Agus Wahyu Cahyono
Agus Wahyu Cahyono membersihkan bongkahan batu di wilayah Sarirejo, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Minggu (14/2/2021). (Rama/PIJARNEWS.ID)

MOJOKERTO, PIJARNEWS.ID – Berbekal Handy Talkie dan Helm Rescue, Agus Wahyu Cahyono (39), berjalan diantara sampah yang berserakan di wilayah Sarirejo, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Minggu (14/2/2021). Dengan menggunakan alat seadanya seperti ember kecil dan sapu, Wahyu dengan sigap memunguti sampah kering tanpa mengenakan sarung tangan.

Terik matahari yang menyengat tidak menyurutkan niat Agus Wahyu Cahyono, membantu masyarakat setempat dan sejumlah anggota relawan Informasi Seputar Mojosari (ISM), mengangkat sejumlah kantong plastik sampah untuk dimasukkan ke dalam gerobak sampah.

Tanpa ada waktu untuk bersantai, Agus kemudian membersihkan gragal yang mengganggu laju kendaraan roda dua di pinggir jalan tersebut. Satu persatu bongkahan batu yang besar diangkat ke dalam truk pick up. Keringat yang bercucuran serta nafas yang ngos ngosan membuat pria dua anak tersebut beristirahat.

Agus mengaku, tertarik menjadi relawan dengan bergabung bersama relawan Semangat Masyarakat Relawan (Semar) tahun 2012.

Pada bulan Agustus 2015, Agus memutuskan keluar dari relawan Semar dan mendirikan relawan Info Seputar Mojosari (ISM). Bagi Agus, Relawan adalah hobi yang tidak bisa ditinggalkan.

“Kalau sudah jadi hobi, apapun pasti dilakukan. Pasti ada yang dikorbankan. Karena sudah jatuh cinta dengan hobinya,” ungkapnya.

Sejak tahun 2012 hingga sekarang, Agus bersama sejumlah anggota ISM telah menangani berbagai bencana dan musibah. Seperti banjir,kecelakaan, angin topan, pohon yang tumbang, kebakaran dan lain lain.

Agus mengatakan, untuk menjadi anggota ISM Community minimal berusia 17 tahun. Dengan bermodalkan tenaga kepada korban bencana alam

“Saat ini anggota ISM 280 dari semua unsur. Mulai Aparatur Sipil Negara, TNI, Polri, Pelajar, Guru dan Mahasiswa. ISM punya laman di Facebook dengan nama ISM ‘info seputar mojosari’. Anggota di FB sekitar 200.000,” paparnya.

BACA JUGA :  BlackBerry Siap Hadir Kembali dan Akan Rilis Smartphone 5G

Selain memiliki kesibukan sebagai relawan, Agus merupakan seorang guru di Sekolah Dasar Negeri Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, sejak tahun 2010. Agus mulai meniti karirnya sebagai guru di SDN Purworejo pada tahun 2002. Agus mengungkapkan, menjadi guru bukanlah cita citanya waktu kecil.

Menurut Agus, Dunia relawan dengan dunia guru tidak jauh berbeda sama sekali. Dalam setiap kesempatannya di SDN Bangun, Agus selalu memberikan motivasi gotong royong, dan meningkatkan jiwa nasionalisme saling peduli terhadap sesama kepada anak didiknya.

“Dengan pengalaman itu memacu motivasi untuk kepedulian sesama.Bahwasannya, warga terkena musibah betul betul mengharapkan bantuan dari orang lain. Serta, menumbuhkan rasa nasionalisme kepada anak jadi rasa kepedulian terhadap sesama dan kebersamaan,” ungkapnya.

Guna melancarkan aktivitasnya di ISM, Agus menggunakan dana pribadinya seperti Gaji dan tunjangan pemerintah. Agus juga dibantu istrinya, Pratiwi (35) untuk menambah kas di organisasi tersebut.

“Saya menginginkan organisasi ini mandiri. Tanpa bergantung dengan orang lain. Kalau kami bisa kenapa harus berharap ke orang lain,” tegasnya.

Anggota ISM telah terjun dalam berbagai peristiwa. Mulai dari bencana gempa bumi di Lombok, tsunami di Palu dan gempa bumi di Banten. Dengan memberikan bantuan logistik seperti pakaian layak pakai, makanan dan minuman. Agus juga mengirim beberapa tenaga ISM untuk ditempatkan di lokasi bencana.

“Kegiatan ISM yang paling berkenang adalah mengirim persediaan logistik kepada Yonif Para Raider 503 yang berangkat menjalankan misi perdamaian PBB di Kongo, 6 November 2019,” ungkapnya

Agus juga mengaku, kegiatan mengajarnya tidak terganggu dengan kegiatannya sebagai relawan di ISM Community.

“Kalau ada peristiwa saya pentingkan kegiatan mengajar. Tapi saya berusaha menelpon telepon ambulance, anggota ISM atau tenaga medis untuk terjun ke lokasi,” pungkasnya. (ram/mad)