PLTS

SEMARANG, PIJARNEWS.ID – Realisasi target bauran energi baru terbarukan atau EBT di Jawa Tengah mencapai 11,89% pada 2020. Targetnya adalah 21,32% pada 2025 dan 28,82% pada 2050.

Guna mencapai angka-angka tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah gencar mendorong pemanfaatan energi bersih. Salah satunya dengan memasang pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS Atap di kantor pemerintah daerah dan sektor industri.

Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Jateng Prasetyo Ari Wibowo mengatakan upaya itu pun untuk mengantisipasi permintaan energi yang naik, sementara energi fosil terus berkurang.

“Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan PLTS Atap,” ujarnya dalam Central Java Solar Day 2021, Selasa (16/2/2021).

Potensi energi surya di provinsi tersebut mencapai 4,05 kilowatt hour (kWh). Kapasitas pembangkit matahari yang terpasang saat ini mencapai 5,6 megawatt (MW) di berbagai sektor, seperti industri, pondok pesantren, pelelangan ikan, dan rumah tangga.

Sebagian besar pemasangan PLTS Atap tersebut memakai anggaran pendapatan dan belanja negara daerah atau APBD. Pada 2017 kapasitas yang terpasang mencapai 35 kilowatt-peak (kWp). Di tahun berikutnya dan 2019 masing-masing mencapai 30 kilowatt-peak.

“Kegiatan instalasi di 2020 (tertunda) karena pandemi, anggarannya dialihkan,” ucap Prasetyo.

Pemanfaatan energi surya tahun ini, menurut dia, sangat relevan dengan transisi menuju energi bersih. Apalagi Pemprov Jateng telah menandatangani komitmen pengurangan emisi karbon dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

BACA JUGA :  Momen Hari-Hari Penting di Februari, UPH dan Lion Air Group Gelar Program Sosial di 8 Kota

Selain matahari, potensi energi terbarukan lainnya di provinsi itu adalah panas bumi, hidro, biofuel, biomassa, dan biogas. Pemprov juga sedang mendorong kendaraan listrik berbasis baterai dan sumber energi lainnya pengganti elpiji.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan butuh pemerataan informasi mengenai teknologi, harga, dan EPC (kontraktor) untuk mendorong pemanfaatan PLTS Atap.

Lalu perlu pula fasilitas purna jual pembangkit untuk menjamin keberlanjutan sistem. “Ini menjadi penting bagaimana menciptakan dukungan layanan after sales,” katanya.

Skema pembiayaan yang menarik juga akan meningkatkan pemasangan pembangkit tersebut.

“Mungkin dapat dipikirkan bangunan komersial gedung dan hotel kalau memasang PLTS Atap selama lima tahun dapat diskon pajak bumi dan bangunan, misalnya,” tandasnya. (fzi/mad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here