Demo Stat
Usai pelatihan Big Data Framework. (Dok. Istimewa)

SURABAYA, PIJARNEWS.ID – Menyadari pentingnya penguasaan data di era disrupsi teknologi, maka Demos Stat Indonesia (DSI) mengadakan pelatihan Big Data Framework pada Kamis, (18/2/2021) pukul 15.00-17.30 WIB.

Diklat ini bertempat di Graha Geo Mosaic Indonesia (GMI) Jl. Ngagel Tama No. 2, Gubeng, Kota Surabaya.

Peserta sebanyak 10 orang dari beragam latar belakang, yaitu 3 dari internal DSI, 3 orang dari PIJARNEWS.ID, 2 orang dari GMI, 1 orang dari Kedai Jambu Institute, dan 1 orang dari Padi Foundation. Trainer adalah L.Tri Wijaya N. Kusuma, Ph.D, dosen Teknik Industri Universitas Brawijaya Malang, serta direktur Center for Indonesia Business Analytic Studies (CIBAS).

Dr Tri memulai materi tentang design and system thinking. Ia meminta peserta untuk menyebut dan menuliskan dalam kertas post it komponen apa saja yang masuk dalam big data. Peserta menuliskan aspek big data antara lain pengguna (user) berupa jenis kelamin (gender), umur (age), pendidikan (education), pendapatan (income), keinginan (wants), pengeluaran (expenditure) daftar belanja (shop), perjalanan (travel), dan lain-lain.

Pemaparan selanjutnya adalah tentang hubungan antara provider big data, user, industri dan pembeli dalam penelusuran data preferensi individu di jagad maya. Untuk memberi bukti pada peserta doktor lulusan Taiwan ini mensimulasi salah satu kata kunci (keywords) dengan alat sederhana di internet guna mencek tingkat traffic-nya selama 1 bulan terakhir.

“Dari alat ini kita bisa lihat, siapa (who) yang paling sering membahas, apakah nada (tone) nya positif, negatif atau netral. Pada tanggal berapa (when) saja isu tersebut ramai dibahas. Kita juga bisa melihat siapa influencer-nya, isu apa yang menyertainya, dan data lainnya. Intinya dengan alat sederhana ini, kita bisa tahu sebaran nilai penting sebuah isu atau seseorang,” terangnya.

BACA JUGA :  Badan Ketahanan Pangan RI Bersama Satgas Pangan Jatim Sidak Produsen Tempe di Surabaya

Sesi diskusi berlangsung penuh dengan pernyataan kritis seperti etika kerahasiaan data user, luasnya sektor yang bisa dimasuki di big data, kemungkinan tindakan hacking, serta para pemain besar dalam big data.

Dosen yang sejak awal 2020 sibuk dengan undangan rutin klien tersebut menutup materi dengan beberapa pesan penting.

“Saran saya, jangan pernah pakai satu email yang sama untuk banyak aplikasi. Jangan sepelekan medsos. Bijaklah memposting apapun. Ada satu institusi yang bagian SDM-nya menggunakan akun medsos pelamar sebagai dasar penerimaan karyawan,” tuturya.

Saat pelatihan Big Data Framework. (Dok. Istimewa/PIJARNEWS.ID)

Mayoritas peserta mengaku mendapat insight baru dari materi big data.

“Saya semakin sadar pentingnya data di internet. Saya akan gunakan tidak hanya untuk penelitian, tapi juga pendekatan pada calon customer,” ungkap Fahrizal, mahasiswa pascasarjana yang juga marketing di salah satu industri makanan dan minuman di Surabaya.

“Diklat ini memberi strategi untuk memperluas coverage dan rating media online kami,” turur Riki perwakilan dari PIJARNEWS.ID.

Diklat ditutup oleh Direktur DSI Fatlur Rhozi. Ia menginfokan bahwa DSI akan terus menyelenggarakan training seputar skill statistik, penulisan, serta analisis data demokrasi dan kemasyarakatan. (mkf/fzi)

Kontributor: Makruf

Editor: R. Fauzi Fuadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here