Jembatan
Kondisi jembatan apung kayu yang menghubungkan dua daerah di kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Sidoarjo, Kamis siang (18/2/2021). (Rama/PIJARNEWS.ID)

MOJOKERTO, PIJARNEWS.ID – Ribuan warga kecamatan desa Candiharjo, kecamatan Ngoro, kabupaten Mojokerto, selalu melewati Jembatan apung kayu yang menghubungkan beberapa desa di kabupaten Mojokerto dan Sidoarjo.

Panjang jembatan yang mencapai 200 meter, sebagian besar menggunakan kayu mahoni. Selain itu, di bawahnya terdapat 200 drum berwarna biru untuk menopang jembatan menjadi lebih kuat menahan derasnya arus sungai kali Porong.

Anton (42), warga desa Tambakrejo, kecamatan Krembung, kabupaten Sidoarjo, merasa bermanfaat dengan adanya jembatan dalam keperluan mengantar sembako ke daerah Sidoarjo dan Mojokerto.

“Sering lewat sini mas, rasanya enak daripada lewat Jasem. Terlalu jauh kalau ambil rute memutar, bisa sampai 10 kilometer. Kalau lewat jembatan rutenya cuma 1 kilometer,” ungkapnya Kamis siang (18/2/2019).

Pria yang berprofesi sebagai pengusaha toko sembako tersebut, berharap, pemerintah bisa mengembangkan jembatan apung tersebut menjadi lebih baik lagi.

Soleh (44), warga desa Tambakrejo, kecamatan Krembung, kabupaten Sidoarjo, menuturkan, sebelum adanya jembatan apung kayu, warga menggunakan perahu kayu untuk menyebrang ke tempat tujuannya.

“Jembatan apung kayu dibangun pada 5 tahun yang lalu ini menghubungkan antar desa. Bisa ke Ngoro, Kosek, Japanan, Glatik,” katanya Minggu.

Soleh juga menjelaskan, konstruksi jembatan tersebut menggunakan papan kayu bergerai yang ditancapkan dengan paku.

“Kalau tambang pada jembatan apung, menggunakan tali seling sama tali tampar. Supaya jembatan kuat dalam menahan arus kali Porong yang kuat,” jelasnya.

BACA JUGA :  Mahasiswa di Malang Rancang Alat Trash Conveyor

Jembatan tersebut, lanjut Soleh, telah mengalami kerusakan sebanyak dua kali lantaran tidak kuat menahan aliran arus kali Porong yang kuat.

“Jembatan ini dibangun oleh warga dari Brebes, Jawa Tengah, yang memiliki usaha di bidang pembangunan. Dengan bantuan tenaga masyarakat sekitar,” ucapnya.

“Harapannya jembatan apung bisa dikembangkan secara permanen. Karena banyak warga yang lewat di jembatan ini. Baik anak sekolah maupun masyarakat awam,” sambungnya.

Masyarakat dikenakan biaya 4000 Rupiah sebagai tiket masuk melintasi jembatan tersebut. Jembatan Apung Kayu merupakan jalur alternatif yang dibuka 24 jam. (ram/mad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here