Kamas Setiyoadi
Kamas Setiyoadi foto bersama dengan teman satu angkatan pendidikan militer. (Rama/PIJARNEWS.ID)

MOJOKERTO, PIJARNEWS.ID – Kamas Setiyoadi, putra daerah yang lahir di jalan raya Brangkal Nomor 1, desa Kedungmaling, kecamatan Sooko, kabupaten Mojokerto, 28 September 1926. Kamas Setiyoadi lahir dan tumbuh di lingkungan masyarakat biasa.

Ketika menemui rumahnya di alamat tersebut, suasana historis begitu terasa saat memasuki ruang tamu. Meskipun, beberapa atap rumah, lapuk termakan usia. Tak lupa, beberapa foto Kamas Setiyoadi, dengan seragam lengkap tentara tempo dulu, tertancap di ruang tamu dan ruang makan

Salah satu anak Kamas Setiyoadi, Sri Astuti datang dan berjalan membawa beberapa arsip tentang almarhum ayahnya.

Seperti album foto, daftar riwayat hidup, pas foto, dan beberapa sertifikat lama keputusan menteri panglima angkatan darat tahun 1969 yang ditunjukan di depan rekan media. Dokumen dokumen tersebut terlihat menguning karena dimakan usia.

Beberapa sampul dan foto Kamas Setiyoadi, luntur dan sobek ketika dibuka oleh Sri Astuti. Teksturnya yang semakin tipis akibat dimakan rayap, membuat album tersebut tambah rusak.

Meski beberapa foto ada yang hilang, di dalam album itu menampilkan perjalanan Kamas Setiyoadi selama menempuh pendidikan militer. Serta, foto bersama teman dan keluarganya tak lupa ditampilkan dengan tambahan tulisan tangan dari Kamas yang rapi dan tak mengalami luntur apapun.

Sri Astuti menceritakan, Ayahnya merupakan sosok yang keras dan disiplin ketika sedang berada di rumah. Sehingga, sosok almarhum ditakuti bagi anak anaknya.

BACA JUGA :  Blangko E-KTP Tersedia, Pemohon Membludak

“Perjuangan bapak untuk memperebutkan kemerdekaan sangat kuat sekali. Bapak berani mati dalam mengorbankan nyawa, sampai bapak tidak pulang ke rumah,” kenang Sri Astuti, Minggu (14/2/2021)

Sri Astuti menambahkan, selama memperjuangkan kemerdekaan, almarhum ayahnya berperan sebagai pemimpin dalam laskar kucing hitam di Mojokerto. Melalui laskar tersebut, almarhum ayahnya, berperang secara gerilya dan masuk mengambil senjata tentara belanda dari markas ke markas.

Kamas Setiyoadi
Kamas Setiyoadi, Pahlawan Kemerdekaan Asal Mojokerto. (Rama/PIJARNEWS.ID)

Bahkan, lanjut Sri Astuti, selama melakukan perlawanan, almarhum ayahnya memiliki kemampuan kesaktian yang membuat tentara belanda lari terbirit birit

“Setelah kemerdekaan, bapak menikah pada tahun 50 an, bapak kemudian pensiun dan bekerja mengurus perkebunan jeruk di Trowulan dan pembangunan infrastruktur,” imbuh Sri Astuti.

“Bapak mendapatkan penghargaan dari pemerintah berupa lencana. Tapi lencananya masih dicari. Bapak wafat tahun 1980, waktu itu hendak dimakamkan di makam pahlawan, tapi bapak menolak karena inginnya dimakamkan dekat dengan orang tuanya di pemakaman umum,” ungkapnya. (ram/mad)