36 WIB hingga 14.29 WIB tidak ada laporan kondisi pesawat tidak normal. “Semua berlangsung normal,” ujarnya.

Namun, pada pukul 14.39, lanjut dia, SJ 182 terpantau di layar radar ATC berbelok ke kiri arah Barat laut, seharusnya ke arah kanan 075°.

Pada 14.40, ATC melakukan konfirmasi arah, namun tidak ada respons dan target hilang dari radar. Dan semenjak itu Dishub menyatakan Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ182 hilang kontak dan diduga jatuh di perairan Kepulauan Seribu. (fzi/mad)