Turki
ILUSTRASI. Turki; Antara Embargo dan Kemandirian Teknologi | PIJARNEWS.ID

Siapa yang tak mengenal Amerika Serikat dan Rusia, kedua negara ini menjadi 2 penguasa kekuatan militer terkuat di bumi. Seperti yang dilansir global fire power index keduanya bercokol di 2 posisi teratas, dan seperti kita ketahui Industri pertahanan sejatinya memiliki 2 kiblat besar karena kemampuannya melahirkan beragam varian alat tempur canggih hingga dipakai hampir semua negara di dunia.

Namun, ada pesaing baru yang siap mengkudeta posisi 2 negara adidaya itu yakni Turki. Negeri itu kini menjadi buah bibir di seantero bumi berkat kelihaiannya dalam melakukan inovasi dan pengembangan teknologi,  negeri para sultan itu kembali dari tidur panjangnya.

Di era pemerintahan presiden Erdogan masifikasi pengembangan teknologi terus digaungkan pasca adanya embargo senjata dari Amerika, dan sanksi tersebut  tak membuat turki kehilangan akal dan justru kian mandiri dalam mengembangkan beberapa perangkat teknologi,  sebut saja peralatan tempur dan juga kendaraan komersil.

Teknologi Drone di Berbagai Negara

Drone kini menjadi primadona angkatan bersenjata di berbagai negara. Alat ini bersifat multifungsi  hingga mampu menjalankan misi militer dan pengintaian terhadap keberadaan musuh.

Turki sedang berupaya menjadi kiblat baru percaturan drone, setelah hanya berpusat pada negara adikuasa seperti Amerika Serikat dan Rusia. Bahkan tiongkok kini telah menerbangkan drone buatannya setelah berhasil melakukan uji terbang.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa drone jenis MQ-9 reaper menjadi  salah satu drone tercanggih di kelasnya, dan drone ini diklaim telah berhasil menjalankan misi pembunuhan terhadap jenderal yang berpengaruh dan juga pemimipin tertinggi garda revolusi Republik Islam Iran jenderal Qassem Soleimani.

MQ 9 Reaper menjadi andalan angkatan bersenjata Amerika Serikat. Drone ini mulai dioperasikan sejak tahun 2007 sekaligus diproduksi pabrik General Atomics Aeronautical System (GA-ASI) merupakan penerus dari drone sebelumnya MQ-1 Predator.

Tingkat ketahanan terbang mencapai 14 jam serta dilengkapi perangkat pendukung canggih lainnya termasuk rudal jenis AIM-9  Sidewinder dan GBU-38 Joint Direct Attack Munition (JIDAM). Dengan beragam fitur kecanggihannya tak diragukan kemampuan dan kapasitasnya dalam misi tempur hingga layak menyandang drone paling ditakuti di dunia.

Kebangkitan Teknologi Turki

Embargo yang dijatuhkan amerika kepada turki seakan menjadi cambuk bagi negara itu untuk berani mengembangkan sendiri senjata. Sehingga menghemat pengeluaran dan belanja alat persenjataan yang menguras pendapatan negara. Nyatanya turki mampu merakit dan mengembangkan drone yang diberi nama Bayraktar TB 2 menjadi sebuah pencapaian gemilang di tengah diberlakukannya embargo oleh negara lain.

Drone ini termasuk ke dalam jenis Medium Altitude Long Endurance atau MALE. dengan kemampuan menengah jarak  jauh, sistem Bayraktar Tb 2 dirancang untuk menjalankan misi intelejen dan pengintaian. Dilengkapi sistem yang terdiri dari enam kendaraan udara dengan rician dua stasiun kendali darat (GCS) tiga terminal data tanah (GDT) dua terminal video jarak jauh (RVT) serta peralatan pendukung darat.

Kualitas Drone Buatan Turki

Drone ini dioperasikan dalam operasi perang di daerah sengketa Nagorno-Karabakh. Perebutan antara 2 negara Azerbaijan dan juga Armenia, bahkan Bayraktar Tb 2 memiliki kapasitas merekam hingga terbang ke target sasaran kemudian meledakkannya. Pesawat nirawak ini juga dikerahkan oleh militer turki dalam operasi di suriah yang konon mampu menembus kendaraan lapis baja.

Dalam pertarungan ini Turki menjadi sekutu bagi Azerbaijan. Hal itu terbukti dari dioperasikannya drone Bayraktar Tb 2 oleh militer Azerbaijan untuk menandingi bahkan menghabisi lawannya.  Bahkan menurut Rob Lee peneliti militer di King’s college london yang menjadi pembeda dalam intensifikasi perang di Nagarno- Karabakh adalah penggunaan drone dengan kemampuan menjatuhkan bom.

BACA JUGA :  GAR ITB dan Lonceng Kematian Demokrasi

Seperti diketahui sebelumnya Azerbaijan hanya menggunakan amunisi. Dalam laporan lain yang berasal dari pusat studi pesawat tak berawak di Amerika Serikat, Bard College Azerbaijan memiliki 2 drone milik israel, Heron TP, 10 buah Hermes 4507, 100 buah Skystrikes, 50 buah Harops. Fakta lain menyebutkan Israel dan juga Azerbaijan sedang mengembangkan drone pengintai Aerostar serta Kamikaze Orbiter 1K dan Orbiter- 3 hingga drone jarak jauh jenis Hermes.

Pertempuran Antar Drone di Nagarno-Karabakh

Hal ini menegaskan bahwa pertarungan di Nagarno-Karabakh menjadi duel antar drone, serta drone berfungsi sebagai pemukul mundur hingga media penghancuran objek dan sasaran hingga rata dengan tanah. Azerbaijan begitu berambisi untuk memenangkan pertempuran melawan armenia dengan mengerahkan beragam jenis drone termasuk meminta bantuan turki berupa pengerahan drone canggih Bayraktar Tb 2 dengan beragam kelebihan dan prestasinya di medan perang.

Lalu bagaimana dengan Armenia apakah juga menggunakan drone sebagai sarana untuk meladeni kekuatan Azerbaijan ? dilansir BBC  Andrei Frolov seorang pakar dari Rusia menyatakan sejauh ini armenia tidak memiliki pesawat nirawak. Namun katanya armenia juga mengembangkan drone bernama Krunk akan tetapi jumlah yang dioperasikan tidak diketahui.

Sejauh ini armenia hanya menggunakan peluncur rudal buatan Uni Soviet yakni Osa dan Strela untuk menembak jatuh drone azerbaijan. Bukan menjadi hal yang mustahil bagi armenia untuk memenangkan pertarungan meski tanpa drone sekalipun. Cara yang dapat ditempuh yaitu dengan mengaktifkan semua peluncur rudal yang diletakkan di tempat strategis dan tidak terdeteksi musuh ditopang dengan rudal canggih tentunya.

Embargo Senjata Turki

Namun, kebutuhan akan sebuah drone dan nengembangkannya mutlak diperlukan seperti halnya yang dilakukan turki pasca embargo. Kemampuan Bayraktar telah diakui oleh beberapa negara barat hingga mampu menarik minat negara lain untuk bekerja sama dalam pengembangan drone atau merekrutnya demi kebutuhan militer dalam negeri serta memperkuat armada tempur negara tersebut.

Menurut sumber Airspace Review.com menyebutkan bahwa Ukraina menyatakan minatnya untuk memboyong Bayraktar Tb 2 keinginan tersebut diutarakan langsung komandan Angkatan Laut Ukraina Olezkiy Neizhpapa,  menurut rencana Bayraktar Tactical Block 2 akan digunakan AL Ukraina dalam operasi laut maupun darat.

Embargo senjata tak menutup peluang bagi Turki dalam melakukan riset dan inovasi pengembangan terhadap drone. Hingga kini negeri Sultan Ahmed itu menjelma menjadi kompetitor bagi negara kuat seperti Amerika Serikat dan Rusia hingga mampu melakukan ekspansi produk militer ke negara barat.

Kejayaan Turki dan Siap Bersaing

Supremasi turki kian melejit tatkala drone buatannya digunakan dalam operasi tempur dan sukses melumpuhkan musuh.  Mungkin kini turki setara dengan Amerika dan juga Rusia yang berhasil melakukan rekayasa produk militer seperti yang dilakukan Boeing dan Lockheed Martin yang berhasil memproduksi kendaraan tempur kelas wahid.

Bukan tidak mungkin di masa mendatang turki akan menggeser posisi Amerika dan Rusia sebagai negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia,  hal ini diperkuat keseriusan turki dalam melakukan pengembangan hingga mampu mendatangkan pemasukan yang begitu besar bagi negara itu sendiri.

Serta tidak menutup kemungkinan juga bagi negara lain untuk mengikuti jejak turki hingga dapat mengubah status dari konsumen peralatan tempur menjadi produsen peralatan tempur yang memiliki reputasi dan bermutu tinggi.

EDITOR: Amanat Solikah

BACA: Pembaca PIJARNEWS.ID Menulis