Umkm
Ilustrasi toko kelontong. (Foto/Sabar)

EKONOMI, PIJARNEWS.ID – Di tengah tantangan ekonomi yang kian sengit di masa pandemi Covid-19, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia berpeluang untuk rebound. Di antara berbagai peluang baru, setidaknya ada lima yang berpotensi terus mendatangkan cuan saat krisis.

Lima opsi usaha tersebut di antaranya berjualan masker kain, makanan siap santap, les privat, makanan beku, dan kopi literan. Perigalt masker kain, rasanya kita semua mengerti mengapa barang ini sekarang begitu laris manis. Alat pelindung diri seperti masker menjadi barang penting selama masa pandemi.

Kalau makanan siap santap dan makanan beku laris lantaran banyak orang mengurangi wisata kuliner di luar rumah. Sementara itu, soal les privat yang naik daun, terpengaruh penerapan pembelajaran jarak jauh yang membikin orang tua repot hanya untuk menemani anak belajar di rumah.

Lain halnya dengan kopi literan. Momen ngopi bersama kawan dan kerabat sekarang menjadi jauh lebih terbatas mengingat seluruh masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan. Guna menyiasati hasrat ngopi enak, kedai kopi banyak menyediakan menu kopi literan yang bisa dipesan secara daring.

Semangat UMKM untuk kembali bergeliat pada tahun ini menjadi penting. Berdasarkan survei LPEM UI dan UNDP pada 2020 diketahui, lebih dari 88 persen UMKM mengalami penurunan margin keuntungan selama pandemi hingga Agustus 2020.

LPEM UI mencatat, beberapa hal yang dapat mendukung pemulihan UMKM pada 2021 misalnya intervensi pemerintah dalam hal kesehatan dan fiskal.

BACA JUGA :  Meski di Tengah Pandemi, Investasi di Surabaya Tembus Rp 64 Triliun

Ekonom Universitas Indonesia dan Direktur Eksekutif Next Policy, Fithra Faisal mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan akan memulih ke angka 4-6% pada tahun 2021.

“Intervensi kesehatan seperti vaksinasi akan mempercepat pemulihan konsumsi serta mengembalikan potensi investasi yang lebih luas. Lalu, intervensi fiskal dengan menambah stimulus hingga dua kali lipat di tahun 2021 akan menggairahkan sektor UMKM” kata Fithra dalam keterangan tertulisnya, akhir pekan ini.

Lebih spesifik lagi, ia menyoroti sebagian UMKM yang berhasil bertahan karena mengandalkan ICT(information, communication, and technology). Adopsi teknologi ini bisa jadi focal point untuk mendongkrak transaksi bahkan hingga ratusan persen. Banyaknya pelaku UMKM Indonesia yang sigap mengadopsi teknologi untuk bertahan juga dikonfirmasi oleh CEO Qasir Michael Williem.

Michael menyatakan, perusahaan melihat langsung beberapa pelaku UMKM yang harus berjuang untuk mempertahankan usaha, melakukan perubahan bisnis, bahkan harus sampai gulung tikar.

Sebagai perusahaan penyedia platform POS untuk usahawan nano dan mikro, Qasir mendapati mitra-mitra usahawan yang bertahan adalah mereka yang sigap melakukan adaptasi, baik itu adaptasi atas penerapan protokol kesehatan, juga adaptasi teknologi.

“Tidak dapat dimungkiri, transformasi digital membuat UMKM menjadi lebih berdaya saing. Misalnya, ketika pelaku bisnis UMKM menjalin kemitraan dengan layanan pengiriman online, kolaborasi dengan platform e-commerce dalam menjalankan promo, program bundling, dan strategi lain yang tujuannya membuat produk berputar terus,“ ujar Michael. (fzi/mad)