Pamekasan
Pengamen saat diamankan di Posko Arek Lancor Pamekasan. (Yayan/PIJARNEWS.ID)

PAMEKASAN, PIJARNEWS.ID – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Pamekasan, mengamankan sebanyak 30 pengamen jalanan selama tahun 2020.

Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Pamekasan, Hasanurrahman mengatakan, pengamen tersebut diamankan di sejumlah tempat lampu merah di Pamekasan, terhitung sejak mulai 1 Januari 2020 hingga 31 Desember 2020.

Selanjutnya, pihaknya mengatakan, sebanyak 30 pengamen diamankan ini karena melanggar Peraturan Daerah (Perda) Pamekasan Nomor 1 tahun 2017 tentang ketertiban sosial, dan Nomor 3 tahun 2019 tentang penertiban umum.

Dari tangan puluhan pengamen itu, Satpol PP juga mengamankan sejumlah alat yang dipakai untuk mengamen di lampu merah.

Dipaparkan Hasanurrahman, puluhan pengamen yang diamankan ini, biasa mengamen di lampu merah Jalan Trunojoyo, Jembatan Gurem, Jalan Stadion, dan Jalan Jokotole. Menurutnya, saat puluhan pengamen akan diamankan, selalu terjadi aksi kejar-kejaran dengan petugas. Sehingga ada sebagian pengamen yang berhasil kabur.

“Untuk mengamankan puluhan pengamen ini juga pakai strategi, dan tidak bisa langsung mengamankan begitu saja,” kata Hasannurahman, Sabtu (6/2/2021).

Pria yang akrab disapa Ainur ini juga menceritakan, saat anggotanya hendak melakukan penangkapan terhadap puluhan pengamen itu, mobil patroli yang biasa digunakan terlebih dahulu disembunyikan di tempat yang agak jauh dari lampu merah.

“Jadi kami jalan kaki saat mau menangkap, dan mobil patroli harus disembunyikan agak jauh. Karena mereka ini lebih pandai dan tahu saat kami melakukan patroli,” tambahnya.

BACA JUGA :  Ketua DPRD Kota Surabaya: Tidak Boleh Ada Siswa yang Putus Sekolah

Menurut Ainur, mereka [pengamen] sebelum memulai mengamen di sejumlah lampu merah, terlebih dahulu membagi pos. Di masing-masing pos lampu merah, biasanya diisi sekitar 3 hingga 4 pengamen.

“Biasanya siapa yang tertangkap lebih awal oleh petugas, langsung mengabari teman-temannya yang ada di lampu merah lain, dan mereka pasti langsung kabur bersembunyi,” ceritanya.

Menurut Ainur, rata-rata pengamen yang berhasil diamankan masih berusia muda. Bahkan berdasar pengakuan dari pengamen yang berhasil diamankan, mereka ada yang masih duduk di bangku SMP, SMA dan tidak sekolah.

Selanjutnya, petugas memberikan pembinaan dan membuat kesepakatan bersama, agar mereka tidak mengamen kembali di Pamekasan.

“Mereka sudah menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengamen lagi. Apabila kesepakatan ini dilanggar, maka kami akan melakukan tindak pidana,” pungkasnya. (yan/mad)