Foto: Peta SNA, menampilkan jaringan akun yang saling terhubung, terlihat ada 5 akun yang paling influensial dengan node yang paling besar. Sumber: @ismailfahmi

Oleh: Rusydan Fauzi Fuadi*

PIJARNews.ID – Dakwah bit-tadwin atau dakwah melaui tulisan juga merupakan bentuk amar ma’ruf nahi mungkar, dakwah jenis ini juga digandrungi oleh banyak orang, tanpa terkecuali pelajar atau mahasiswa yang ingin menuangkan ide, gagasan, atau kreatifitasnya dalam bentuk tulisan yang harapannya dapat membangkitkan dan memelihara nalar sehat, juga dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat dan yang paling penting agar hoaks tidak lagi dapat mudah menyebar dan ditelan mentah-mentah oleh masyarakat, hingga ujung-ujungnya dapat menimbulkan perpecahan serta menimbulkan fitnah.

Dewasa ini banyak sekali hoaks yang salah satunya disebarkan oleh buzzer yang tak menyematkan nama, atau dapat kita sebut akun anonim. Orang yang sembunyi dibalik akun tersebut menjalankan aksinya dengan sangat cermat, terstruktur dan penuh perhitungan. Hal ini dapat ditandai dengan tersebarnya propaganda yang diproduksi dan pendistribusian pesan yang sangat rapi serta banyaknya followers yang mengikutinya.

Oleh karenanya, banyak orang yang memililih untuk mem-follow akun yang sesuai dengan pola pikirnya dan menutup diri pada sumber lain yang mereka tidak suka atau bersebrangan dengannya. Maka situasi inilah yang dimanfaatkan buzzer untuk mengendalikan followersnya. Lalu memanfaatkannya untuk menggandakan atau menyebarkan pesan lebih luas lagi dengan cara me-retweet pesan si buzzer, agar tujuan si buzzer dapat tercapai.

Kegiatan buzzing tidak terlepas dari dua aspek, yakni pesan yang ingin disampaikan dan cara agar pesan itu tersebar seluas-luasnya. Pada umumya mereka berkelompok, ada perekrut serta koordinator yang membawahi buzzer-buzzer dibawahnya. Dari lingkaran itulah mereka mendesain materi untuk kemudian disebar di internal kelompok mereka, lalu secara serempak disebar ke media sosial.

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana cara amplifikasi (penyeberluasan) pesan ke media sosial?, dalam hal ini mereka punya tiga cara: 1) Menggunakan bot, 2). Memakai  fake account, 3). Menggandalkan followers yang diminta dan/atau tanpa diminta me-retweet atau like postingan si buzzer.

Perihal memiliki banyak akun, yang jelas mereka memiliki trik untuk ‘menggandakan diri’ di media sosial, jumlahnya bisa puluhan hingga ratusan akun tanpa menggunakan bot. Tujuan mereka juga beragam, tergantung dari permintaan (pemodal). Mereka dapat berpindah-pindah pelanggan, tergantung siapa yang akan membayarnya, juga sangat mungkin menggunakan cara-cara kotor, termasuk menyebar berita bohong (hoaks) semata-mata untuk kepentingan si pemesan.

Karena masifnya penyebaran pesan di media sosial, maka tidak menutup kemungkinan, followers mereka akan mengamini apapun narasi si buzzer. Maka akan ada orang-orang yang sangat bias dalam menangkap suatu persoalan, karena seringnya terpapar informasi yang tidak sesuai dengan pemikiran atau harapan mereka. Situasi ini juga dapat membuat daya kritis masyarakat menjadi berkurang, karena sudah larut dalam cengkraman para buzzer tersebut.

Beberapa hari terakhir ini, kita ditunjukkan bagaimana hoaks yang disebarkan oleh beberapa akun yang diduga sebagai akun buzzer telah terbongkar. Pertama adalah hoaks ambulans yang mengangkut batu untuk keperluan demonstrasi. Saat ini telah ada analisis ‘Drone Emprit (DE)’, yaitu sebuah sistem yang berfungsi untuk memonitor serta menganalisa media sosial dan platform online berbasis big data. Sehingga kita bisa mengetahui bagaimana sebuah hoaks itu berasal, menyebar, siapa influencers pertama dan siapa kelompoknya, seperti yang telah kita lihat di peta SNA (gambar), maka dapat kita ketahui lebih lanjut pesan apa yang dibawa, berapa jumlah followersnya dan berapa jumlah retweet pada satu akunnya.

Untuk membuat pesan cepat viral, buzzer memention seluruh teman top influencers yang mereka punya. Pada kasus hoaks ambulans, kita bertanya-tanya, siapa yang merekam video itu? dia berteriak-teriak denga menyebut “ambulans penyuplai batu”, berkali-kali tanpa ada satu orang pun dari para dokter yang membantahnya. Lalu bagaimana buzzer mendapat video itu?, kenalkah dengan pengambil video itu?.

Selanjutnya dengan hoaks kedua, yaitu tentang grup WA anak STM, mungkin kita sudah faham tentang hoaks satu ini, kasusnya ini bermula dari Screenshot WhatsApp Group (WAG) anak STM yang disebar oleh akun twitter @OneMurtadha dan menjadi viral. Pada Screenshot tersebut terdapat beberapa nomor anggota group yang cukup janggal dan menimbulkan pertanyaan, siapakah sebenarnya pemilik atau orang dibalik nomor-nomor yang ada di WAG STM itu?. Mengapa ada banyak sekali yang menggunakan nomor telkomsel dan beberapa nomor luar negeri?. Secara naluriah, anak STM kebanyakan tidak akan pernah berani memakai nomor Telkomsel yang lumayan menguras dompet.

BACA JUGA :  COVID-19 dan Sekarat Sosial

Namun setelah nomor-nomor tersebut ditelusuri oleh netizen dan para jurnalis, mereka punya ide brilian untuk mengungkap kejanggalan ini, mulai dari mengandalkan Website truecaller.com, aplikasi get contact, mencari akun LINE berbasis nomor HP, hingga menghubungi nomor-nomor tersebut. Alhasil, nomor-nomor itu ternyata bukan milik anak STM, melainkan justru milik beberapa anggota polisi.

Baiklah, dari sini saja kita bisa mengetahui bagaimana hoaks itu diproduksi, disebarkan, lalu dapat mempengaruhi siapa saja yang menerima pesan itu, tanpa adanya proses klarifikasi atau filter terlebih dahulu.

Padahal dalam UU ITE No. 19 Tahun 2016 (merevisi UU ITE No. 11 Tahun 2008) Pasal 45A berisikan tentang hukuman bagi orang yang dengan sengaja menyebarkan berita bohong, menimbulkan rasa kebencian dan isu SARA, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat 2 akan dikenakan denda dan pidana kurungan penjara. Tapi sayangnya, peraturan itu tidak juga ampuh untuk menangkal hoaks dan konten negatif yang berkembang di masyarakat melalui internet atau media sosial.

Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2017, pengguna internet Indonesia telah mencapai 143,26 Juta jiwa. Angka tersebut tidak bisa diremehkan, mengingat jumlah tersebut 54,6% dari total populasi penduduk Indonesia yang mencapai 262 juta jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa antusiasme Netizen Indonesia sebagai pengguna internet sangatlah besar. Situasi ini dikarenakan media sosial merupakan sumber informasi yang instan, mudah sekaligus cepat.

Akan tetapi sayangnya, mayoritas masyarakat Indonesia masih cenderung menerima mentah-mentah informasi yang diterimanya tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Hal ini diperkuat dengan hasil survei yang dilakukan oleh Center of International Governance Innovation (CIGI) dan Ipsos tahun 2016, sebanyak 56% dari pengguna internet di Indonesia percaya dengan kebenaran informasi di dunia maya, tanpa di check and recheck terlebih dahulu, hingga dalam hitungan detik, informasi itu tersebar. Maka kebiasaan buruk inilah yang dimanfaatkan oleh oknum-oknum sebagai celah untuk menyebarkan hoaks, atau konten yang tidak bertanggung jawab dan bersifat propaganda, sehingga dapat menggiring opini publik dan menggerakan massa.

Melihat fenomena hoaks yang kian marak ini, literasi digital menjadi penting untuk menangkal informasi atau berita bohong yang dapat menimbulkan fitnah dan kekacauan. Literasi digital ini nantinya mampu mengarahkan masyarakat untuk tetap cerdas bermedsos, dengan soft approac dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang fonomena hoaks di era millenial ini, membuka pikiran betapa bahayanya hoaks ini, serta memberikan pengetahuan literasi digital kepada masyarakat.

Gerakan literasi digital merupakan upaya menyadarkan masyarakat tentang pentingnya meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi untuk mengakses, menerima, menganalisis, serta mengevaluasi informasi dengan efektif. Dengan gerakan literasi digital ini, masyarakat dilatih untuk mengoptimalkan kebaikan dalam bermedsos, mengakses informasi atau berita dari media dari yang telah terverifikasi atau terdaftar di dewan pers. Serta tidak mudah menerima informasi yang datang dari perorangan atau kelompok, sebelum menguji kebenaran terhadap informasi tersebut.

Dengan begitu, masyarakat dapat memahami bagaimana hoaks diproduksi lalu disebarkan, serta pro aktif menekan konten hoaks dan menangkal propaganda yang berujung pada perpecahan atau dapat merugikan pihak lain.

Oleh karena itu, mengutip apa yang dikatakan Moh. Khoirul Abduh, M.Si selaku dewan penasehat Kedai Jambu Institute pada acara penutupan diklat jurnalistik kemarin, “Bahwasannya memberantas hoaks merupakan gerakan kita bersama, hari ini dan seterusnya, tidak ada lagi kompromi!. Jika tidak, kita akan menjadi golongan yang lemah dan selamanya kita akan termakan informasi bohong yang disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, yang hanya menguntungkan diri serta kelompoknya dan memecah belah kita. Maka dari itulah perlu adanya langkah preventif dari kita untuk meminimalisir atau bahkan memusnahkan hoaks.”

Meskipun hoaks saat ini telah merajalela dan susah terbendung, bukan berarti kita tidak bisa mencegahnya. Saya percaya kita dapat melawannya secara bersama, dengan cara bijak bersosmed, tidak mudah terprovokasi oleh broadcast yang tidak jelas sumbernya, serta mengklarifikasi atau selalu check and recheck tentang pesan yang belum tentu kebenarannya. Maka dengan langkah sederhana ini, walaupun hoaks juga tidak mudah sirna begitu saja, setidaknya kita telah melakukan langkah preventif terhadap virus yang membahayakan itu.

*) Kontributor PIJARNews.ID.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here