Bojonegoro
Psikiater anak dan remaja FK Unair foto bersama dengan tokoh masyarakat setempat, dan Dr. Anik Yuliarsih Kepala Dinas P3AKB Bojonegoro, Dr. Syaiful Rahmad Sekretaris Dinas P3AKB Bojonegoro usai acara pelatihan deteksi dini dan penanganan kecanduan gawai pada anak. (Rama/PIJARNEWS.ID)

BOJONEGORO, PIJARNEWS.ID – Tim Psikiater Anak dan Remaja FK Universitas Airlangga atau RSUD Dr Soetomo, menggelar pelatihan deteksi dini dan penanganan kecanduan gawai pada anak di Yayasan Pendidikan Islam Al- Tafsir, Desa Kedungbondo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Senin (8/2/2021).

Deteksi itu sangat diperlukan untuk membantu guru dalam menangani perilaku anak di sekolah, bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru, dan membantu penatalaksanaan anak dengan gangguan mental emosional akibat kecanduan gawai secara bijak dan benar.

Dr. dr. Yunias Setiawati, Ketua Tim Unit Pendidikan, Pelayanan dan Pengabdian masyarakat FK Airlangga, mengatakan, kecanduan gawai adalah masalah utama dalam gangguan emosi dan perilaku anak, sejak kecil mereka telah terpapar gawai.

“Orang tua tanpa sengaja karena keterbatasan waktu dan pemahaman tentang dampak penggunaan gawai sering memfasilitasi kondisi tersebut. Pada awalnya dengan cara perkembangan saat menyuapi anak, maka ibu sering memaparkan gadget dengan tujuan supaya anak makan dengan lahap dan menghabiskan porsi makanan,” tuturnya, dalam keterangan pers.

Saat anak berusia 3 tahun dan sering berlari-lari ketika orang tua berbelanja atau melakukan aktivitas rumah tangga, sering meminjamkan gawai dan menyetelkan film kartun dengan tujuan supaya anak tenang dan pekerjaan orang tua lancar.

“Pembiasaan kontak dengan gawai tanpa disadari dapat menyebabkan kecanduan gawai ditandai dengan anak selalu mencari gawai, marah bila tidak dipinjami gawai,malas belajar karena selalu bermain dengan gawai. Hingga penggunaan gawai yang semakin hari semakin meningkat,” paparnya.

BACA JUGA :  Komunitas Ruang Kita Ajak Pemuda Merawat Bahasa Madura

Yunias menambahkan, kegiatan tersebut juga meningkatkan kerjasama lintas sektoral di bidang kesehatan jiwa anak dan remaja sesuai dengan misi Fakultas. Yaitu pemuka dalam bidang pendidikan, pelayanan, penelitian dan pengabdian masyarakat,

“Acaranya meliputi penyuluhan deteksi dini adiksi gawai pada anak dan remaja, pelatihan pengisian kuisioner adiksi gawai dan penyuluhan penatalaksanaan adiksi gawai. Pesertanya 50 orang yang terdiri dari orang tua murid dan guru ikut berperan aktif dalam pelatihan diskusi dan tanya jawab,” ungkapnya.

Desa Kedungbondo merupakan daerah padat penduduk dengan tingkat ekonomi dan pendidikan rendah. Orang tua banyak yang bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri atau buruh pabrik. Banyak anak yang dititipkan nenek dan kakek.

Mereka membesarkan anak berdasarkan kebudayaan setempat. Tanpa disadari berkontribusi dalam kecanduan gawai, karena keterbatasan pemahaman tentang dampak penggunaan gawai tersebut.

“Melihat fakta tersebut kami memandang perlunya pengabdian masyarakat di daerah ini yang berkesinambungan. Untuk mempersiapkan tumbuh kembang anak menjadi insan mandiri, cerdas dan bermartabat sebagai generasi penerus bangsa yang berkualitas,” tandasnya. (ram/mad)