Foto: Ahmad Ghofur saat proses 'menjiplak' gambar di tirai bambu dengan Proyektor LCD. (andirafi-pijarnews.id).

Bondowoso – Menghadapi revolusi industri 4.0, para pelaku usaha juga harus mampu memanfataan teknologi digital untuk menghasilkan produk yang berdaya saing global. Hal inilah yang dilakukan oleh Ahmad Ghofur, pengusaha tirai bambu asal Desa Sumber Dumpyong, Kecamatan Pakem Bondowoso. Agar usaha tirai bambunya tidak ditelan zaman, pria kelahiran Kediri ini melakukan inovasi yang cukup menarik pada produk tirai bambunya.

Jika kebanyakan tirai bambu dengan tampilan biasa saja, namun tidak dengan produk tirai bambu Ahmad Ghofur ini. Ia melayani pesanan tirai bambu dengan berbagai motif atau gambar yang diinginkan para konsumen. Menariknya, Ghofur dalam menggampar pada tirainya ini menggunakan atmosfer pencahayaan yang dihasilkan oleh Proyektor Liquid Crystal Display (LCD). Sehingga gambar apapun bisa dibuat dengan mudah dan cepat.

Untuk membuat gambar, mulanya tirai bambu yang sudah siap untuk digambar, digantungkan pada dinding rumah, kemudian gambar pencahayaan dari proyektor LCD diarahkan ke bidang tirai bambu (krei) yang akan digambar. Secara perlahan Ghofur membuat sketsa yang nantinya akan diwarnai, proses ini dikatakan oleh Ghofur sebagai proses penjiplakan. Begitulah penjelasannya saat reporter PIJARNews.ID mewancarai di kediamannya, Rabu (02/10/2019).

“Setelah pembuatan krei selesai, selanjutnya proses penjiplakan. Saya gunakan proyektor agar lebih mudah untuk membuat sketsa,” terang Ghofur.

Awal ide muncul, mulanya Ghofur menggambar dengan cara manual tanpa bantuan alat modern, namun hasilnya kurang memuaskan, disitulah ia berfikir untuk mengunakan bantuan alat modern, akhirnya ia menemukan pencahayaan proyektor LCD sebagai alat penjiplak. Berkat inovasinya ini, tirai bambu buatan Ghofur cukup diminati oleh pasar, tentu dengan harga jual yang lebih mahal dari pada tirai bambu yang tanpa motif atau polosan.

BACA JUGA :  Sedekah Centelan Sayur di Tengah Pandemi

“Untuk yang motif tentu lebih mahal, harganya tergantung tingkat kesulitan proses gambar, biasanya selisi harga dengan yang polosan bisa dari 100 ribu hingga 200 ribu. Untuk ukuran kecil polos hanya 60 ribu kalau motif bisa 150 ribu,” ungkap Ghofur.

Untuk memperluas pasaran produknya, Ghofur juga tidak luput memanfaatkan internet, sehingga tirai bambunya bisa ditawarkan ke seluruh daerah menggunakan media sosial seperti Facebook maupun Instagram.

“Selain sudah dipesan oleh kota-kota tetangga, Alhamdulillah juga pernah dikirim ke Brebes, Kediri, Jombang hingga Surabaya,” pungkas Ghofur.

Dengan memanfaatkan tekhnologi baik pada proses  maupun strategi pemasaran, Ghofur tetap berharap karyanya ini mampu dikanal dan terjual hingga ke luar daerah yang lebih luas.

Reporter: Andi Rafi

Editor: Milada RA

1 KOMENTAR

  1. Implementasi yang luar biasa ini,.masa pandemi sekarang ini memaksa kita untuk terus berpacu dengan waktu agar bisa bertahan hidup di dunia serba digital,.tetap semangat Kakak,.terimakasih,.perkenalkan saya Riswanto Mahasiswa dari ISB Atma Luhur

Comments are closed.