Beranda OPINI

OPINI

Dalam tiga bulan terakhir, publik  dipertontonkan perilaku yang menggelikan, lucu, aneh dan menggemaskan. Sederet peristiwa yang membuat otak ini mengkerut, simpang siurnya penerapan kebijakan mengenai PSBB. Pernyataan antar menteri dalam merespon persoalan  pandemic covid19 yang beraneka ragam. Hal itu menjadi tontontan yang menggelikan bagi masyarakat virtual maupun faktual.  Barangkali saat ini dalam konteks tertentu masyarakat kita tak lagi menempatkan pemimpin dan elit negeri ini sebagai patron dalam menyikapi berbagai permasalahan, termasuk dalam wabah covid-19. Alih-alih masyarakat akan meneladani pemimpinnya, justru pernyataan nyinyir  dan tidak ambil pusing dengan anjuran dan kebijakan pemerintah termasuk social distancing untuk melawan covid1-9

Kita bisa menyaksikan berbagai istilah yang membuat ruang-ruang virtual sesak dengan nada sarkasme, mulai dari istilah mudik dan pulang kampung, jangan takut kepada covid-19, tetapi takutlah kepada Allah Tuhan sang pencipta yang menciptakan virus, Mall buka kenapa Masjid ditutup, covid-19 adalah konspirasi komunis cina dan yahudi. Perbincangan tanpa kepastian dan kejernihan analisis ini merangsek dalam bilik dunia virtual yang tak terbendung sedikitpun. Melaju deras seperti air bah mencari celahnya

Adakah yang terhasut? banyak, adakah masyarakat yang yang serius menanggapi pernyataan tersebut? Tentu tidak sedikit, tetapi ada juga yang menanggapi biasa-biasa bahkan menggunakan sabda pamungkasnya Gus Dur, gitu aja kok repot.

Tentu peristiwa lucu, aneh kadang menjegkelkan yang dipertonkan oleh masyarakat Indonesia dari elit negeri sampai masyarakat akar rumput. Fatwa MUI, PBNU dan PP Muhammadiyah untuk solat di rumah dibantah. Dan mayarakat memaksakan diri untuk tetap berjemaah di Masjid, alasannya Masjid rumah Allah tidak mungkin covid 19 itu berani sama penciptnya, fatwa itu bukan agama, sehingga tidak perlu diikuti. Pernyataan itu benar, tapi menyesatkan.Dan pada gilirannya ada tiga orang Jemaah dari 170 orang  jemaah di Masjid Jamik Kebun Jeruk Jakarta Barat positif terkena covid-19. Sementara sisanya harus dikarantina (baca kompas: 27/3/2020)

Patronase elit terpental bersamaan dengan menggelindingnya waktu. Perilaku kontras antara kebijakan yang diambil dengan perilaku yang dipertontonkan ke publik menjadi  titik balik masyarakat untuk melawan kebijakan itu. Melawan covid19 dengan social distancing sementara tidak jarang para elit yang jistru membuat gaduh lantaran lelang konser  amal yang diprakarsai oleh BPIP (21/5/20) mudik atau pulang kampung dilarang tetapi bandara sesak dengan penumpang, bahkan 5000 TKA berasal dari Cina yang akan dipekerjakan di nikel di Konawe, Sulawesi Tenggara, dengan alasan tenaga kerja lokal dinilai tidak memiliki kemampuan. Sungguh sangat memperihatinkan di tengah wabah pandemic ini pemerintah menciderai dan menodai kebijakan yang dibikin sendiri. Meminjam Bahasa wakil Ketua Umum  Kadin Suryani Sidik Motik miris dan sedih disaat PSBB diberlakukan, masyarakat dilarang pergi mudik atau pulang kampung atau bepergian jika tidak mendesak, justru pemerintah mengundang TKA untuk bekerja (1/5/20)

Kita masih bersyukur memiliki Wali Kota seperti Zulkarnain Kadir yang dengan tegas melarang ada TKA memasuki Kendari selama wabah covid-19. Silahkan kalau mereka mau masuk lewat wilayah lain,” katanya dalam diskusi Polemik di Radio MNC Trijaya, Sabtu, 2 Mei 2020.

Kompleksnya permasalahan dan implementasi kebijakan untuk melawan covid-19 tentu tidak mudah, semuda membalikkan telapak tangan. Konflik kepentingan para elit negeri ini antara kepentingan rakyat banyak atau kepentingan dirinya dan kelompoknya sungguh menjadi pertikaian batin. Lebih-lebih ada sebagian menteri yang justru memiliki perusahaan tambang, penerbangan dan banyak perusahaan yang justru melahirkan conflict of interest itu. jika PSBB ini diberlakukan dengan waktu yang tanpa ujung, maka dipastikan kebangkrutan bagi menteri yang memiliki anekaragam bisnis tidak bisa dihindari. Dan pada akhirnya negara harus tunduk kepada kaum pengusaha agar kebijakan PSBB diberlakukan tetapi realitasnya banyak dilanggar. Realitas itulah yang membuat pemerintah dalam hal ini Presiden tak memiliki ketegasan bersikap dan bertindak kepada perusahaan yang tidak patuh dan taat kepada kebijakan yang diberlakukan

Aneka ragam peristiwa yang disuguhkan di ruang publik oleh perilaku elit dan masyarakat akar rumput semakin menegaskan wajah Indonesia yang bopeng, paradoks. Seperti mengurai benang yang kusut dan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Perilaku elit dan masyarakat akar rumput  menjadi bukti bahwa masyarakat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Begitu juga sebaliknya, elit negeri ini selalu mencurigai kepada perilaku masyarakatnya. Dilarang mudik dan pulang kampung, tetapi di sisi lain banyak masyarakat yang abai dan tidak mengindahkan larangan itu. Lantas bagaimana jika masyarakat sudah tidak percaya kepada pemimpin elit negeri ini karena kebijakannya berubah-rubah, begitu  juga dengan masyarakat yang susah diatur, (ngeyel:jawa) agar tunduk dan patuh kepada pemerintah untuk mematuhi protap covid-19. Maka bisa dipastikan kekacauan sosial tidak bisa dihindari. Masyarakat tanpa pemimpin dan pemimpin krisis legitimasi oleh masyarakat

Jika negara sudah diabaikan, aparatus negara dilawan oleh masyarakat. Tentu satu-satunya solusi adalah tampilnya organisasi sosial keagamaan yang mampu mengendalikan para jemaahnya. Kita sadari dan memahami bahwa elit keagamaan lebih bertaji fatwa dan anjurannya ketimbang organisasi politik di republik ini. Meskipun detik-detik ini banyak juga para jemaah yang tidak patuh terhadap kebijakan organisasi keagamaan yang sudah puluhan tahun menjadi tempat bernaung dan berkhidmat untuk mengabdi.

Beredarnya surat PP Muhammadiyah pada tanggal 14 Mei 2020 melarang  untuk melaksanakan solat Idul Fitri  di lapangan atau di Masjid Jika wabah covid-19 ini belum dinyatakan aman oleh pihak yang berwenang. Surat edaran itu dipertegas dengan Tausiah Ketua Umum Prof.Haedar Nashir dalam kajian webinar agar jemaah Muhammadiyah mengikuti kebijakan PP Muhammadiyah sebagai hasil ijtihad kolektif mengenai pelarangan solat idul fitri di lapangan atau di masjid semata-mata hifdun nafsi (menyelamatkan jiwa) yang lebih utama ketimbang solat sunnah sementara solat idul fitri bisa dilakukan di rumah masing-masing

Tentu himbauan Prof Haedar Nashir kepada para jemaahnya itu sebagai respon atas gejala yang tampak bahwa jemaah Muhammadiyah sudah mulai tidak tertib dan patuh terhadap kebijakan organisasi. sementara kekuatan Muhammadiyah itu terletak pada kekuatan struktur mulai dari Pimpinan Pusat sampai pada pimpinan ranting diseantaro negeri. Lantas termasuk mahluk apakah yang memiliki tabiat membangkang itu? wallahu a’lam bishowab

Penulis adalah Koordinator Kota (Koorkot) Program Kotaku Kota Surabaya dan Wakil Direktur Kedai Jambu Institute Jombang

 

Merawat Solidaritas, Menepis Bangkrutnya Persaudaraan

0
PIJARNews.ID - Munculnya gerakan perkumpulan Kajian Kebon Jambu (KKJ) yang kemudian melahirkan Kajian Kebon Jambu Institute (KJI), bukan karena kondisi latah atau lahir dalam ruang hampa, kelahirannya merupakan tuntutan sejarah. Banyak...

Islamic Study Club, Sebuah Ikhtiar Mencetak Generasi Khairu Ummah

0
LAMONGAN – Untuk memberikan manfaat pendidikan keagamaan yang sama antara para santri dengan masyarakat sekitar, Kyai Abdurrahman Syamsuri, pendiri Pondok Pesantren Muhammadiyah Karangasem, pada 16 Juni 1983 telah mendirikan suatu organisasi...

Luka Republik yang Terlupakan, Belajar dari Pikiran dan Gerakan Tan Malaka

0
Oleh: Nafik Mutohirin* “Ingatlah bahwa dari dalam kubur, suaraku akan terdengar lebih keras daripada dari atas bumi.” (Dari Penjara ke Penjara, jilid II) OPINI | PIJARNews.ID - Sorotan matanya begitu tajam, bicaranya...

Khazanah Islam, Perekat Umat

0
PIJARNews.ID-Perekat-perekat yang luar biasa, mampu menyedot ummat Islam di mana saja berada. Perekat-perekat itu bukan dibuat oleh pemerintah atau pengusa, sehingga mampu datangkan ummat Islam sedunia, dengan pengorbanan yang luar biasa....

Menjadi Pribadi yang Menunduk

0
PIJARNews.ID - Syukur merupakan ungkapan yang berasal dari seorang hamba kepada Tuhannya, Allah subhanahuwa ta’ ala, yang telah memberikan banyak kenikmatan. Pemberian Allah memang bermacam-macam dan berbeda dari satu hamba ke...

COVID-19 dan Sekarat Sosial

0
PIJARNews.ID - Kebijakan social distance akibat darurat Covid-19, merupakan bentuk tanggung jawab negara untuk memproteksi warga negara dari wabah yang menakutkan itu. Semua pihak harus terlibat dan mendukung tanpa syarat. Tunduk...

Varian Ideologi Keberagamaan Di Muhammadiyah: Dari Moderat hingga Radikal

0
Oleh: Sholihul Huda, M.Fil.I* Ideologi keberagamaan di Muhammadiyah tidak tunggal (variatif). Secara organisasi, ideologi Muhammadiyah adalah tunggal sebagaimana dalam buku-buku rumusan ideologi Muhammadiyah. Namun dalam proses pemahaman terhadap rumusan ideologi terdapat beragam...

Khazanah Islam, Rasulullah Pun Berpeluh Sakit Saat Sakaratul Maut

0
PAGI itu, walau langit mulai menguning tapi burung-burung enggan mengepakkan sayapnya. Pagi itu, Rasulullah dengan suara lemah memberikan Khutbah terakhir pada umatnya: "Wahai umatku kita semua berada dalam kekuasaan Allah .....

Islamisme, Dehumanisasi dan “Stomme Hond”

0
Oleh: Hasnan Bachtiar* PIJARNews.ID - Istilah stomme hond bermakna sangat buruk. Yakni “anjing goblok.” Kata-kata ini hanya diungkapkan sebagai kecaman, ketika seseorang merasa terlalu jengkel. Di Indonesia, kecaman ini diteriakkan oleh seorang profesor...

Siapa Yang Salah Minum Obat?

1
PIJARNWES.ID - Membaca status Moh Naufal Dunggio yang viral, dengan tudingan bahwa Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah salah minum obat, rasanya risih, sedih sekaligus aneh. Risih karena tudingan dalam bentuk status di...